
Hari persalinan pun semakin dekat. Perut Selfina tentunya sudah semakin membesar begitupun dengan sang adik ipar, yaitu Yundha. Kehamilan mereka hanya berjarak 2 bulan saat ini.
Shania dan Gani sudah semakin sering datang untuk berkunjung ke rumah kediaman keluarga besannya itu. Mereka sudah tidak sabar menunggu kelahiran sang cucu.
Merry dan Shania tak berhenti memberikan petuah-petuah pada ibu hamil itu agar menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berserat tinggi agar dia dan bayinya sehat.
"Kamu tetap harus rajin makan sayuran agar produksi ASI mu nanti lancar." Seperti itulah kalimat yang selalu keluar dari mulut dua mamanya itu.
Atau, dengan cara seperti ini."Setiap pagi harus rajin jalan pagi dan kalau tidur jangan telentang!"
Seperti biasa ia hanya mengiyakan yang pada akhirnya ia akan mendapatkan teguran lagi tidak seperti Yundha yang memang selalu taat. Selfina paling suka tidur dengan cara telentang dan juga lebih suka tiduran setiap Yudha sudah berangkat ke perusahaan.
"Ma, aku kok merasa sesak ya, dan terasa ada yang menendang dibagian bawah perut aku," ucap Selfina pagi itu saat ia baru saja mengantar suaminya sampai di depan pintu.
"Kayak gimana rasanya sayang?" tanya Merry dan langsung menghampiri sang menantu.
"Sesak sampai bagian atas sini ma," jawab perempuan itu seraya menunjukkan bagian bawah dadanya.
"Kalau lagi hamil besar seperti ini emang rasanya sesak karena bayi yang ada di dalam perut kamu itu sudah semakin besar sayang." Merry mengelus lembut lengan sang menantu untuk memberinya ketenangan.
"Ah iya ma. Beberapa hari ini rasanya agak lain. Apakah karena aku udah mau lahiran ya ma?"
"Mungkin juga sayang. Perkiraan hari lahirannya memangnya kapan?"
"Tanggal 20 bulan ini ma."
"Itu berarti udah hampir sayang, sekarang 'kan tanggal 9. Kamu rajin-rajinlah berjalan-jalan santai dan juga banyak berdoa pada Tuhan semoga lahirannya normal."
"Iya ma."
"Hari ini aku ada jadwal periksa kandungan sih ma. Tapi mas Yudha gak bisa nemenin karena ada acara penting di perusahaan. Jadi aku perginya sama Yundha ma."
"Wah. Bagus itu, sekalian anak itu ikutan periksa kandungan."
"Iya ma. Kalau begitu aku bersiap dulu ya, Yundha bentar lagi jemput," ucap Selfina pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Iya. Mama juga rindu sama Yundha. Tumben anak itu betah banget di rumah mertuanya sampai gak pernah muncul."
Selfina hanya tersenyum kemudian betul-betul pergi dari ruangan itu agar pas Yundha datang ia sudah siap.
__ADS_1
"Aku antar ya," ucap Dewa tanpa mau melepaskan tubuh istrinya yang sangat cantik itu.
"Gak usah mas. Aku 'kan pergi sama mbak Selfina. Gak enak ah kalau mas ikut."
"Lho gak apa-apa. Aku jadi sopir saja," ucap Dewa dengan wajah serius.
"Mas, aku juga bisa nyetir. Jadi kamu gak usah Ikut."
"Kenapa sih? Aku kan mau tahu keadaan bayi kita. Dan aku gak akan pernah setuju kamu menyetir dalam keadaan perut besar seperti ini."
Yundha akhirnya mengalah. Ia pun akhirnya mengiyakan suaminya itu untuk ikut menemani mereka ke klinik.
Mereka pun berangkat untuk menjemput Selfina. Setelah itu mereka akan kontrol kehamilan di sebuah klinik langganan mereka.
Selfina bersama dengan Yundha memasuki ruangan pemeriksaan yang bernuansa putih-putih itu dengan membiarkan Dewa menunggu di depan.
"Aku sering banget sesak dokter," ucap Selfina menyampaikan keluhannya. Dokter itu pun tersenyum kemudian meminta perempuan itu untuk berbaring di atas ranjang.
"Maaf ibu ya, saya periksa keadaan dedek bayinya."
"Iya dokter."
"Ah iya Bu dokter. Miring ke kiri dan ke kanan susah banget."
Sang dokter hanya bisa tersenyum maklum. Semua ibu hamil akan merasakan kesusahan saat-saat sudah berada pada trimester ketiga ini."
"Nah sekarang kita USG dulu ya bu keadaan perut dan juga dedeknya," ucap sang dokter seraya mengoleskan krim seperti jelly pada permukaan perut Selfina.
"Wah, ibu Sel. Mohon maaf ya," ucap sang dokter saat melihat tampilan dari dalam layar. Tadinya ia sudah tahu hal ini tapi ia ingin membuktikannya dengan melihatnya sendiri.
“Normalnya, kepala bayi telah memasuki panggul saat mendekati waktu persalinan. Dan ibu bisa melihat posisi calon bayinya sekarang."
Selfina dan Yundha sama-sama melihat ke layar monitor tiga dimensi itu.
"Lho, aku kok jadi takut ya dokter?" ucap Selfina dengan wajah khawatir.
"Apakah itu yang dinamakan sungsang dokter?" tanya Yundha dengan tatapan lurus pada layar monitor.
"Ya itu adalah kondisi bayi sungsang."
__ADS_1
Yundha dan Selfina tercekat. Mereka jadi sangat khawatir mendengar berita ini.
"Pada umumnya ibu baru bisa merasakan bahwa ibu mengalami kehamilan sungsang ketika kehamilan sudah mencapai usia di atas 36 minggu. Salah satu tanda bayi mengalami posisi tersebut adalah bila ibu merasakan kondisi kepala bayi menekan bagian perut atas atau ibu merasa bayi menendang-nendang di bagian perut bawah."
"Ya, itulah yang aku rasakan beberapa hari ini dokter. Lalu? Apakah itu berbahaya? Padahal aku rajin melakukan senam dan juga Yoga. Kok bisa ya?" Selfina masih menunjukkan wajah khawatirnya.
"Penyebab sungsang bisa karena air ketuban yang sedikit atau malah terlalu banyak."
"Tapi tenang saja, ada beberapa gerakan yang bisa bumil lakukan untuk mengubah posisi sungsang bayi. Mulai dari memiringkan panggul, dada ke lutut atau mengangkat panggul.”
"Jangan terlalu khawatir yang sampai membuat ibu jadi stres."
Selfina mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya sangat khawatir.
"Ibu masih ada waktu untuk mengubah posisi bayi di dalam kandungan kok. Apalagi kalau ibu mau persalinannya normal."
"Iya dokter. Aku pengen banget merasakan melahirkan secara normal," ucap Selfina.
"Ada beberapa gerakan yang bisa ibu lakukan untuk mengembalikan posisi bayi kembali ke posisi semula."
"Apa itu dokter?" tanya Selfina antusias. Sang dokter pun menjelaskan dengan gamblang.
Memiringkan panggul. Posisi ini diawali dengan berbaring telentang, angkat sedikit panggul. Lalu, letakkan bantal di bawah pinggul diikuti dengan gerakan menekuk lutut. Tahan posisi ini hingga sekitar 10 menit, dan sebaiknya lakukan sebelum makan dan bayi sedang aktif. Supaya hasilnya lebih maksimal, lakukan setidaknya tiga kali sehari.
Dada ke lutut. Awali gerakan dengan berlutut di atas matras, angkat pantat ke atas. Posisikan kepala, bahu, dan dada menempel pada matras. Buka kaki lebar, usahakan agar paha tidak menempel pada bagian perut. Tahan posisi ini sekitar 15 menit.
Mengangkat panggul. Awali gerakan ini dengan berbaring, posisikan lutut menekuk ke arah atas. Lalu, taruh kedua tangan dalam posisi sejajar di sisi tubuh. Tarik napas dalam-dalam, dan naikkan perut secara perlahan. Tahan selama beberapa saat, kemudian turunkan perut sembari membuang napas. Lakukan gerakan ini hingga 10 kali dalam satu hari.
Tidak hanya itu, yoga, pilates, berenang, hingga berjalan kaki juga bisa membantu memperbaiki posisi bayi sungsang kembali normal. Lakukan maksimal selama 150 menit dalam waktu satu minggu.
"Aku udah biasa sih melakukan itu dokter, aku 'kan ikut senam ibu hamil dan juga Yoga." Selfina semakin bingung saja. Ada apa dengan kandungannya kenapa bayinya jadi sungsang seperti itu.
"Mungkin cara tidur ibu juga mempengaruhi."
"Cara tidur?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?