
Wicaksono terdiam. Ia tak menyangka kalau istrinya akan langsung membeberkan sebuah fakta tentang Tiara yang ia simpan rapat-rapat selama ini.
Untuk beberapa detik semua orang terkejut dengan perkataan Wana tapi tak lama kemudian keadaan kembali kasak-kusuk ketika Jaka membuka mulutnya," Saya tidak masalah kalau Tiara bukan anak kandung dari Pak Wicaksono karena saya tetap akan menikah dengannya!" lanjut pria itu dengan penuh percaya diri.
Wicaksono tersenyum. Itu berarti ia selamat dari masalah ini. Ia akan memaafkan Wana dan tidak akan memarahi perempuan itu.
"Tidak! Saya yang tidak setuju!" ucap Wana dan Yudhistira bersamaan. Semua orang kembali kaget. Dan memberikan perhatian pada dua orang itu.
Yudhistira dengan cepat mempersilahkan ibu Tiara yang bicara lebih dulu.
"Saya tidak setuju kalau Tiara menikah dengan pak Jaka. Saya tidak rela anak saya menjadi istri ke empat bapak yang lebih cocoknya jadi cucu saja," ucap Wana dengan tegas.
"Wana! Sejak kapan kamu berubah pikiran seperti ini hah?!" ucap Wicaksono dengan marah.
"Sejak Tiara pergi dari rumah Pa. Kasihan masa depannya. Pokoknya saya tidak setuju titik!" tegas Wana untuk pertama kalinya dalam hidupnya selama menikah dengan Wicaksono.
"Berani kamu melawan aku hah?!" teriak Wicaksono seraya melompat ke arah perempuan itu untuk memberinya pelajaran tapi Yudhistira dengan cepat menahan tangannya.
"Hentikan pak! Kenapa bapak ingin menyakiti semua anggota keluarga bapak hanya karena ingin memaksakan pernikahan ini?" ucap Yudhistira dengan suara tenangnya.
"Jangan ikut campur kamu. Ini adalah urusanku dan keluargaku. Kamu tahu apa?!" teriak Wicaksono dengan wajah yang sudah sangat merah. Ia benar-benar telah malu dan tidak bisa lagi mengangkat wajahnya di depan semua tamu yang hadir.
"Ini akan menjadi urusan aku karena aku akan menjadi suami Tiara pak."
Jaka terkekeh dengan perkataan Yudhistira. Ia langsung menghampiri pria itu kemudian menepuk pundaknya.
"Wicaksono mempunyai sangkutan yang sangat banyak padaku. Jika Tiara tak saya nikahi maka kucuran dana pada perusahaannya akan saya tarik dan dalam waktu hitungan detik ia akan hancur. Jadi apa yang kamu punya untuk membayar semua itu hah?!"
Wicaksono terdiam dan menundukkan wajahnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada semua orang sekarang.
"Ayo katakan, apa kamu sanggup mengangkat wajah calon mertuamu dengan itu semua?!" tanya Jaka lagi dengan tatapan tajam pada Yudhistira.
"Modal tampang keren tapi tak punya uang untuk apa hah?!" lanjut pria tua itu dengan telunjuk mengarah ke wajah Yudhistira yang nampak sudah mengerti dengan masalah yang sebenarnya terjadi.
"Hey! Kenapa kamu diam hah?!"
"Anak pengangguran yang hanya bermodalkan cinta bisa apa? Apa kamu bisa membahagiakan Tiara di tengah masalah keuangan orangtuanya heh?!" Jaka terus memojokkan Yudhistira.
__ADS_1
Semua orang menahan nafas dan kemudian Kasak-kusuk berbisik-bisik. Wana sendiri hanya bisa menangis. Ia tak menyangka kalau perusahaan almarhum suaminya akan hancur ditangan pria yang telah menikahinya itu.
"Berapa?" tanya Yudhistira setelah lama terdiam.
"Hahaha! Kamu tanya berapa?" tawa Jaka pecah.
"Dengarkan baik-baik. Ini bukan harga sebuah lolipop yang bebas kamu tanyakan berapa. Jadi kalau kamu tidak mampu kamu tidak perlu mempermalukan dirimu di sini."
Dengan perasaan yang sangat sombong Jaka mengusir Yudhistira dengan telunjuknya.
"Katakan saja berapa jumlahnya pak Jaka yang terhormat. Aku akan mundur dengan terhormat jika tak mampu membayarnya," ucap Yudhistira dengan tegas. Kakinya bagaikan terkena lem dan tak ingin pergi dari tempat itu apapun yang terjadi.
"Hahaha! Kamu sombong juga ya!" cibir Jaka dengan ujung bibir terangkat. Yudhistira tidak menjawab tapi hanya berusaha untuk tenang. Sejujurnya, ia juga khawatir kalau jumlah atau nominal yang akan disebutkan oleh pria tua itu tak bisa ia siapkan.
"Harga rumah ini pun tak akan sanggup untuk melunasinya anak muda. Jadi kalau kamu bisa menghitung jumlahnya hitunglah sendiri di dalam otakmu itu."
"Katakan saja sekarang pak Jaka. Tidak usah berputar-putar. Karena tanganku sudah sangat gatal ingin memberikan uang yang kamu maksudkan."
"Hahaha! Ternyata kamu lebih sombong dari yang saya pikirkan," balas Jaka dengan sangat menyebalkan. Rasanya semua orang juga sudah tidak sabar mendengar kisah akhir dari pembicaraan ini.
"2 Milyar rupiah sudah termasuk bunganya," jawab Wicaksono. Semua orang yang hadir di dalam ruangan itu langsung mengarahkan pandangannya kepada pria itu dengan nafas tertahan.
"Ya, itu betul. 2 Milyar rupiah. Dan kalau kamu mempunyai uang sebanyak itu sekarang juga maka saya dan keluarga akan pergi dari tempat ini," jawab Jaka masih dengan dada membusung sombong.
Semua orang terdiam dengan nafas tertahan. Rasanya para tamu dan semua keluarga yang hadir seakan sedang menonton acar tv secara live.
"Baiklah. Aku akan siapkan berkas berupa kuitansi pembayaran agar semuanya jelas dan juga aman," ucap Yudhis santai.
"Heh! Saya mau sekarang! Tidak pakai nanti!" ucap Jaka dengan perasaan mulai khawatir. Ia takut kalau pria itu benar-benar mempunyai uang dan membayarnya saat ini juga.
"Iya pak. Bapak duduk dengan tenang, sementara saya siapkan proses pembayarannya." Sekali lagi Yudhistira tampak sangat tenang.
"Kamu beneran punya uang sebanyak itu?!" tanya Wicaksono tak percaya.
"Tentu saja pak. Aku tidak akan mungkin berani menyetujui ini kalau tidak mempunyai uangnya," jawab pria itu dengan wajah setenang telaga.
Wicaksono dan Wana saling berpandangan. Mereka berdua tampak tegang.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku hanya butuh bertemu dengan Tiara sekarang pak Bu untuk beberapa detik saja," ucap Yudhistira meminta izin. Bibirnya pun mengulas senyum untuk menenangkan semua orang.
"Ya, silahkan. Dia pasti ada di kamarnya," ucap Wana.
"Mohon maaf pak. Tolong siapkan kuitansi pembayaran sementara aku menemui Tiara. Dan nomor rekening pak Jaka," ucap Yudhistira kemudian meninggalkan ruangan itu dibawah tatapan tegang orang-orang.
"Hey! Jangan bilang kamu mau lari ya!" teriak Jaka mencibir. Yudhistira hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya ke kamar Tiara. Gadis yang akan ia bayar 2 Milyar itu.
"Hey! Ngapain kamu masuk kamar aku?!" teriak Tiara kaget. Ia yang sedang duduk santai di depan cermin riasnya tak percaya dengan keberadaan Yudhistira di dalam kamarnya.
Pria tampan itu tersenyum tipis dengan tatapan tak lepas pada perempuan cantik yang sedang memakai pakaian yang sangat feminim, yaitu kebaya modern.
"Aku mau numpang Toilet boleh?" ucap Yudhistira masih dengan senyum diwajahnya.
"Ish! Kirain udah pulang. Eh, numpang Toilet kok disini sih? Di luar 'kan banyak!" ucap Tiara dengan bibir mencebik.
"Udah! Bilang saja mana toiletnya. Aku kebelet nih!"
Tiara langsung berdiri dari duduknya dan menunjukkan sebuah ruangan di pojok kamar nya.
"Makasih!" ucap Yudhis dan langsung meninggalkan Tiara yang nampak bingung. Sesampainya ia di dalam ia pun menghubungi Yudha sang kakak lewat panggilan video.
Yudha yang baru saja kembali dari nirwana bersama dengan Selfina tampak kaget dengan panggilan Video dari sang adik.
Ia pun segera menutup tubuh istrinya dengan selimut kemudian menerima panggilan itu.
"Apa apa Di. Tumben video call?" tanyanya.
"Aku lagi ada masalah kak. Aku butuh uang 2 M padahal aku hanya punya 1 M di rekening aku. Tolong bantu aku sekarang ya," ucapnya memohon.
"Hah? Uang sebanyak itu untuk apa?" tanya Yudha dengan tatapan serius.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊