
Yudha Abdullah menutup layar laptopnya setelah acara google meeting itu selesai. Tubuhnya ia regangkan karena merasakan kaku dan lelah.
Huffft
Sebuah tarikan nafas ia lakukan menunjukkan perasaan lega karena acara yang ia hadiri itu berjalan dengan sangat baik meskipun hanya lewat daring.
Lega tapi lelah. Punggung terasa kaku hingga ia kembali meregangkan otot-ototnya.
Hanya keluar untuk sholat kemudian lanjut lagi membuatnya baru merasakan waktu berjalan sangat cepat. Pukul 17.30 ia selesai dengan segala coretan sana-sini di dalam sebuah buku catatan kecilnya.
Ruangan kerjanya sudah sepi dan ia baru ingat kalau Selfina sudah tidak berada di dalam tempat itu. Segera ia berdiri dari duduknya kemudian membereskan laptop dan peralatan kerja lain yang sudah digunakannya.
Ia meraih handphonenya dan menghubungi perempuan cantik itu tapi ternyata tak bisa tersambung.
"Apa Selfina masih memblokir nomor aku? Oh ya ampun. Apa dia marah? Sampai pulang tak bilang-bilang seperti itu?" gumamnya dengan perasaan khawatir. Segera ia meninggalkan Perusahaan kemudian pergi menyusul istrinya di rumah Bu Ardina.
Rumah itu kosong dan sepi. Tak ada kendaraan di sana. Lama ia mengetuk pintu dan tidak ada seorang pun yang menjawab.
Ia ingin bertanya pada tetangga yang mungkin sedang lewat tapi ia juga tidak menemukan seorang pun yang bisa ditanyai.
"Oh ya Allah, ada apa ini? Apa aku salah lagi? Mana gak bisa dihubungi lagi?" ucap Yudha seraya menghela nafasnya berat.
Kumandang azan magrib pun bersahutan dari arah timur rumah itu dan itu menunjukkan kalau malam akan segera datang. Ia pun pergi dari rumah itu untuk pulang. Ia memutuskan akan mendirikan sholat di perjalanan saja.
"Kak, kok pulang sendiri?" tanya Yundha saat ia sudah sampai di rumahnya. Gadis itu yang membukakan pintu untuknya.
Yudha tak menjawab. Ia pikir Selfina pulang ke rumah ini tapi ternyata tidak, terbukti dari pertanyaan sang adik.
Ia pun berlalu dari hadapan gadis itu menuju ke kamarnya sendiri tanpa mengucapkan kata satupun.
"Kak, ada apa?" Yundha berusaha memburu sang kakak untuk menanyakan kenapa kakak iparnya tidak jadi ikut ke rumah mereka.
"Aku tidak tahu Nda. Mbak mu itu memblokir nomorku sejak beberapa hari yang lalu. Coba kamu yang tanya dimana ia saat ini," ucap Yudha seraya membuka pakaian kerjanya.
Yundha tercengang kaget. Ia tak percaya kalau hubungan suami istri ini ternyata tak seromantis dari yang ia pikirkan.
"Lho kok diam? Sini handphone kamu. Aku aja yang menghubunginya!" titah Yudha. Saat ini ia telah selesai berganti pakaian dengan sebuah kaos dan celana panjang katun.
Gadis itu pun menyerahkan handphonenya kepada sang kakak dan langsung digunakan untuk menghubungi Selfina. Untuk beberapa lama panggilan itu terhubung tapi ternyata tidak juga diangkat.
__ADS_1
"Gimana sih?! Padahal aktif tapi tidak diangkat!" Yudha tampak sangat kesal. Ia menatap layar handphone itu kemudian melemparkannya ke atas ranjangnya.
"Lho, kok marah sama handphone aku sih kak. Gak banget deh. Untung gak dilempar ke lantai." Yundha akhirnya ikut menggerutu. Ia pun naik ke atas ranjang sang kakak dan mengambil handphonenya itu.
"Aku yang coba hubungi ya, mungkin mbak Selfina tahu kalau kakak yang menelpon jadi ia sengaja tidak mengangkatnya," ucap Yundha bercanda dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari sang kakak.
Gadis itu pun kembali menghubungi nomor sang kakak ipar tapi tidak juga diangkat.
"Aneh. Bikin khawatir aja sih," ucap gadis itu seraya menatap sang kakak.
"Nah itu dia. Aku juga khawatir dan kesal. Kalau dia marah harusnya ia angkat teleponnya. Gak kayak gini. Aku rasanya hampir gila kalau Selfina seperti ini terus." Yudha meraup wajahnya kasar kemudian mondar-mandir lagi dengan sangat gelisah.
"Aku coba kirimkan pesan aja kalau gitu kak. Siapa tahu mbak Selfina gak mau menerima panggilan dari nomor baru makanya panggilannya diabaikan."
Yudha pun segera mengetik pesan kemudian mengirimkannya.
[Assalamualaikum mbak. Ini aku Yundha. Angkat teleponnya dong, plis.]
Pesan terkirim. Ceklis dua tapi tak dibaca dan tentu saja juga tak dibalas.
"Gimana?" tanya Yudha penasaran.
"Hey! Tidur dimana? Rumahnya saja kosong!" ucap Yudha marah. Yundha langsung meringis.
"Ya, di mana saja kak. Kali aja mbak Selfina lagi pengen nginep di hotel, gitu. Kan bisa saja terjadi."
"Apa? Hotel? Dengan siapa?!" Yudha semakin kacau.
"Astaghfirullah kak. Itu 'kan cuma perkiraan aku saja. Gak usah mikir yang macam-macam deh."
Yudha kembali mondar-mandir dengan perasaan kesalnya. Ia berjanji kalau ia bisa mendapatkan perempuan itu, ia akan membuat perhitungan dengannya.
"Ya udah deh. Aku kembali ke kamar. Kalau mbak Selfina jawab pesan aku. Nanti aku share ke kakak. Ingat untuk tidak tidur dan aktifkan handphone kakak ya," ucap Yundha dan segera keluar dari kamar itu.
Yudha hanya mengangguk kemudian melempar tubuhnya ke atas ranjang empuknya.
Ia menghela nafasnya untuk melonggarkan dadanya yang terasa sangat sesak. Ia menyesali dirinya yang menikahi perempuan itu dengan cara seperti ini.
Maafkan aku Sel, kamu istri sah aku tetapi kenapa jadi seperti selingkuhan aku sih?
__ADS_1
Aaaaa
Yudha berteriak keras karena kesal dan marah. Ia pun bangun dari posisinya dan segera turun ke lantai bawah.
Ia tidak bisa tenang kalau ia berada di dalam kamarnya yang nyaman sedangkan istrinya belum juga ada kabarnya.
"Yud. Mau kemana nak? Kamu 'kan baru pulang." Langkahnya terhenti oleh teguran dari sang mama.
"Anu ma," ucap Yudha tampak berpikir. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi Yudhi ternyata ada di samping perempuan itu.
"Aku mau cari angin. Gak tahu nih pengen jalan aja," jawabnya seraya tersenyum.
"Aku ikut kak," ucap Yudhi seraya mendekat kearah sang kakak.
"Maaf ya Di. Aku mungkin nginap di apartemen. Jadi kamu gak bisa ikut. Assalamualaikum ma."
Pria itu pun meraih tangan Merry kemudian menciumnya. Ia pun pergi tanpa mau mendengarkan kata-kata dari dua orang itu lagi.
"Aneh. Mimpi apa kak Yudha mau nginap di apartemennya. Katanya gak menyenangkan di tempat itu," gumam Yudhi dengan tatapan tak lepas dari punggung sang kakak yang semakin menjauh.
"Gak usah dipikirin. Kamu istirahat saja. Mama juga udah ngantuk." Merry segera meninggalkan Yudhi yang masih tampak penasaran.
Sementara itu, Yundha yang ada di dalam kamarnya masih terus menunggu balasan pesan dari Selfina.
[Mbak, ada dimana? Kami semua khawatir lho]
Gadis itu mengirim pesan lagi untuk yang kedua kalinya. Dan statusnya masih sama. Centang dua tapi belum dibaca dan pastinya belum di jawab.
Gadis itu akhirnya tertidur menunggu jawaban yang tak kunjung datang.
Sedangkan Yudha masih berada di depan rumah Selfina memantau kalau-kalau istrinya itu pulang untuk tidur.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Adakah bunga untuk othor 😍
__ADS_1