
Yundha dipersilahkan duduk kembali dan final test pun dilanjutkan. Semua mahasiswa kembali berkonsentrasi menjawab soal-soal demi mendapatkan nilai terbaik dan lulus mata kuliah ini.
Yundha sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setiap ia memandang kertas di hadapannya hanya wajah tampan dan tatapan mesum suaminya yang ada disana.
Aaaaa!
Yundha menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia benar-benar sangat merindukan pria itu saat ini. Tapi mana mungkin ia bisa pulang padahal tes pun belum selesai.
Perempuan cantik itu membuang nafasnya kasar. Ia semakin tak berkonsentrasi menjawab soal-soal yang ada di hadapannya. Dadanya berdebar tak karuan begitu pun bibirnya tak berhenti berkedut.
Pipinya menghangat bahagia. Rasanya ia ingin sekali kembali pulang dan memeluk pria itu sepuasnya.
Aaaa mas Dewa, kamu kok suka bikin aku kayak gini sih?
Ia membatin dengan dada berdebar-debar. Ia akui sekarang kalau ia benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu.
"Waktu habis dan kumpulkan semua jawaban kalian!"
Yundha tersentak kaget. Ia langsung memandang lembar kertas jawabannya dengan wajah berubah horor. Kertas itu tampak bersih dan juga suci. Tak ada tulisan di sana meskipun itu namanya sendiri.
"Put! Aku belum jawab apa-apa," panggulnya pada Putri yang sedang sibuk menulis dengan terburu-buru seakan semua jawaban yang ia tahu baru saja mendapatkan hidayah untuk berdesakan keluar.
"Put! Ssst!" panggilnya lagi tapi sahabatnya itu tak mau tergoda. Ia harus menjawab pertanyaan itu meskipun ia tidak yakin jawabannya benar atau tidak.
Ia harus lulus dan segera membuat proposal judul untuk skripsinya. Orang tuanya di kampung menunggunya pulang untuk jadi sarjana.
"Put!" panggilnya lagi meminta pertolongan tapi ia tidak mendapatkan apapun kecuali sosok Nindi yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dan menarik kertas jawabannya.
"Gini nih kalau anak orang kaya! Maunya ikut ujian seenaknya dan ternyata tak ada otak!" sindirnya dengan wajah mencibir.
Yundha hanya tersenyum meringis tapi tak membalas. Ia akui kalau ia memang tidak sedang berkonsentrasi pada ujian kali ini padahal soalnya sangat mudah hanya saja jawabannya yang susah. UPS 🤭.
Aaaa ini gara-gara mas Dewa! Harusnya aku tidak mengikuti keinginannya berpamitan pada si Otong jadinya aku 'kan kebayang terus!
Yundha pun keluar dari ruangan diikuti oleh Putri. Bibirnya manyun dengan langkah yang sangat loyo. Belum lagi ia merasakan perutnya semakin lapar saja.
"Kita ke kantin yuk Put. Lapar banget nih," ucap perempuan cantik itu seraya mengelus lembut perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Hayuk! Aku juga pengen minum. Haus banget," balas Putri dengan wajah cerahnya.
"Kamu jawab semua soalnya ya? Kok ceria sekali?" tanya Yundha penasaran.
__ADS_1
"Aku jawab sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan aku saja. Kalau benar Alhamdulillah kalau salah innalilahi."
Yundha mencibir.
"Jawaban apaan tuh. Pasrah banget," ucapnya dengan bibir berkedut ingin tertawa.
"Itu lebih baik sih menurut aku daripada membiarkan kertas lembar jawaban itu putih bersih suci mewangi bagaikan gadis perawan yang tak pernah disentuh oleh tangan-tangan nakal."
"Ish! Kamu nyindir aku Put?" Yundha menghentikan langkahnya kemudian menatap sahabatnya itu dengan wajah serius.
"Kamu tersinggung? Ya baguslah. Aku memang sengaja sih, soalnya kamu gak pernah kayak gini."
Yundha langsung tersenyum dengan pipi menghangat. Ia akui kalau ia saat ini sudah jadi perempuan tidak waras karena seorang pria tampan yang sangat mencintainya.
"Udah ah, aku mau makan dulu supaya bisa konsentrasi untuk mata kuliah berikutnya," ucap Yundha dengan tekad kuat.
Putri tersenyum tetapi tidak begitu percaya dengan niat sahabatnya itu karena di hadapan mereka sekitar beberapa meter dari tempat mereka sekarang, Dewa sedang berdiri di sana dengan tatapan tak lekat pada Yundha.
Pria itu bersandar santai pada tiang koridor dengan tangan berada pada satu celananya. Tampilannya benar-benar sangat keren dan mampu menghipnotis semua mahasiswi yang ada disana.
Putri saja hampir tergoda tapi ia memaksa dirinya sendiri untuk sadar kalau ia hanya sebiji kerikil yang hanya bisa jadi penutup lubang pada jalan yang rusak.
Dua pasangan itu adalah pasangan yang sangat cocok dan sempurna. Cantik dan tampan, serta sama-sama kaya.
Yundha mendongak dan melihat ke arah depan. Dewa tersenyum padanya dengan sangat manis. Akan tetapi bibir perempuan itu langsung manyun. Ia tiba-tiba saja merasa kesal karena suaminya datang mengunjungi nya.
Dengan langkah cepat, ia tinggalkan Putri kemudian menghampiri pria tampan itu.
"Mas, kamu kok datang ke sini sih?" bisiknya kesal.
"Lho kenapa sayang? Aku 'kan udah bilang mau jemput kamu," jawab Dewa dengan wajah bingung. Ia pikir perempuan itu akan senang saat ia datang seperti ini.
"Kamu bikin aku kesal dan malu mas," bisik Yundha seraya menarik tangan pria itu ke sebuah tempat yang agak sepi tanpa lalu lalang mahasiswa yang lain.
"Lho kok bisa sih?" Dewa semakin bingung saja. Ia pun menatap penampilannya saat ini yang sedang memakai setelan jas lengkap khas seorang eksekutif muda.
Ia yakin sekali kalau ia sangat tampan di depan istrinya yang cantik itu.
"Apanya yang bikin malu?" gumamnya seraya menatap wajah istrinya yang tampak semakin menggemaskan jika sedang ngambek seperti itu.
"Banyak mas. Pokoknya kamu harus minta maaf sama aku."
__ADS_1
"Salah satunya?" tanya Dewa dengan alis terangkat.
"Kamu kasih aku contekan yang memalukan tahu gak mas?" ucap Yundha dengan wajah berubah manja. Dewa berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Ada lagi?" tanya pria itu berubah serius.
"Ada mas banyak banget."
"Kalau begitu sebutkan!" Kali ini pria itu berubah dingin.
"Kamu membuat aku tidak mengisi kertas lembar jawaban mas. Aku jadi gak bisa konsentrasi."
"Lho? Kok aku lagi yang salah?"
"Ya iyalah salah. Dan sekarang kamu datang kesini mau menebar pesona gitu, iyya mas!"
"Maksudnya?" Dewa berpura-pura semakin bingung.
"Ish! Kesal!" Perempuan itu menghentakkan kakinya gemes.
"Harusnya kalau mau jemput, mas nunggu di mobil saja. Aku gak suka kalau banyak yang melihat kamu mas!"
Dewa tersenyum. Ia sudah tak tahan lagi dengan tingkah istrinya yang semakin membuatnya gemas dan ingin menerkamnya.
Ia pun langsung menarik tangan perempuan itu menuju mobilnya.
"Mas, kita mau kemana? Kasihan Putri."
"Masuk kamu!" ucap Dewa setelah membuka pintu mobilnya.
"Lah aku kan masih ada jadwal final setelah istirahat mas."
"Gak perlu ikut, kamu ujiannya sama aku aja."
"A-apa?!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊