
Wana kembali ke dalam rumah dengan wajah yang menampilkan senyum bahagia. Tak berhenti ia bertanya-tanya tentang takdir Tuhan yang telah menjadikan putrinya sebagai seorang istri dalam waktu yang sangat cepat seperti ini.
Wicaksono yang melihatnya langsung datang menghampirinya dan menegurnya.
"Tiara udah ketemu ma?" tanyanya pada sang istri.
"Sudah pa. Alhamdulillah," jawab Wana dengan senyum yang masih setia terpatri di wajahnya.
"Dimana?"
"Di rumah pohon di taman samping rumah."
"Oh gitu? Tumben. Anak itu 'kan udah lama gak kesana."
"Mungkin lagi kangen sama tempat persembunyiannya waktu masih SMP kali pa."
"Hum, iya. Tapi mereka langsung turun 'kan?"
"Kenapa emangnya pa?" tanya Wana penasaran. Wicaksono tersenyum saja kemudian menjawab.
"Kata Tukang kebun. Ada beberapa yang perlu di rehab di rumah pohon itu. Ya, maklum lah Tiara udah lama 'kan gak kesana. Tapi bersih kok. Kang kebun tetap rajin membersihkan."
"Oh baguslah. Kirain ada hantunya pa, hehehe," kekeh Wana.
"Ah hantu kayaknya malu kesana ma. Gak asik katanya hahahaha." Wicaksono ikut tertawa kemudian membawa istrinya ke kamar mereka.
Rasa lelah sehabis pesta baru terasa pada tubuh mereka. Dan sekarang saatnya mereka beristirahat.
"Eh, pa. Tapi beneran aman tuh tempat untuk pengantin baru itu?" ucap Wana setelah ia sudah sampai di dalam kamarnya. Entah kenapa ia jadi khawatir kalau terjadi sesuatu pada anak dan menantunya.
"Iya ma. Kalau mereka duduk diam sembari menatap langit saja," jawab Wicaksono tersenyum.
"Tapi kalau mereka berdua main jungkat-jungkit ya aku gak bisa jamin sih," lanjut pria paruh baya itu seraya menatap sang istri dengan tatapan tak biasa.
"Ih apaan sih papa, manalah mungkin mereka main jungkat-jungkit di atas tempat itu. Mereka 'kan bukan anak Paud pa," balas Wana dengan senyum malu-malunya.
Wicaksono jadi gemas melihat istrinya itu. Ia pun menghampiri sang istri dan berbisik dengan pelan. "Aku kok jadi pengen kembali jadi anak paud Ma."
"Ih apaan sih. Gak lucu banget deh," ucap Wana semakin malu. Ia paham betul dengan apa yang dimaksud oleh sang suami.
Wicaksono pun memeluk istrinya itu kemudian membawanya ke tempat tidur. Ia jadi sangat tertarik membuat permainan jungkat-jungkit dengan sang istri tercinta.
Sementara itu, di atas rumah pohon.
"Mas mau apa?" tanya Tiara lagi dengan perasaan yang tiba-tiba khawatir. Otaknya yang kecil itu sudah mengantarkan signal bahaya.
Yudhis tidak menjawab tetapi malah menyentuhkan bibirnya pada tengkuk perempuan cantik itu dan menciuminya.
__ADS_1
Tiara tak bisa berkata-kata lagi. Pertanyaannya menguap ke udara. Ia lupa diri karena benar-benar dibuat tak berkutik oleh pria tampan yang merupakan suaminya itu.
"Mass aaakh," dessah perempuan cantik itu saat bibir Yudhistira sudah tiba pada bahunya dan menghisapnya pelan. Tiara semakin bergerak gelisah. Ia semakin tak tahan dengan apa yang dilakukan oleh pria itu padanya.
Yudhistira pun mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya diatas ranjang di dalam rumah pohon itu.
"Aku menginginkanmu Tiara," ucap Yudhis dengan tatapan tak lepas pada wajah cantik perempuan muda itu.
Tiara sendiri tak sanggup membalas tatapan pria yang sedang sangat dekat dengannya itu. Ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tapi pria itu membukanya. Mereka berdua pun saling bertatapan dengan dada berdesir.
Tiara ingin membuang pandangannya ke arah lain tapi Yudhistira segera mengecup keningnya kemudian menyusuri seluruh permukaan wajah sang istri dengan bibirnya.
"Ra, kamu sangat cantik," bisik Yudhis kemudian menyentuhkan bibirnya pada bibir perempuan cantik itu. Detik berikutnya ia pun mengulum lembut bibir sang istri dengan penuh perasaan.
Tiara benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana. Tubuhnya tak bisa menolak apa saja yang dilakukan oleh pria itu padanya. Ia pun dengan berani meraih tengkuk suaminya dan menekannya agar tautan bibir mereka tak terlepas.
"Ra, aku menginginkanmu sayang," bisik Yudhis dengan suara bergetar menahan hasrat yang sudah sampai di ubun-ubunnya.
Tiara hanya tersenyum malu dengan bibir yang terasa kebas karena perbuatan pria itu. Wajahnya saja kini ia rasakan menghangat. Jangan tanyakan bagaimana detak jantungnya yang terasa sangat cepat tak seperti biasanya.
Yudhistira menganggap ekspresi istrinya itu adalah sebuah undangan yang sangat indah. Ia pun naik ke atas ranjang sempit itu dan perlahan menindih tubuh Tiara.
Tangannya yang kiri bertumpu di samping kepala istrinya untuk menahan agar tubuh mereka tidak menempel penuh.
Tangannya yang kanan pun bergerak menelusup kembali kedalam pakaian yang dipakai perempuan itu dan menyentuh dua bukit kenyal dan padat milik sang istri. Ia meremassnya dengan sangat lembut sampai Tiara bergerak gelisah.
Krakkk
"Masss aaakh..."
"Iya sayang, panggil namaku ya..."
Krakkk
"Mass..."
"Humm," gumam Yudhis dengan mulut penuh. Satu pucuk merah milik Tiara sudah berhasil ia kulum dengan sangat lembut.
"Masss uuggh,"
"Mmmm..."
Krakkk
"Mas, ranjangnya kayaknya gak kuat."
"Aaargh!"
__ADS_1
Dua orang itu langsung jatuh ke bawah dengan suara yang cukup ribut.
"Hahahaha!" Keduanya saling bertatapan kemudian tertawa terbahak-bahak. Ranjang kecil yang terbuat dari kayu itu terlepas dan membuat mereka jadi korban.
Suara ranjang yang patah dengan tawa mereka berdua rupanya mengundang perhatian beberapa pekerja yang masih sibuk di sekitar rumah itu.
Mereka pun datang ke tempat itu karena kaget. "Ada apa diatas?" teriak kang kebun dari bawah tangga.
Dua orang itu tersentak kaget. Baru saja mereka berpacu jantung karena jatuh dan sekarang malah kedapatan oleh kang kebun.
"Hey! Siapa di atas?!' tanya pria paruh baya itu lagi seraya melangkahkan kakinya ke atas tangga dengan membawa sebuah parang panjang. Takutnya ada orang asing yang tak diundang ada di tempat itu.
"Ranjangnya patah kang!" balas Tiara dengan teriakan pula.
Yudhistira hanya bisa meremass tengkuknya tak nyaman. Ia merasa malu dan lucu sendiri dengan apa yang terjadi.
"Kita lanjutkan di kamar ya sayang," ucap pria itu seraya meraih tangan istrinya untuk bangun. Tiara pun bangun kemudian memakai kembali pakaiannya yang tak ia sadari sudah terlepas.
"Nona Tiara? Tuan Yudhis? Kalian tidak apa-apa?" tanya pria paruh baya itu saat ia sampai di beranda depan rumah pohon itu.
Yudhistira tersenyum meringis kemudian menatap ranjang kayu yang sudah rusak karena perbuatannya.
"Maafkan kami ya kang.. Kirain ranjangnya kuat, hehehe," ucap pria itu terkekeh tak nyaman.
"Oh, gak apa-apa. Saya yang harusnya minta maaf Tuan. Harusnya saya sudah memperbaikinya. Emang udah dimakan rayap kayaknya."
"Gak apa kang. Kami juga udah mau turun kok. Nanti kami lanjutkan di kamar saja, permisi."
Yudhistira menjawab seraya membantunya menuruni tangga dengan sangat hati-hati.
Tiara tak berkata-kata lagi. Ia hanya menundukkan wajahnya malu.
Ya, ia benar-benar malu pada kang kebun saat ini. Dan rasanya ia ingin terbang menuju ke kamarnya sendiri dan bersembunyi di sana.
Dua orang itu akhirnya meninggalkan tempat itu dibawah tatapan lucu kang kebun.
"Ada-ada saja pengantin baru. Di dalam kamar mereka pastinya Lebih nyaman dengan kasur empuk. Ini malah mau main buka segel di rumah pohon ckckck!"
πΉπΉπΉ
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Bagi lah bunga dan kopi untuk menyemangati othor yang lemah tak berdaya iniππ€
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1