
"Kamu bohong padaku!" ucap Selfina lagi dengan suara bergetar.
"Sel, dibagian mana aku bohong sayang?" tanya Yudha seraya mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri tapi Selfina membuang wajahnya ke samping.
"Sel, lihat aku. Aku tidak pernah bohong padamu. Aku mencintaimu sayang," ucap Yudha membujuk.
Selfina mencibir. Ia berusaha lepas dari rengkuhan suaminya sampai Yudha mengalah. Tubuh mereka terlepas.
Ia pun mundur dan menjaga jarak dengan pria itu.
"Aku kesal. Aku marah sama kamu! Kamu bilang gak akan bikin kesal tapi mana buktinya? Kamu melupakan janjimu itu. Kamu meminta aku pergi dari rumahmu itu sama saja kamu mengeluarkan aku dari hidupmu pak Presdir!" ucap Selfina dengan nada suara yang mulai meninggi.
Beberapa hari ini ia menahan dirinya untuk tidak menerima panggilan dari pria itu dan sekaranglah saatnya ia keluarkan semua kekesalannya.
"Aku istrimu. Seharusnya kamu mengakui aku di dalam keluargamu. Tapi apa? Aku seperti orang lain. Lalu apa gunanya hubungan ini?" Air mata kembali menyeruak keluar dari pelupuk mata indahnya.
"Oke, aku tahu kalau kita sepakat untuk menyembunyikan ini di tempat kerja tapi di rumah mu seharusnya tidak."
Yudha menghela nafasnya kemudian menghampiri Selfina dan ingin kembali meraihnya dalam pelukannya.
"Sel."
"Gak! Jangan sentuh aku!" Selfina mundur dan mengangkat kedua tangannya di depan dadanya. Ia sedang marah dan benar-benar tak ingin disentuh oleh pria itu.
Yudha mengalah. Ia hanya berdiri saja dengan jarak sekitar dua meter dari sang istri. Ia akan menjadi pendengar yang baik atas semua keluhan istrinya itu.
"Aku gak tahu, kenapa aku mau saja dinikahi oleh kamu pak presiden direktur. Aku bodoh. Aku harusnya gak terbujuk rayuanmu!" Selfina kembali berucap dengan hati sakit.
"Seharusnya aku memikirkan banyak hal sebelum setuju kamu nikahi seperti ini. Aku tak lebih seperti Desy yang mungkin akan kamu buang begitu saja setelah dinikahi secara siri."
Yudha merasakan rahangnya mengeras mendengar istrinya menyamakan dirinya dengan Desy sialan itu.
"Desy berbeda dari kamu Sel, bagaikan langit dan bumi," ucapnya menolak.
__ADS_1
Selfina mencibir.
"Tentu saja status itu akan sama. Dan ya, andai aku dan keluargaku tidak ada saat om Mirwan mengatakan wasiat papamu mungkin kamu sudah menikahi Sendy juga."
"Ya Allah Sel, dengarkan aku sayang." Yudha meraup wajahnya kasar. Ia harus bersabar menghadapi tuduhan-tuduhan yang tak beralasan dari sang istri.
"Kamu istri sah dan bukan istri siri. Kita mempunyai buku nikah yang menunjukkan hubungan kita resmi. Jadi jangan pernah menyamakan status mu dengan Desy, oke?" jelas Yudha dengan tegas.
"Dan tentang wasiat itu. Aku Yudha Abdullah menolaknya karena aku sudah mempunyai kamu yang sangat aku cintai."
"Bohong! Di depan aku kamu bilang seperti itu lalu kenapa kamu tidak mengakui aku di depan keluargamu saja agar aku tidak tampak seperti orang bodoh di tengah-tengah mereka."
Yudha menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun menghampiri perempuan itu dan langsung meraihnya kembali dalam pelukannya. Selfina kembali mendorongnya keras tapi ia tak akan melepaskannya lagi.
"Selfina, tolong mengerti kondisi aku sayang. Kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan meskipun itu di dalam rumah kita sendiri," ucapnya dengan suara rendah.
"Aku sudah memberitahu mama tentang hubungan kita dan kurasa itu sudah cukup. Mama sangat bisa dipercaya," lanjutnya seraya menatap wajah sang istri.
"Iya sayang. Mama udah tahu. Dan ia juga meminta kita untuk tinggal di rumah bersama. Tapi ya, kita akan menjalani hubungan ini sembunyi-sembunyi dulu, terutama dari Yudhi dan juga Maya."
"Kenapa?" tanya perempuan itu dengan wajah polosnya. Yudha tersenyum kemudian mulai mengikis jarak dengan wajah istrinya yang sangat cantik.
"Karena mereka berdua tak bisa dipercaya sayang ," jawab Yudha dengan suara rendah bagaikan bisikan. Deru nafasnya memburu hingga membuat Selfina merasakan sebuah perasaan asing dari dalam dirinya.
"Mereka adalah nyamuk pengganggu yang sangat berbahaya Sel," ucapnya lagi kemudian meraih bibir Selfina dan mengulummya sangat lembut. Rasa manis dan kenyal Yudha rasakan hingga ia tak ingin berhenti.
Selfina merasakan tubuhnya menegang. Ia tak bereaksi. Yudha pun akhirnya melepaskan tautan bibir mereka kemudian menatap dalam wajah sang istri yang nampak memerah.
"Sayang, santai saja, dan balas aku okey," ucap Yudha seraya mengelus lembut bibir Selfina yang agak tebal dan seksi itu. Perempuan cantik itu menundukkan wajahnya dengan malu-malu.
"Hey, lihat aku dong," panggil Yudha dengan tangan meraih dagu kecil Selfina.
"Gak. Aku mau kerja dulu pak presdir." Selfina menolak dan berusaha untuk melepaskan dirinya lagi. Sungguh, ia sangat malu sekarang.
__ADS_1
"Gak ada pekerjaan hari ini sayang, aku ingin kita berdua saja dan melakukan hal yang menyenangkan," ucap Yudha tersenyum.
Pria itu pun meraih bibir sang istri dan melumattnya dengan penuh perasaan. Selfina tak bisa menolak. Ia menikmati kehebatan bibir suaminya pada bibirnya sendiri.
Yudha mulai menekan tengkuk istrinya dan semakin memperdalam ciumannya. Selfina dengan malu-malu mulai melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Ia membalas meskipun belum profesional.
Yudha semakin terbakar ketika perempuan itu bergerak gelisah. Ia pun segera mengangkat tubuh istrinya itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ia membawanya ke sebuah sofa agar ia bebas melakukan apa saja pada tubuh sang istri.
"Jangan di sini," bisik Selfina saat Yudha mulai membuka kancing depan kemejanya.
Yudha tersenyum dan menyadari satu hal. Ini adalah pertama untuk mereka berdua. Seharusnya dilakukan di tempat yang istimewa dan juga privasi.
"Kita ke apartemen aku, mau 'kan sayang?" bisik Yudha kemudian mengecup bibir istrinya lagi bertubi-tubi.
"Ini masih jam kerja pak Presdir," jawab Selfina dengan kedipan mata menggoda.
"Tapi aku udah gak kuat Sel. Rasanya sesak banget nih," ucap Yudha seraya mengarahkan tangan perempuan itu ke arah celananya yang sangat sesak.
Sebuah benda tumpul di dalam sana sedang berdemo meminta keadilan. Ia berdiri tegak dan semakin membesar.
Selfina tersenyum penuh makna. Ia pun bangun kemudian berucap, " Itu adalah hukuman buatmu pak Presdir. Nikmati saja sampai jam kerja selesai."
"Sel, kamu tega sayangku," ucap Yudha dengan tatapan memelas. Sungguh, kepalanya berdenyut tersiksa.
"Kamu juga suka tega padaku pak Yudha," balas Selfina dengan ujung bibir terangkat. Setelah itu ia merapikan pakaian dan rambutnya yang sudah diacak-acak oleh sang suami.
"Berkasnya jangan lupa di tandatangani ya pak," lanjut Selfina kemudian keluar dari ruangan itu dengan senyum lebar diwajahnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like, komentar, hadiah, dan Vote!!!!
__ADS_1