Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 110 Pindah Tempat Tinggal


__ADS_3

Ardina tersenyum senang saat melihat pasangan pengantin baru itu memasuki ruangan perawatannya.


Perempuan cantik itu yakin sekali kalau keduanya sedang sangat bahagia menikmati masa-masa pengantin baru mereka sampai baru muncul lagi justru disaat ia dan bayinya akan pulang.


"Maafkan aku Bu Ar. Kami baru bisa datang. Gimana kabar ibu dan juga dedek?" ucap Selfina seraya memeluk ibu dua anak itu dengan perasaan bersalah.


"Gak apa-apa kok. Kamu berdua sudah sehat. Dan ya, kami semua mengerti kalau pengantin baru yang lagi honeymoon itu gak boleh diganggu, hehehe," jawab Ardina terkekeh. Semua orang ikut menimpali dengan tawa mereka. Alhasil langsung membuat Selfina semakin malu saja.


Ya, lebih dari sepekan ia tidak datang melihat keadaan Ardina dan bayinya karena tidak diizinkan keluar dari apartemen oleh suami mesumnya itu.


Ia benar-benar dikurung dan tak bisa melakukan kegiatan apapun di luar dan hanya menyediakan waktu untuk melayani hasrat besar suaminya itu.


Semua kebutuhannya dipenuhi oleh Yudha. Dari pakaian, makanan, dan juga hiburan semuanya tersedia di dalam apartemen mewah itu. Katanya bulan madunya harus eksklusif dan istimewa tanpa ada gangguan dari siapapun. Tidak urusan pekerjaan dan juga urusan bersosial lainnya. Mereka benar-benar menutup diri dari dunia luar.


Dan sekarang, Selfina baru lolos karena alasan yang sangat kuat dan urgen atau pria itu akan dipecat jadi menantu.


Ya, kedua orangtua Selfina juga datang untuk menjenguk istri dari Praja Wijaya serta bayi kecil itu di rumah sakit. Otomatis mereka ingin bertemu dengan putri semata wayang mereka yaitu Selfina.


"Kamu sekarang tambah cantik lho Sel," ucap Ardina yang langsung disetujui oleh Asna dan juga Shania, sang mama. Jangan ditanya dengan pendapat Yudha, ia semakin bangga dengan kecantikan istrinya.


Selfina tersenyum malu. Ia mengerti dengan pujian mantan sekretaris suaminya. Ia memang agak berbeda penampilan saat ini. Ia pun melirik suaminya yang sejak tadi mengawasinya seperti seorang sekuriti yang selalu menjaga keamanan dirinya.


"Rasanya adem seperti ini bu. Aku udah lama ingin seperti Bu Ardina dan juga mama," ucap Selfina seraya menyentuh balutan hijab yang menutupi kepala sampai dadanya. Shania pun datang memeluk dan menciumnya penuh kasih sayang.


"Mama senang sekali dengan keputusan kamu sayang. Apakah pakaian ini disetujui oleh suamimu?" tanya Shania. Yudha tersenyum dan langsung menjawab, "Tentu saja aku setuju ma. Istriku terlalu cantik untuk dilihat oleh semua orang. Dan aku harus menutupinya karena aku tak ingin berbagi."


Semua orang di dalam ruangan itu tersenyum dan manggut-manggut. Jawaban Yudha menunjukkan kalau pria itu benar-benar sangat mencintai istrinya.


"Niatkan karena Allah, insyaallah akan banyak dapat pahala," ucap Gani sang papa. Ia juga sangat senang dengan penampilan putrinya saat ini.


Yudha tersenyum kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ide memakai hijab ini baru terniat tadi pagi saat Selfina memaksanya untuk keluar dari apartemennya karena kedua orang tua perempuan cantik itu datang ke Jakarta dan ingin bertemu.

__ADS_1


Selfina sangat panik mendapati hampir seluruh tubuh bagian atasnya penuh dengan bekas-bekas percintaan mereka.


Sebenarnya, bekas-bekas cu*pang Yudha sudah lama ada dan tidak membuat perempuan itu resah karena tidak berniat keluar apartemen. Akan tetapi saat papa dan mamanya menelpon ingin bertemu, ia baru merasa panik dan khawatir dengan tanda yang telah diberikan pria yang sangat dicintainya itu. Maka jadilah Selfina menggunakan hijab untuk menutupinya.


"Semoga Istikomah sayang," ucap Shania dan kembali memeluk sang putri yang memang semakin cantik saja.


"Insyaallah ma. Doakan aku. Doakan keluarga kami bahagia," ucap Selfina tersenyum.


"Aaamiin ya Allah." Semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengaminkan. Yudha merasakan haru dari dalam dadanya. Ia pun berharap ia bisa menjadi pemimpin untuk istrinya dalam mengarungi kehidupan keluarga barunya ini.


"Oeeee Oeee Oeee." Si baby girl tak mau ketinggalan eksis. Ia menangis untuk memperkenalkan dirinya. Praja langsung meraih sang bayi mungil dari dalam box nya dan membawanya ke pangkuan sang istri.


Bayi itu langsung berhenti menangis.


"Wah dedek bayi udah bisa keluar dari tempat nyamannya ya Bu," ucap Selfina dengan tatapan bahagia pada bayi cantik yang masih sangat mungil itu.


"Iya Sel, Alhamdulillah. Kami juga sudah bisa pulang hari ini."


"David pasti senang banget kalau tahu dedeknya dah bisa pulang ya," lanjutnya.


"Iya. Udah lama tuh anak kangen sama kita-kita. Dan sekarang pasti udah tidak sabar berkumpul dengan kita di rumah." Ardina menjawab dengan senyum diwajahnya. Sungguh, ia sudah sangat kangen dengan putranya itu.


"Iya bu Ar. Duh aku rasanya kangen banget sama David. Udah lama gak ketemu nih," ucap Selfina lagi.


"Bentar lagi ketemu kok. Ia sudah menunggu kita di rumah. Ayo sekarang kita bersiap untuk pulang. David sudah sejak tadi menelpon supaya kita cepat pulang." Praja menimpali seraya bersiap untuk keluar dari ruangan perawatan itu.


"Ah iya pak," ucap Selfina.


Semua orang pun langsung bergegas mengambil barang-barang mereka untuk dibawa pulang. Mereka semua bahagia karena bisa kembali ke rumah dalam keadaan sehat dan pulih.


Ardina berjalan beriringan dengan Praja seraya menggendong putri kecil mereka. Tak ada kata yang lebih indah dari kata syukur Alhamdulillah karena bayi mereka tumbuh dan berkembang dengan sangat baik meskipun prematur.

__ADS_1


Ardina tanpa sadar menitikkan airmatanya karena terlalu bahagia dengan nikmat yang sangat banyak yang ia rasakan sekarang ini.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Praja saat sang istri sudah mendudukkan dirinya di samping kursi pria itu.


"Iya kak. Aku hanya terlalu bahagia. Gak nyangka masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup denganmu dan bayi kita," ucap Ardina dengan suara tercekat.


"Iya sayang. Alhamdulillah karena Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk hidup bersama."


"Iya kak. Bayi kita juga selamat dan semoga sehat selalu dan panjang umur."


"Aamiin ya Allah." Praja tersenyum kemudian mengelus lembut pipi sang istri. Setelah itu ia pun melajukan mobilnya menuju rumah Ardina.


Rencananya mereka masih akan tinggal di sana untuk beberapa hari ke depan kemudian pulang ke kampung mereka.


Selfina sendiri pulang bersama dengan Yudha dan juga kedua orangtuanya. Rencananya mereka akan berpamitan pada Ardina dan Asna untuk tinggal di apartemen.


Mereka tidak mungkin akan tinggal semua di rumah yang selama ini Selfina tinggali karena akan terasa sangat sempit dengan bertambahnya anggota keluarga mereka.


"Wah, gak enakan nih kalau kamu pergi Sel," ucap Ardina saat perempuan itu berpamitan sesaat setelah mereka semua sampai di rumah.


"Iya Bu. Aku juga gak enak sih," ucap Selfina tak nyaman.


"Iya deh, kalau itu keputusan kalian. Semoga kalian bahagia ya," ucap Ardina paham dengan kondisi Selfina.


Mereka pun berangkat ke apartemen bersama dengan Gani Sanjaya dan juga Shania setelah mengucapkan banyak terimakasih karena telah diberikan tumpangan gratis selama bekerja di ibukota.


Kedua orangtua Selfina sangat takjub melihat tempat tinggal putrinya saat ini. Mereka hanya berharap putri mereka bahagia dalam pernikahan yang masih sembunyi-sembunyi ini.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan komentar dong 🤭


__ADS_2