Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 166 Suami Terpaksa


__ADS_3

"Ngapain masuk ke kamar aku?" tanya Yundha saat melihat Dewa sudah berada di dalam kamarnya. Ia baru keluar dari kamar mandi langsung bersiap kembali ke dalam tempat itu lagi.


Dewa tersenyum dengan wajah santai. Ia tidak menjawab pertanyaan perempuan itu dan malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang sang istri.


"Sekedar kamu tahu kalau kita nikah hanya karena janin yang sudah tumbuh di dalam kandungan aku ya, jadi jangan berharap lebih," ucap perempuan cantik itu dengan bibir mencibir.


"Kamu gak boleh macam-macam dan hanya boleh tidur di lantai atau di sofa!" lanjutnya. Dewa pura-pura tidak mendengar. Ia hanya menatap langit-langit kamar itu dengan senyum diwajahnya.


Mana mungkin aku mau tidur di lantai atau di sofa sedangkan ranjang ini sangat muat untuk kita berdua.


"Hey! Kamu dengar aku gak sih?" tanya Yundha semakin kesal karena pria itu samasekali tidak merespon apa yang dikatakannya. Ia pun menghampiri ranjangnya dan menatap tajam pria yang sangat dibencinya itu.


"Ranjang ini milik aku. Dan aku tidak mau tidur bersamamu. Jadi pikirkan caranya agar aku bisa nyaman di dalam kamarku sendiri."


Dewa menyeringai dan langsung menarik tubuh Yundha ke atas ranjang dan menindihnya.


"Hey! Apa yang kamu lakukan hah?! Lepaskan aku brengsek!" teriak Yundha berusaha untuk memberontak tapi tangannya tak bisa bergerak bebas. Tangan besar dan kuat suaminya sudah menahannya agar ia tidak bisa bebas.


"Dengarkan aku wahai istriku yang cantik, aku mengucap ijab kabul dengan niat karena Allah. Aku menikahimu bukan hanya karena ingin bertanggung jawab tapi karena aku memang mencintaimu dan ingin membangun keluarga denganmu," ucap pria itu dengan tatapan tajam pada perempuan yang telah sah sentuh itu.


"Tapi aku tidak mencintaimu dan semakin membencimu brengsek!"


"Oh ya? Sayangnya aku tidak percaya itu Yundha binti Abdullah. Aku tahu kalau sebenarnya kamu justru sangat mencintaiku."


"Cih! Percaya diri sekali!" Yundha mencibir dan langsung membuat Dewa semakin senang. Dengan cepat ia menyentuhkan bibirnya dan menyelipkannya di sela-sela bibir perempuan yang sangat dicintainya itu.


Cukup lama ia mengulum bibir agak tebal, kenyal, dan sangat manis itu meskipun Yundha samasekali tidak membalasnya.


"Bagaimana? Apakah kamu belum juga mau mengakui kalau kamu mencintaiku? Ciumanku sangat nikmat bukan?" ucap Dewa seraya mengecup rahang indah sang istri sampai ia terus bergerak ke bawah ke leher jenjang Yundha.


"Aku mencintai pria lain dan ingin menikah dengannya setelah anak ini lahir," ucap Yundha membalas dengan berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap sentuhan bibir suaminya.

__ADS_1


Hatinya mungkin menolak tapi tubuhnya merespon dengan sangat baik. Ia menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara-suara lucknut.


"Aku mencintai kak Aril!"


Dewa menghentikan aksinya. ia merasakan dadanya sesak bagaikan tertindih batu besar.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Hem?" geram Dewa dengan hati mendidih marah tapi ia berusaha untuk santai. Mata elangnya menatap mata Yundha yang juga sedang menatapnya.


Sungguh, ia tak menyangka dimalam pertama pernikahannya, istrinya berani mengatakan mencintai pria lain.


Double Kill!!


Itu sangat menyakitkan..


"Aku sadar sesadar-sadarnya pak Sadewa Pranawijaya! Jadi sekarang kamu harus menjaga jarak dengan aku. Aku tak mau mood ku hancur dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anakmu yang ada di dalam kandunganku ini."


Yundha berucap seraya mendorong tubuh atletis suaminya agar ia bisa lolos dari kuasa pria itu.


Tubuh Dewa kembali ke posisi semula. Ia tidak melawan maupun bertahan.


Yundha segera turun dari ranjangnya dan segera berpakaian kemudian keluar dari kamarnya. Ia sedang tak ingin berdua dengan pria itu di dalam kamar meskipun ia sangat ingin membaringkan tubuhnya yang lelah.


Perempuan bersuami itu segera menuju ke dapur untuk mencari makanan, rasanya ia baru merasakan lapar dan ingin memakan mie instan dengan rasa coto Makassar. Ia ingin memakan makanan pedas untuk mengimbangi rasa kesalnya pada keadaan.


Sementara itu, Dewa hanya berdiam di dalam kamar seraya menatap ke sekeliling kamar itu dan mempertimbangkan perkataan sang istri tentang tidur di sofa atau di lantai.


"Hem, enak saja ingin membuat punggungku jadi sakit sedangkan ia mau tidur di atas ranjang," ucapnya dengan bibir terangkat.


Karena lelah, akhirnya ia mengganti pakaiannya dengan sebuah kaos dan celana pendek saja kemudian segera naik ke atas ranjang dan tidur.


Urusan pengaturan yang dikatakan oleh istrinya itu adalah urusan belakangan. Ia perlu tidur karena selama tiga hari ini ia tidak cukup waktu untuk beristirahat karena sibuk mengurusi pernikahan dadakan ini.

__ADS_1


"Lho, kok makan sendiri saja sayang?" tanya Merry yang menemukan sang putri makan di ruang makan sendirian.


"Suamimu belum makan juga kayaknya deh," lanjut perempuan paruh baya itu seraya duduk di samping Yundha.


Yundha tidak menjawab tetapi malah serius memakan mie instannya. Nampak sekali kalau ia sangat menikmati sensasi rasa pedas pada makanan berbentuk panjang-panjang itu.


Merry hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak nyaman. Ia tahu kalau pernikahan ini adalah pernikahan terpaksa dan Yundha masih belum bisa menerima keadaan yang sangat tiba-tiba ini.


"Wah kayaknya sedap banget tuh. Boleh ikutan gak Nda?" ucap Selfina yang langsung membuat Merry dan Yundha kaget. Perempuan hamil itu datang dengan air liur yang sudah hampir menetes di mulutnya.


"Boleh mbak. Masih ada lho satu bungkus." Yundha menjawab seraya menunjuk ke arah lemari dapur. Ia sedang tak ingin diganggu untuk makan.


"Asyik. Aku udah ngiler banget deh makan mie instan," ucap Selfina dan langsung menyalakan kompor dan mulai merebus mie instan yang sama rasa dengan yang dimakan oleh Yundha.


"Kalian ya, padahal makanan banyak kok malah makan mie instan," ucap Merry seraya memperhatikan kehebohan dua orang perempuan yang sedang hamil muda itu.


"Sabar ma. Itu demi membuat malam ini panjang dan lama seperti mi instan itu hehehe," kekeh Yudha gembira. Selfina mau melayaninya sampai pagi asalkan ia sudah kenyang.


"Dewa gak ikutan makan ma?" tanya Yudha seraya menarik kursi dan ikut duduk di samping sang mama.


"Mungkin udah tidur. Kasihan juga dia yang mau ngurus semua acara ini padahal kamu juga ikutan berpesta."


"Ya memang tugasnya ma. Kan dia yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi," timpal Yundha dengan wajah kesal.


"Hush! Gak baik lho ngomong seperti itu. Dewa itu adalah suamimu sayang." Merry langsung menegur sang putri yang tiba-tiba jadi punya penyakit baru, yaitu kurang bisa menghormati orang lain apalagi suaminya sendiri.


"Terpaksa ma," balas Yundha kemudian meninggalkan ruangan makan itu menuju kamarnya. Merry dan Yudha saling berpandangan kemudian sama-sama menghela nafas mereka masing-masing.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2