Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 244 Pemeriksaan Tingkat Tinggi


__ADS_3

"Sekarang mas?" tanya Tiara dengan perasaan yang sangat gugup. Entah kenapa ia jadi sangat takut sekarang.


Bagaimana kalau aku benar-benar tidak perawan karena pria brengsek itu?


Apa yang akan dikatakan oleh mas Yudhis?


Apa ia akan menceraikan aku saat ini juga?


"Kenapa diam saja? Kamu yang buka atau aku?" ucap Yudhis seraya mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Aku akan buka sendiri mas, tapi kamu jangan katakan apapun ya," ucap Tiara dengan gugup.


Yudhis tersenyum samar.


Memangnya apa yang akan aku katakan selain memuji kecantikan tubuhmu Tiara, ucapnya membatin.


Tiara membuang nafasnya pelan. Ia tak bisa lagi menolak maupun lari. Ia harus patuh pada apa saja perintah suaminya. Yang penting ia tidak dikembalikan ke rumah orangtuanya sebagai seorang janda yang tak bersegel lagi. Atau keluarganya akan membayar denda 2 M.


Pakaiannya pun pelan-pelan ia buka di depan mata suaminya yang hanya menggunakan handuk saja karena baru selesai mandi.


Dalam hitungan detik, tubuh Tiara pun polos tanpa sehelai benang pun. Yudhistira menelan salivanya kasar. Juniornya langsung bereaksi dari dalam handuknya.


"Cepol rambutmu agar aku bisa bebas memeriksa semuanya. Apakah kamu benar-benar belum tersentuh oleh pria itu atau tidak!" titah Yudhis dengan suara bergetar. Sungguh, ia merasa gugup juga melihat tampilan indah di hadapannya.


"Iyaaa mas," ucap Tiara dengan tangan mulai bergerak keatas untuk menggulung rambut nya yang sebatas bahu.


Yudhistira tak berkedip. Rasanya ia sudah tak sabar untuk menyentuh maha karya Tuhan yang sangat indah itu.


"Apa lagi mas," ucap Tiara polos. Ia menunggu apa lagi perintah pria itu.


"Kamu tetap berdiri di situ dengan pose seperti tadi. Tangan berada di atas kepala sembari menggulung rambutmu," ucap Yudhis seraya melangkahkan kakinya mendekat kearah Tiara yang hampir membuatnya gila.


Tiara sekali lagi melakukan apa pun perintah suaminya. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas hingga posenya itu benar-benar membuat Yudhis gemetaran. Ia tak berkedip.

__ADS_1


Tiara benar-benar sangat cantik. Ia sangat sempurna. Kulitnya putih dan juga sangat mulus.


Tubuhnya montok pada tempat yang tepat, ucapnya dalam hati.


Rasanya ia sangat ingin melompat dan menelan tubuh istrinya itu bulat-bulat.


"Mas, masih lama ya?" tanya Tiara dengan suara manjanya. Perempuan itu sepertinya mulai mengerti tatapan suaminya pada dirinya.


"Masih Tiara, aku 'kan baru melihat dan mengamati, aku belum menyentuh dan memeriksa bagian luar dan juga bagian terdalam dari dirimu," jawab pria itu seraya mulai menyentuhkan jari-jarinya pada wajah sang istri tercinta.


Tiara menutup matanya saat ibu jari tangan kanan suaminya itu bergerak sangat pelan dan lembut di atas permukaan bibirnya. Sedangkan tangan kiri pria itu meraih pinggang ramping Tiara dan mengelusnya dengan sangat lembut.


Tiara merasa geli dan juga gelisah. Ia merasakan kulitnya meremang sempurna. Gelenyar aneh pun terasa berkejaran ke seluruh pembuluh darahnya.


Tubuh mereka saat ini sudah tak berjarak. Mereka menempel sangat rapat. Bibir Yudhis pun sudah memfungsikan dirinya. Ia mengulum bibir Tiara dengan sangat lembut kemudian menuntut.


Tiara terbuai dan dengan malu-malu membalas. Mereka berdua pun saling mengulumm sampai keduanya harus saling melepaskan karena kehabisan nafas.


"Bibirmu sangat manis sayangku," bisik Yudhis kemudian mengecup leher jenjang perempuan cantik itu dengan perasaan tak terbendung.


Setelah itu bibir Yudhis turun ke bawah dan singgah pada dua buah gunung kembar yang sejak tadi menggoda dirinya. Di tempat itu ia singgah untuk minum sampai puas.


Tiara merasakan tubuhnya menegang dan kemudian meleleh bagaikan jelly saat bibir dan lidah Yudhis mempermainkan pucuk merah mudanya.


"Mass uggh aaakh," dessahnya sangat merdu. Tangannya yang sejak tadi berada di atas kepalanya tak tahan untuk turun dan meremass rambut suaminya. Yudhis tak menghentikan aksinya. Tangannya sendiri meremas bokong sang istri dan kadang menepuknya.


"Massss, aaakh," dessah Tiara lagi saat lidah pria itu semakin tak terkendali mempermainkan pucuk pink yang masih sangat kecil itu.


"Mass aku uuggh," panggil Tiara semakin tak tahan.


Yudhis pun segera mengangkat tubuh sang istri ke atas ranjang karena kaki perempuan itu tak kuasa lagi untuk berdiri. Ia lemas dan rasanya ingin luruh ke lantai.


"Pemeriksa selanjutnya sayang," bisik pria itu seraya membuka paha mulus perempuan cantik itu saat ia merasa kalau istrinya itu sudah mulai siap menerima si junior.

__ADS_1


Tiara reflek menolak. Ia bertahan tak ingin membuka kedua pahanya karena takut dan juga malu.


"Kenapa sayang?" tanya Yudhistira dengan tatapan lurus kedalam mata indah perempuan cantik itu.


"Aku 'kan memeriksa bagian ini sayang. Semuanya 'kan udah selesai. Jadi sekarang giliran yang ini," ucap Yudhis seraya menggerakkan tangannya mengelus lembut paha istrinya itu agar lebih rileks.


Ia pun menciumnya dengan penuh perasaan agar Tiara mau membukanya. Tiara akhirnya membukanya dan langsung membuat si junior mengamuk dari dalam handuknya. Benda tumpul itu seakan menemukan pasangannya. Ia pun semakin besar, kuat, dan panjang.


Segera ia membuka handuknya untuk memberikan waktu pada benda itu melakukan pemeriksaan tingkat lanjut.


"Apa itu mas?" tanya Tiara tersentak saat benda itu menyapa pintu dirinya dengan sangat lembut.


"Itu adalah alat yang digunakan untuk mengecek keperawanan mu sayang."


"Apakah aku bisa menyentuhnya mas?"


"Bisa sayangku."


"Apa semacam injeksi atau suntikan mas?" tanya Tiara lagi saat merasakan ujung benda itu sudah mulai menyapanya dengan bermain-main di sana.


"Iya. Tapi ini tidak tajam sayang. Bendanya tumpul."


"Gak sakit dong mas," ucap Tiara lagi seraya menikmati perkenalan awal yang dilakukan oleh si injeksi tumpul.


"Sakit banget kalau kamu masih perawan tapi kalau udah gak perawan ya sisa enaknya saja," jawab Yudhis seraya mulai mendorong pelan si junior untuk lebih ke dalam gua dalam, sempit, gelap, dan panas sang istri.


Tiara langsung melotot kaget. Ia merasa perih dan juga penuh sesak pada bagian area pribadinya dibawah sana.


"Aaakh mas! Hentikan. Ini sakit sekali!" Perempuan itu berteriak kesakitan.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2