
"Heh, kamu pikir aku ini gadis apaan? Jangan kebanyakan minum ya, sampai lupa dunia nyata!" tantang Yundha dengan bibir mencibir. Ia meradang. Sungguh ia sangat kesal dengan pria sok percaya diri seperti pria dihadapannya ini.
Tampan tapi tak bermoral, apa gunanya!
Cih
Gadis itu melanjutkan gerutunya di dalam hati.
"Aku sedang butuh bantuanmu saat ini juga atau minuman keras ini jadi masalah yang sangat besar untukmu," ucap pria asing itu tak perduli. Ia bahkan berdiri dari duduknya dan langsung menelpon seseorang yang merupakan seorang anggota kepolisian.
Yundha menganga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Baru lima menit pria itu menelpon polisi, tiba-tiba saja orang yang ditelpon itu sudah datang.
"Kamu sengaja menjebak aku?" tanya Yundha dengan mata memicing.
"Menurutmu?" pria itu balik bertanya.
"Terimakasih banyak pak atas kerjasamanya. Sesungguhnya, saya hanya sedang berpatroli di sekitar tempat ini dan ternyata ada laporan kalau ada praktek penyalahgunaan narkoba dan minuman keras di Cafe ini," ucap seorang pria yang menggunakan seragam polisi.
"Jadi tentu saja saya langsung kemari. Anda berdua telah membantu keamanan negara!"
Hey apa-apaan ini?!
Yundha merasakan tubuhnya gemetar. Ia merasakan takut yang teramat sangat. Tuduhan pria asing ini tidak main-main. Narkoba dan minuman keras!
Catat!
Benda itu adalah benda yang sangat berbahaya dan akan mendapatkan konsekuensi hukum yang sangat berat.
Ya Allah, mimpi apa aku semalam kenapa bisa mendapatkan cobaan seperti ini. Ucap gadis itu dalam hati dengan perasaan campur aduk.
Dengan membaca bismillah, ia pun berucap, " Baiklah, aku akan membantumu."
"Begitu kan lebih baik. Jadi aku tidak perlu menggunakan cara seperti ini," ucap pria itu dengan senyum diwajahnya.
"Terimakasih pak polisi. Kami berdua hanya bercanda, jadi mohon maaf lanjutkan tugas anda pak." Pria itu pun meminta pada sang polisi itu pergi dari tempat itu.
"Ah iya baiklah. Lain kali kalau bertengkar dengan istri jangan bikin acara prank seperti ini ya pak. Bisa-bisa saya yang akan menuntut anda balik," ucap polisi itu seraya mengedipkan matanya sebelah.
Oh ya Allah, ternyata mereka berdua bekerja sama dengan sangat baik. Geram Yundha dengan hati mendidih tapi ia tidak berani berkata-kata lagi.
Ia tak bisa berbuat banyak karena ia cuma sendiri di Cafenya itu. Berteriak pun tak akan ada yang membantunya. Tempat itu agak jauh menjorok ke dalam karena mempunyai halaman yang sangat luas.
__ADS_1
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Aku akan bantu menutup Cafe mu dan mobilmu simpan di sini saja. Kamu masih akan kembali bekerja esok pagi," ucap pria itu dengan santai.
Yundha sendiri sudah tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk melawan. Ia pun mengikuti kemauan pria itu kemana saja.
"Hanya malam ini 'kan?" tanya Yundha saat mereka sudah meninggalkan Cafe itu.
"Hem, ya. Tapi sebelumnya aku harus membawamu mengganti pakaian dulu di sebuah tempat. Kamu tidak keberatan 'kan?"
Yundha mendengus kesal. Apa iyya dia masih punya hak untuk keberatan? Ia rasa tidak.
"Aku Sadewa Pranawijaya, itu harus kamu tahu karena malam ini kamu harus menjadi istriku di depan semua orang," ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan malam yang cukup ramai malam itu.
Yundha mencibir. Rasanya ia tak perlu mengetahui nama pria itu karena ia sangat kesal dan benci pada keadaan ini.
"Kita harus tampil mesra seperti layaknya pasangan suami istri pada umumnya," ucap Dewa dengan santai.
Yundha membuang wajahnya ke samping seraya menghela nafasnya kasar.
"Jangan marah. Aku akan membayarmu mahal dalam hal ini tapi ingat untuk berakting sangat natural."
Gadis itu pun langsung menatap Dewa dengan tatapan membunuh.
"Kamu pikir aku ini gadis apaan? Aku bukan orang yang tak punya uang dan juga matre ya. Jadi jaga mulutmu kalau ngomong!" teriaknya kesal.
"Sialan kamu!"
"Hey, jangan mengumpat. Istri Sadewa tak boleh berkata kasar. Ia harus jadi istri yang cantik, lemah lembut dan juga berpendidikan."
Yundha mengepalkan tangannya kuat-kuat saking marahnya. Ia berjanji akan membalas pria itu jika ia mendapatkan kesempatan.
Dewa tersenyum samar. Entah kenapa ia merasa bahwa gadis yang ada di sampingnya ini benar-benar sangat cocok ia jadikan sebagai istrinya selamanya.
Mobil itu pun melambat. Dan berhenti di depan sebuah salon yang menyediakan fasilitas butik juga. Tempat itu tenyata masih buka di penghujung waktu seperti saat ini.
Mereka berdua turun dengan segera. Dewa yang sudah jadi langganan tetap tempat itu langsung mendapatkan pelayanan yang cukup eksklusif.
"Ini istriku. Dandani dia dengan elegan tidak pakai lama!' titahnya pada beberapa karyawan yang menyambutnya dengan hangat.
"Duh, mas Dewa, si Jessica udah gak memuaskan ya, kok datang-datang langsung bawa istri, UPS maaf mas." Karyawan keceplosan tapi tak membuat Dewa dan juga Yundha terpengaruh. Mereka adalah pasangan baru bertemu dan tidak punya hubungan hati.
"Ini sih gak pake lama. Orangnya udah cantik dan elegan gini. Kayaknya cuma moles sedikit deh," lanjutnya dengan senyum diwajahnya. Ia sudah cukup akrab dengan Dewa jadi sangat sering bercanda.
__ADS_1
"Terserah. Yang penting gak cukup 30 menit. Aku lagi buru-buru," ucap Dewa mengibaskan tangannya. Mereka pun mulai bekerja dengan cepat. Meminta Yundha memilih pakaian yang ingin digunakannya kemudian memoles sedikit wajah gadis itu dengan sentuhan yang flowless saja.
"Pilihan mbak ini kok elegan banget sih, gak salah milih istri nih mas Dewa," ucap sang karyawan memuji dari hati. Ia yakin latar belakang gadis ini bukanlah dari keluarga biasa. Ia sangat pandai memilih gaun yang sangat cocok dengan tubuhnya yang langsing tapi berisi.
"Dasarnya cantik ya, diberi sentuhan sedikit saja semuanya sudah langsung wah," ucap sang karyawan dengan tatapan kagum pada penampilan Yundha malam itu.
"Terimakasih mbak," ucap Yundha ramah. Meskipun kesal ia merasa sangat senang juga melihat penampilannya malam ini. Ia merasa sangat cantik dan juga berbeda. Selama ini ia hanya menginjak salon untuk perawatan yang sederhana seperti untuk rambut dan juga tubuhnya. Tak pernah sekalipun berdandan yang cukup ekstrim karena ia tipe gadis santai.
Dewa merasakan dadanya berdebar kencang saat melihat penampilan Yundha malam itu. Ia tersenyum penuh makna. Gadis itu memang sangat cantik dan ia tidak salah memilih untuk membalas dendam pada Jessica.
"Ayo, kita harus berada di sana tepat sebelum pukul 12." Dewa membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu yang ia sendiri tidak tahu siapa namanya.
Yundha menurut dengan berusaha untuk lebih santai. Ia ingin menstimulasi otaknya agar ia tidak marah dan tentunya menikmati permainan ini.
Setidaknya ini adalah hiburan ditengah sibuknya ia dengan mata kuliah dan juga pekerjaan di Cafe.
Mobil itu pun melaju membelah jalanan ibukota menuju sebuah apartemen mewah di kawasan elite di kota itu. Dewa tak berhenti tersenyum membayangkan bagaimana rupa Jessica saat ia membawa kado istimewa di hari kelahiran perempuan pengkhianat itu.
"Untuk apa kita ke tempat ini?" tanya Yundha dengan perasaan tak nyaman. Ia memandang bangunan berlantai ratusan itu dengan dada berdebar.
"Aku ingin membuat kejutan pada seseorang. Jadi, kamu harus berakting sangat bagus disini. Kamu harus mesra padaku, okey?" ucap Dewa seraya meraih tangan halus Yundha dan membawanya memasuki lobi.
Gadis itu tersenyum meringis. Apartemen ini adalah tempat dimana kakaknya Yudha juga tinggal.
Bagaimana kalau mereka bertemu? Apa kata sang kakak?
Oh tidak!
Apa yang akan dikatakannya?
Apa aku harus kabur?
Atau meminta tolong pada sang kakak agar ia tidak ikut terlibat jauh dengan permainan konyol pria ini?
๐น๐น๐น
*Bersambung.
Like dan komentar dong ๐คญ
Nikmati alurnya dan happy reading ๐. Adakah sedekah Vote? Bunga atau kopi gak apa-apalah.
__ADS_1
Iklan juga boleh๐คญ. Ish ngemis ๐ ๐ญ