
Hari berkabung telah selesai. Semua anggota keluarga Maher Abdullah sudah bersiap kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Tak terkecuali dengan Yudha, pria itu pagi-pagi sekali sudah siap untuk berangkat ke perusahaan.
Di depan kaca ia mematut dirinya. Memastikan kerapihan pakaiannya dan kesiapannya untuk memulai hari ini. Setelah selesai dengan rutinitasnya itu, ia pun menuju kamar sang mama untuk membicarakan hal yang sangat penting.
Perlahan ia buka pintu kamar perempuan paruh baya itu setelah mengetuknya beberapa kali.
"Yudha, udah mau berangkat kerja ya?" tanya sang mama yang sedang duduk di atas sajadahnya. Nampak sekali kalau perempuan itu baru saja melakukan ibadah pagi, yaitu sholat Dhuha.
"Iya ma," jawab Yudha seraya ikut duduk di depan sang mama.
"Ma, aku ingin mengatakan sesuatu, apa boleh?" lanjutnya seraya meraih tangan sang mama dan menciumnya.
"Katakan saja, ada apa?"
"Pengakuan aku waktu itu kalau telah menikahi Selfina adalah benar adanya, ma."
Merry nampak kaget tapi langsung tersenyum. Ia sebenarnya sudah menduganya setelah melihat tingkah mereka berdua beberapa hari ini.
"Kenapa kamu menikahi anak orang sembunyi-sembunyi nak?"
"Mama, aku sangat mencintai Selfina dan ingin memilikinya tapi aturan Perusahaan tak mengizinkan kami bersatu jika kami berdua masih berada pada naungan yang sama," jawab Yudha dengan tatapan lurus kedalam mata sang mama.
"Tapi kenapa kamu juga menyembunyikannya pada mama juga? Apa menurutmu mama ini orang lain?"
"Maafkan aku ma. Aku salah. Aku pikir mama akan lebih setuju jika Selfina dengan Yudhi. Makanya aku tidak meminta izin padamu," jawab Yudha merasa tak nyaman. Ia sampai mencium tangan perempuan yang telah melahirkannya itu berkali-kali.
"Hum, tidak seperti itu nak. Kamu tahu 'kan Yudhi sejak kecil sudah tantrum dan suka mengeluarkan emosi yang berlebih jika menginginkan sesuatu. Untuk itu mama selalu berusaha menjaga perasaannya agar ia tetap tenang dan merasa dicintai."
"Tapi mama tidak menyangka kalau dengan Selfina, ia benar-benar sangat cocok. Dan mama minta maaf karena kurang bisa membaca situasi yang terjadi hingga membuatnya jadi berharap lebih pada perempuan itu."
"Mama gak salah kok. Aku yang salah karena gak jujur selama ini pada mama dan semua orang. Andai sejak dulu aku mengakui hubungan ini mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya," ucap Yudha dengan helaan nafas beratnya.
Ya, selama beberapa hari ini, hubungannya dengan Selfina semakin menjauh saja. Yudhi sama sekali tidak memberinya kesempatan berdua dengan istrinya di rumah itu. Hingga akhirnya ia terpaksa menyuruh perempuan yang sangat ia cintai itu untuk pulang saja dan tidak perlu berada di rumah itu selama masa-masa berkabung mereka.
__ADS_1
Ia tak rela melihat Yudhi begitu gencar mendekati istrinya sedangkan ia harus mengalah pada sang adik karena menjaga hubungan tetap baik dan aman di dalam rumah itu.
Dan sekarang, Selfina tak pernah menerima panggilannya karena marah padanya. Ia diabaikan dan mungkin sudah dianggap mati juga oleh perempuan yang telah dinikahinya itu.
"Mama minta maaf atas nama adikmu," ucap Merry setelah lama terdiam.
"Yudhi mendapatkan penyakit ini sejak ia berusia 3 tahun. Awalnya ia sangat sehat dan aktif seperti anak yang lain. Tapi kondisi psikis mama waktu itu berubah buruk saat papamu menikahi sahabat mama yaitu mama Hanum. Mama jadi menumpahkan kekesalan dan kemarahan mama pada Yudhi yang akhirnya berakhir buruk pada dirinya. Ia jadi ikut menjadi pemarah dan tantrum." Merry menyusut airmatanya yang tiba-tiba saja keluar dari kelopak matanya.
"Mama tidak tahu harus bagaimana menyikapi sikap adikmu ini Yudh. Ia menemukan sosok Selfina sebagai sosok yang sempurna dimatanya hingga ia tidak ingin melepaskannya untuk mu nak," lanjutnya dengan dada sesak.
Yudha menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia juga khawatir tentang hal ini. Di rumah ia tak bebas menunjukkan hubungannya dengan Selfina sedangkan di Perusahaan juga seperti itu. Ia jadi serba salah dibuatnya.
"Mama, boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Yudha dengan suara pelan.
"Katakan saja nak," jawab Merry tersenyum.
"Aku ingin pindah ke apartemen saja bersama Selfina."
"Mama, plis." Yudha melipat tangannya di depan dadanya memohon.
"Aku merasa berdosa pada Selfina yang telah aku nikahi tapi aku tidak bisa membahagiakannya ma," ucap Yudha dengan wajah memelas.
Pria itu tahu kalau ini mungkin akan sangat menyakiti hati sang mama tapi apa boleh buat, ia tak mungkin se atap dengan adiknya yang juga mencintai perempuan yang sama dengannya.
Merry terdiam.
"Kamu 'kan bisa berhubungan dengan istrimu dengan sangat baik selama di perusahaan Yudh. Mulai pagi sampai malam kalian selalu bersama. Kalau di rumah 'kan kalian sembunyi-sembunyi saja dari Yudhi," ucap sang mama kekeh.
"Mana bisa seperti itu ma, Yudhi tak pernah memberiku kesempatan bersama istriku sendiri. Itu gak benar ma," balas Yudha mulai kesal.
"Bagaimana kalau Yudhi curiga dan mencarimu?" tanya Merry.
"Mama, biarkan saja. Ia harus diajarkan untuk tidak memikirkan hal yang bukan miliknya," tandas Yudha dengan wajah yang masih kesal.
__ADS_1
"Yudhi sudah dewasa. Dan itu tak boleh lagi dibiarkan. Mama jangan sampai lebih merusaknya dengan hal yang seperti ini," jelas Yudha dan langsung mencium kembali punggung tangan sang mama kemudian berucap, "Aku berangkat ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Merry menjawab kemudian merenungi perkataan sang putra.
Begitu sepinya rumah ini jika Yudha dan Selfina tidak tinggal di rumah ini.
Aaa Yudhi, kenapa kamu bisa mencintai istri dari kakakmu sendiri?
Perempuan itu pun membuka mukenanya dan melipatnya bersama dengan sajadahnya. Ia harus keluar dari kamarnya dan mencari cara untuk mengalihkan perhatian dan perasaan Yudhi dari Selfina.
"Kalian sarapan berdua saja?" tanyanya pada Yudhi dan Yundha yang ia lihat sedang menghadapi makanan di meja makan.
"Iya ma," jawab Yundha seraya melayani sang mama.
"Kak Yudha hanya minum susu aja. Gak lapar katanya," lanjut gadis itu.
"Oh gitu, lah trus? Yudhi kok udah rapih, mau kemana?" Merry menatap putra keduanya itu dengan tatapan menelisik. Pasalnya untuk pertama kalinya ia melihat putranya itu tampil dengan setelan kerja yang lengkap.
"Aku juga ingin kerja di perusahaan ma," jawab Yudhi tersenyum lebar.
"Uhuk Uhuk Uhuk!" Merry langsung terbatuk-batuk.
"Aku keren kan ma? Aku juga bisa lebih baik daripada kak Yudha. Jadi jangan ragukan itu ma," ucap Yudhi lagi dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
"Ah ya, mama bangga padamu." Merry tersenyum tak nyaman.
Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dan sekarang ia merasakan sebuah firasat buruk akan terjadi kalau Yudhi berani muncul di Perusahaan dan menggangu hubungan Yudha dan juga Selfina.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong 🤭
__ADS_1