
Selfina membuka matanya dan langsung bangun saat bunyi sholawat dari arah corong Masjid sudah kedengaran. Ia memang tidak tidur dengan baik hingga mendengar bunyi sedikit saja ia sudah langsung terbangun.
Selesai berwudhu' ia pun berpamitan pada Ardina dan Praja yang juga sudah terjaga di subuh hari itu.
"Bu Ar, aku mohon pamit setelah sholat subuh ya. Aku masih harus kembali ke rumah untuk mengganti pakaian sebelum berangkat ke perusahaan."
"Iya Sel. Makasih banyak ya. Kedatanganmu di sini sungguh memberikan dukungan moril pada kami." Ardina menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Iya. Bu. Insyaallah habis kerja aku akan kesini lagi."
"Gak usah repot-repot Sel. Kamu juga butuh istirahat lho. Dan suami kamu? Apa kalian baik-baik saja?"
Selfina tersenyum malu-malu lalu menjawab," Iya Bu. Alhamdulillah. Kami baik. Mama Merry udah tahu pernikahan kami."
"Oh syukurlah kalau begitu, semoga kalian bisa menjalankan ini dengan baik."
"Iya Bu. Aku berangkat ya. Semoga ibu Ar dan dedek bayi sehat-sehat selalu. Assalamualaikum."
"Aamiin ya Allah. Waalaikumussalam. Hati-hati lho ya. Nyetirnya gak usah buru-buru. Terlambat pun tak masalah yang penting selamat."
"Iya Bu."
Selfina pun langsung keluar dari ruangan perawatan itu dibawah tatapan Ardina dan juga Praja Wijaya.
"Semoga Selfina juga segera dapat momongan ya kak," ucap Ardina tanpa mengalihkan pandangannya dari arah pintu dimana Selfina keluar.
"Gak boleh hamil. Mereka 'kan harus sembunyi-sembunyi dulu." Praja menjawab dengan tangan mengelus lembut lengan sang istri.
"Eh iya ya. Tapi sampai kapan? Selfina anak tunggal dan sudah pasti kedua orangtuanya sudah sangat menginginkan cucu."
"Ah entahlah. Biarkan Yudha yang mikirin itu. Kenapa kita yang harus memikirkannya."
"Ah ya. Betul juga kak. Aku saja hanya bisa memberikan dua cucu untuk orang tua kita padahal kita berdua sama-sama anak tunggal," ucap Ardina dengan wajah yang tiba-tiba berubah sedih.
"Sayang, gak usah dibahas. Kamu hidup dan ada bersamaku sampai saat ini sudah lebih dari cukup lho. Ini nikmat yang sangat luar biasa. Kita sudah punya dua pasang putra dan putri, insyaallah selama kita merawat dan mendidiknya dengan baik, mereka sudah merupakan anugrah yang sangat banyak dan melimpah."
"Iya kak. Sekarang aku ingin bangun," ucap Ardina.
"Lho, emangnya gak apa-apa sayang?" tanya Praja khawatir. Ia sungguh khawatir kalau istrinya itu bergerak dari tempat tidurnya. Ia sangat ngeri membayangkan istrinya yang penuh darah saat itu.
"Gak apa-apa. Kata dokter aku 'kan harus bergerak meskipun pelan agar peredaran darah lancar."
"Oh gitu ya?"
__ADS_1
"Iya kak. Meskipun masih terasa sakit ya aku harus bergerak sedikit-sedikit."
Praja pun membantu sang istri untuk bangun. Dan menuntunnya untuk turun dari ranjang beberapa menit kemudian kembali berbaring lagi.
"Nah istirahatlah. Aku akan sholat dulu sekalian lihat dedek," ucap Praja.
"Salam untuk dedek ya kak. Katakan padanya aku ingin memeluknya," balas Ardina tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang. Akan aku sampaikan kalau kamu, aku, David, dan semua orang menginginkannya kuat dan semangat." Praja tersenyum kemudian meraih bibir istrinya dan mengulumnya sangat lembut.
"Aku mencintaimu Ar, terimakasih banyak," bisik Praja dengan penuh perasaan.
"Iya kak. Aku juga."
Mereka berdua pun saling bertatapan kemudian kembali saling menautkan bibir mereka lagi dan lagi.
"Sholatlah kak dan doakan aku dan dedek lekas sembuh," ucap Ardina seraya mengelus bibir suaminya yang masih sangat basah oleh salivanya.
"Iya. Kalian adalah tanggung jawabku dan akan selalu ada dalam doaku," balas Praja kemudian segera pergi dari ruangan itu. Ia tak lupa membangunkan sang papa untuk berjamaah di masjid.
🌹
"Selamat pagi pak," sapa Maya pagi itu dengan senyum cerahnya. Ia menyambut sang Presiden direktur dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Apa bapak perlu dibuatkan kopi?" tanya Maya menawarkan diri. Ia pikir pria itu sedang butuh minuman yang membuatnya bersemangat.
Yudha tidak menjawab dan langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangannya. Rasa kesalnya pada sekretaris pribadinya sepertinya belum juga reda sejak semalam. Dan pagi ini Selfina pun bahkan belum datang.
Pria itu memandang meja kerja sang istri dengan tarikan nafas beratnya. Berbagai macam rasa berkecamuk di dalam dadanya tapi ia berusaha untuk tenang.
Ia pun segera menuju mejanya sendiri kemudian membuka laptopnya. Ia lebih baik menyibukkan dirinya untuk bekerja daripada memikirkan ketiadaan Selfina sampai saat ini.
Selfina tiba di depan Maya dengan nafas terengah-engah. Ia berlari sejak keluar dari mobilnya sampai ia tiba di tempat itu.
"Selamat pagi mbak May!"
"Selamat pagi mbak. Kirain gak datang lho, aku udah niat mau melayani pak presdir sebagai sekretaris pribadi lho mbak," balas Maya dengan ujung bibir terangkat.
Selfina pura-pura tidak peduli. Ia hanya menghela nafasnya berusaha untuk tenang dan tidak panik karena terlambat.
"Apa pak Presdir sudah ada di dalam mbak May?" tanyanya pada gadis itu.
"Udah lama tuh. Mbak Selfina gak lihat waktu ya, kalau mbak itu udah sangat terlambat." Maya mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Pak Presdir cari aku gak tadi?"
"Gak tuh. Ngapain? Jangan sok jadi sekretaris hebat dong sampai mau dicariin sama Presdir."
"Hahaha, iya betul banget kamu mbak May. Aku harusnya sadar diri. Ngapain pak Presdir nyariin aku ya," ucap Selfina tertawa garing.
"Ish!"
Maya kembali mencibir. Sedangkan Selfina langsung tertawa lagi.
"Aku masuk ya mbak May. Dan ingat untuk tidak membiarkan tamu untuk masuk siapapun itu."
"Eh? Kamu sudah mau menyaingi perintah pak Yudha ya?"
"Iya dong. Aku 'kan sekretaris pribadi yang tahu apa yang ia inginkan. Jadi perkataannya harus aku kopi paste ya. Mbak Maya mengerti banget 'kan apa yang aku maksudkan?" ucap Selfina dengan senyum lebar diwajahnya.
Maya mendengus lagi. Ia ingin membalas Selfina tapi pesawat telepon line 1 dari presiden direktur langsung berbunyi. Jadi ia pun mengabaikan sekretaris di hadapannya itu dan mengangkat pesawat telepon itu.
"Selamat pagi pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Suruh sekretaris pribadi saya untuk masuk!" titah Yudha dari balik sambungan telepon.
"Ah iya pak."
"Sekarang!"
"Iya pak. Segera dilaksanakan."
Tuuut
Maya memandang wajah Selfina dengan tangan masih memegang gagang telepon.
"Mbak Selfina dengar sendiri 'kan? Pak Presdir meminta anda masuk sekarang."
"Ah iya makasih banyak ya mbak May. Aku masuk sekarang, hihihi." Selfina langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu dengan tawa cekikikan.
"Ish! Semoga kamu diberikan sanksi yang berat!" Ucap Maya dengan tatapan kesalnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1