Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 144 Kemarahan Yudha


__ADS_3

Dewa merasakan bibirnya tak berhenti berkedut dan tersenyum. Ia terlalu senang dengan lolosnya kerjasama perusahaannya dengan Mr. Tanaka dari Jepang dan juga perusahaan bertaraf internasional Maher Group.


Mobilnya kini ia arahkan ke arah kampus Yundha. Ia sangat merindukan gadis cantik itu dan sudah tak sabar untuk berjumpa.


"Uggghh!"


Pria itu menyugar rambutnya dengan dada berdesir hebat. Ia merasa semakin mencintai gadis cantik itu. Senyumnya, marahnya, dan tubuhnya yang sangat indah benar-benar membuatnya gila.


Apa pun alasannya akan ia paksa gadis itu untuk menikah karena Ia sangat yakin kalau Yundha sudah mengandung bayinya saat ini.


"Mobilnya kemana?"' ucapnya saat menyusuri parkiran kampus dan tidak menemukan mobil gadis itu di sana.


"Apa mungkin ia sudah pergi bersama dengan pria itu?" tanyanya lagi pada hembusan angin.


"Oh tidak!" Ia berubah frustasi.


Ia pun melihat ke sekeliling area kampus. Tak ada seorangpun pria yang mirip dengan pria yang ia lihat tadi pagi bersama dengan Yundha.


"Sial!" geramnya kesal.


"Sepertinya aku masih harus mencarinya sampai ke ujung dunia!" ujarnya seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia akan menuju ke Cafe gadis itu lagi.


Sementara itu di tempat yang lain,


Yundha dan Aril berjalan tergesa-gesa ke dalam ruangan di sebuah rumah sakit. Maya telah menghubunginya kalau Selfina, sekretaris sang kakak sedang sakit karena ia tidak tahu mau menghubungi siapa lagi.


"Halo mbak May, gimana kabar mbak Sel?" tanyanya setelah sampai di ruangan dimana mamanya juga ternyata sudah ada di sana.


"Alhamdulillah, udah siuman," jawab Maya dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Ia baru saja mendengar kalau ternyata Selfina sedang positif hamil. Dan yang lebih mengejutkan adalah ternyata perempuan itu adalah istri sah dari seorang Yudha Abdullah.


Double Kill!


Ia merasa malu dan juga merasa sangat bersalah pada perempuan yang telah ia tuduh macam-macam bersama dengan para karyawan yang lainnya.


Dan sekarang, rasanya ia ingin kabur dan bersembunyi disebuah lubang yang sangat kecil karena takut.


"Makasih mbak May, karena udah ngantar mbak Sel kemari," ucap Yundha yang dibalas oleh gadis itu dengan senyum meringis. Yundha segera menghampiri ranjang Selfina sedangkan Maya segera melipir pergi karena tak mau berlama-lama di ruangan itu.


Ia sakit hati dan juga malu. Dan mulai hari ini ia ingin segera keluar dari perusahaan itu dan mencari kesibukan lain saja yang lebih menjanjikan.


"Assalamualaikum ma," sapa Yundha pada Merry, sang mama. Perempuan paruh baya itu tersenyum kemudian menjawab, "Waalaikumussalam."


"Mbak Sel, gimana kabarnya ma?" tanyanya seraya memandang wajah pucat kakak iparnya itu. Selfina hanya tersenyum diantara rasa sedihnya karena telah dituduh macam-macam oleh semua karyawan di perusahaan.


"Alhamdulillah mbak mu positif. Mama bentar lagi punya cucu dan kamu akan jadi tante." Merry menjawab dengan wajah gembira. Ia sudah lama ingin mempunyai cucu.


"MasyaAllah. Alhamdulillah ya ma. Selamat Mbak." ucap Yundha dengan senyum diwajahnya tapi sayangnya dadanya tiba-tiba berdebar takut. Entah kenapa ia jadi teringat malam naas itu.

__ADS_1


"Mama sangat senang tapi kesal sama kakakmu Yudha. Ini gara-gara dia nih yang menyembunyikan pernikahan mereka. Sekarang apa akibatnya. Semua karyawan di perusahaan menuduh mereka tinggal bersama tanpa nikah!" Wajah perempuan itu yang tadinya senang kini berubah kesal dan marah.


"Menantuku hamil malah dikira hasil dari perbuatan yang tidak benar. Mama kesal sama mereka dan terutama kakakmu yang tidak mau mendengarkan mama!" Merry terus saja mengoceh dan membuat Yundha justru semakin takut dan gelisah.


Gadis itu takut mendengar kata hamil. Apalagi di luar nikah.


Sudah hampir sebulan kejadian itu. Dan ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


Oh ya ampun, tanggal berapa ini?


Gadis itu langsung melihat ke arah Aril yang sejak tadi diam saja di dalam ruangan perawatan itu.


Ia panik dan langsung melihat catatan di dalam handphonenya.


Tubuhnya gemetar.


Bulan lalu ia mengalami menstruasi pada tanggal 13 Juli dan sekarang sudah tanggal 15 Agustus. Ia belum haid.


Terlambat dua hari!


Aku tak pernah begini. Biasanya malah maju sehari.


"Ma, aku keluar sebentar ya, aku belum makan," ucapnya meminta izin. Aril yang melihatnya nampak panik langsung menghampirinya sekaligus menyapa ibu dari gadis itu.


"Assalamualaikum tante," ucapnya menyalami Merry.


"Iya tante. Saya yang kurang sopan karena tidak menyapa Tante terlebih dahulu."


"Eh gak apa-apa. Kamu kapan datang dari LN?"


"Dua hari yang lalu tante. Sekarang mau nemenin Yundha untuk makan siang dulu. Nanti kami balik kok," senyum Aril.


Merry mengangguk maklum. Ia pun mempersilahkan dua orang muda-mudi itu untuk keluar.


Sedangkan Selfina masih nampak sangat sedih. Ia jadi tidak gembira dengan berita kehamilannya itu.


"Sel, ucapkan Alhamdulillah sayang. Segala yang terjadi itu sudah diatur oleh Tuhan. Pasti ada hikmah dibalik semua kejadian."


Merry mengelus lembut kepala sang menantu dengan senyum diwajahnya. Akan tetapi Selfina justru semakin takut dan khawatir.


"Bagaimana dengan posisi mas Yudha di perusahaan ma? Ia melanggar aturan perusahaan dan itu tidak baik untuk karirnya," ucap Selfina dengan airmata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.


"Astaghfirullah, kamu gak usah memikirkan hal itu. Perusahaan itu sebenarnya hampir jadi milik keluarga kita seluruhnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir sayang. Semua akan baik-baik saja."


"Bagaimana kalau mas Yudha marah ma?" tanya Selfina lagi dengan wajah takut.


"Marah? Mama yang akan memarahinya kalau ia berani marah padamu. Tersenyumlah sayang. Semua akan baik-baik saja. Kasihan janinmu kalau kamu bersedih terus."

__ADS_1


"Iya ma," ucap Selfina seraya menyusut airmatanya.


🌹


Sementara itu di tempat lainnya.


Yudha memasuki ruangan kerjanya untuk bertemu dengan Selfina sebelum menuju aula. Rencananya ia ingin memberi tahu kabar gembira ini pada istrinya itu sebelum mengumumkan aturan baru perusahaan. Juga, ia ingin mengumumkan pernikahannya dengan perempuan cantik itu yang selama ini sembunyikan.


Ruangan itu kosong. Selfina tidak ada di dalam tempat itu begitu pun dengan Maya yang selama ini duduk di depan ruangannya.


"Pada kemana mereka?" ucapnya seraya meraih handphonenya dari dalam tas kecil yang baru ia simpan di atas meja kerjanya.


"Astaghfirullah, ternyata aku belum aktifkan handphonenya dari tadi," ucapnya.


"Telepon dari Mama, Maya, dan bahkan Yundha, ada apa ini? Kenapa semua memanggil sampai sebanyak ini?" gumamnya seraya menghubungi Selfina untuk yang pertama kalinya tapi ternyata handphone istrinya itu malah berbunyi di dalam tasnya di dalam ruangan itu.


"Ya Allah kok, gak diangkat sih?" geramnya kesal. Merry yang ia hubungi juga tidak mengangkat teleponnya.


Pria itu jadi mondar-mandir sendiri dengan perasaan kesal dan khawatir.sampai seorang staf memanggilnya kalau semua karyawan sudah hadir dan menunggunya di aula.


Ia pun menyimpan handphonenya dan segera menuju aula. Telinga dan matanya ternyata cukup peka dari bisik-bisik dan juga beberapa selebaran dan foto mesra dirinya dengan Selfina di sebuah tempat.


Ia yakin sekali, pasti terjadi sesuatu di perusahaan itu sebelum ia datang. Dan sekarang ia sangat marah dan juga kesal karena sudah bisa menebak kalau ketiadaan istrinya di tempat itu pasti karena berita ini.


Ia pun langsung berdiri di atas podium dengan ekspresi wajah datar. Dengan tegas, ia mengumumkan tentang suksesnya kerjasama dengan perusahaan terbesar di Jepang yang akan memberikan banyak income untuk perusahaan.


Semua orang bertepuk tangan dengan gembira karena itu berarti mereka juga akan mendapatkan keuntungan.


Selanjutnya, ia pun menunjuk layar besar di sampingnya agar semua karyawan melihat tentang peraturan baru di perusahaan itu, terkhusus tentang bisa tidaknya menjalin hubungan serius dalam hal ini menikah dengan sesama karyawan.


Semua orang bertepuk tangan lagi. Ada banyak diantara mereka yang bernafas lega karena juga sudah lama menyembunyikan hubungan pernikahan mereka.


"Dan selanjutnya saya ingin berterimakasih sebanyak-banyaknya pada siapa saja yang telah membuat dan menyebarkan berita tentang saya dan Selfina."


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menahan nafas. Mereka bisa melihat ada kemarahan tertahan pada wajah sang presiden direktur.


Mereka jadi sibuk menebak-nebak siapa pelaku yang pertama menyebarkan berita panas itu di perusahaan.


Pria itu pun meminta operator untuk menyambungkan handphonenya dengan LCD proyektor agar semua orang bisa melihat buku nikah mereka berdua. Prosesi pernikahannya beberapa bulan yang lalu di kampung perempuan itu.


"Saya tak perlu lagi menjelaskan banyak hal di sini. Saya cuma meminta pertanggung jawaban kalian yang telah mengganggu ketenangan istri saya!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2