
"Kak, kenapa kita kesini?" tanya Yundha saat Aril mengarahkan kendaraan yang mereka tumpangi ke area Restoran yang pernah mereka kunjungi saat itu.
"Aku suka tempat ini meskipun kamu pernah meninggalkan aku di sini waktu itu."
Deg
Yundha tertampar. Ia semakin merasa sakit hati.
"Ayo kita turun. Aku sudah lapar. Habis acara di rumah sakit aku sengaja gak makan karena ingin makan sama kamu," ucap Aril seraya membuka pintu mobil itu untuk Yundha.
Gadis itu hanya menghela nafasnya. Ia sungguh enggan memasuki tempat ini yang merupakan milik Dewa si penjahat wanita. Tapi kalau ia menolak, apa Aril akan sakit hati lagi?
Ia pun turun dengan senyum terpaksa diwajahnya. Untuk menyenangkan pria itu ia akan ikut.
"Selamat siang, selamat datang dan silahkan masuk," sapa seorang pelayan yang membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Terima kasih. Saya sudah booking tempat privat atas nama Aril Oesman."
"Ah iya pak. Silahkan mari ikuti saya," ucap seorang pelayan yang lain yang bertugas mengantar para pengunjung untuk menempati tempat sesuai pilihannya.
Aril dan Yundha pun melangkahkan kaki mereka menuju sebuah tempat yang agak ke dalam dan belum pernah mereka tempati waktu itu.
"Tempatnya bagus bukan?" ucap Aril saat mereka berdua duduk. Di depan mereka tersaji pemandangan alam buatan yang sangat indah hingga setiap pengunjung yang datang akan merasa seperti sedang berada di alam luar.
"Iya kak. Sangat bagus," jawab Yundha dengan mata tak lepas dari pemandangan air terjun ditengah-tengah gunung buatan di dalamnya. Untuk sesaat rasa galau dan khawatirnya terasa terobati.
Ia merasa sangat nyaman berada di tempat itu.
"Perancangnya pasti suka menjelajah alam, iyyakan?"
"Iya kak. Orangnya pasti bebas dan tak terikat." Yundha menjawab dengan membawa khayalannya ke sebuah desa yang menampilkan panorama seperti itu.
Rasanya ia pernah mengunjungi tempat seperti ini, tapi entah dimana. Ia lupa.
__ADS_1
"Kamu mau pesan makanan apa?"
Yundha tersentak dari lamunannya. Ia pun memandang Aril yang sedang memandangnya.
"Aku sedang puasa kak. Maaf," ucapnya seraya melipat tangannya didepan dadanya.
"Ya Allah Yundha. Kenapa kamu tidak ngomong? Kamu 'kan bisa menolak waktu aku ajak kesini?"
"Gak apa-apa kok. Kak Aril makan aja. Aku gak kenapa-napa."
"Tapi 'kan?"
"Kak Aril katanya lapar. Jadi makan aja. Aku temenin."
"Baiklah," ucap pria itu pada akhirnya. Ia pun memesan makanan yang ia ingin makan meskipun ia sudah tidak berselera lagi.
"Saat itu kamu belum menjawab pertanyaan aku Nda. Jadi sekarang, aku ingin mengulanginya lagi. Maukah kamu menikah denganku?"
Mau kak. Aku sangat mau.
"Kamu dengar aku 'kan Nda?"
Yundha mengangkat wajahnya dan menatap pria tampan yang selama ini ia sayangi dan juga ia rindukan.
"Aku gak pantas bersama dengan kak Aril. Carilah gadis lain yang sepadan dengan kakak."
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku sudah lama menyukaimu Nda. Apa masalahnya? Keluarga kita juga sudah saling mengenal."
Yundha menggelengkan kepalanya dengan tangis yang semakin pecah.
"Gelar dokterku ini ingin aku persembahkan untukmu. Aku belajar jauh di Harvard karena kamu Nda. Kamu pernah bilang ingin punya pendamping seorang dokter. Makanya itu aku ingin mewujudkan mimpimu."
"Tapi aku tidak bisa kak. Aku bukan Yundha yang dulu. Aku sekarang berbeda."
__ADS_1
"Tidak. Kamu masih Yundhaku yang sama. Kamu tidak pernah berubah kecuali semakin cantik dan sangat menarik."
"Aku..."
"Aku kenapa?" Aril memburu.
Aku sudah tidak perawan lagi kak. Dan juga sekarang mungkin lagi hamil.
Ingin rasanya ia mengatakan hal itu tapi lidahnya terasa keluh. Ia merasa tak sanggup mengatakannya.
"Yundha, ada apa? Apakah aku masih pantas kamu jadikan tempat untuk berbagi?"
Yundha kembali menggelengkan kepalanya. Hanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya yang bisa menjawab betapa sakitnya hatinya saat ini.
"Baiklah, mungkin aku memang tak pernah ada di dalam hatimu Nda. Tak apa. Tapi aku masih akan menunggumu sampai kapanpun."
"Tidak kak. Carilah gadis lain. Jangan karena aku kamu jadi tidak bisa melangkah ke depan."
"Aku tidak bisa karena cuma kamu yang aku niatkan menjadi istriku."
"Kita tidak akan bahagia kak. Aku..."
"Kamu kenapa hah? Kamu membuat aku khawatir tahu gak?" Aril mulai nampak tak sabar. Emosinya seperti nya sedang dipermainkan oleh Yundha.
"Aku bisa membahagiakan kamu Yundha. Cintaku banyak untukmu. Lalu apa lagi? Apakah memang ada orang lain di hatimu?"
Bukan di hatiku kak, tapi di perutku.
Ingin rasanya ia mengatakan hal itu, tapi ia benar-benar tak bisa mengatakannya. Ini adalah aib yang sangat memalukan dirinya dan juga keluarganya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊