
"Oh sial!" Dewa menggerutu kesal karena baru menyadari kalau gadis yang sudah ia perawani itu telah pergi meninggalkannya. Ia pun segera meninggalkan Jessica yang sejak tadi melakukan drama dihadapannya.
"Kak Dewa tunggu aku!" teriak Jessica dengan wajah bersimbah air mata.
"Aku mohon maafkan aku kak, aku berjanji gak akan melakukan itu lagi!" teriak perempuan itu dengan suara pilu. Dewa tidak perduli. Ia hanya ingin mengantar gadis itu pulang sekaligus membayar apa yang sudah ia dapatkan semalam.
"Kak Dewa!" Rupanya Jessica masih memburunya sampai di depan pintu lift. Dewa mengibaskan tangannya kesal pertanda ia sedang tak ingin berbicara dengan perempuan itu lagi.
"Diam dan jangan bicara lagi. Aku tidak mau bicara denganmu, mengerti?!" ucapnya sarkas.
"Kak Dewa! Aku akan bunuh diri jika kamu tak ingin kembali padaku!"
"Terserah! Lakukan apa yang kamu mau asalkan jangan di dalam unit apartemen ini!" ucap pria itu kemudian langsung masuk ke dalam kotak besi di hadapannya.
Jessica menghentakkan kakinya marah. Ia pikir pria itu sudah berubah pikiran ternyata tidak.
"Aaargh!" Ia berteriak kesal seraya menjambak rambutnya. Ia tidak akan keluar dari apartemen ini sampai ia mendapatkannya tempat yang layak.
"Akan aku buat istrinya itu tahu seberapa bejat suaminya!" ancam Jessica dengan segala rencana di dalam kepalanya. Ia pun harus mencari tahu siapa perempuan yang telah dinikahi Dewa diam-diam dan tidak ia tahu identitasnya.
Dewa langsung berlari ke arah mobilnya dan melajukannya ke arah Cafe tempat Yundha bekerja. Pria itu yakin kalau gadis itu pasti ada di sana.
Sesampainya di tempat itu, ia langsung masuk berpura-pura menjadi pelanggan. Ya, pelanggan yang lupa membayar apa yang sudah ia dapatkan semalam.
Sebuah keperawanan yang harus ia bayar sangat mahal karena memberinya rasa yang sangat istimewa.
"Maaf pak, kami belum buka," ucap Yudhi yang bertemu dengannya di depan pintu.
"Tapi aku ingin sekali sarapan. Omlet atau bubur ayam bolehlah," ucapnya memberi alasan. Ia ingin sekali masuk ke dalam karena gadis itu.
"Maaf, kami tidak menyediakan menu seperti itu disini. Anda bisa mencari warung makan lain pak." Yudhi tetap menolak. Ia tidak akan melayani pelanggan jika Cafe belum siap betul.
"Ah ya baiklah," ucap Dewa pasrah. Pria itu pun pergi dari sana dan segera masuk ke mobilnya.
"Aku akan menunggumu disini sayang. Sungguh, aku rela membayar banyak yang penting kamu masih mau melayaniku sepanjang waktu," ucapnya seraya mengelus senjatanya yang kembali berdenyut dan menggeliat garang di dalam boksernya.
Pria itu pun masuk ke dalam mobilnya dan membawanya parkir di seberang jalan agar pria tampan yang ia yakini sebagai pemilik Cafe itu tidak curiga padanya.
"Oh ya ampun, siapa namamu sayang, kenapa semua yang kamu miliki semalam tak bisa aku lupakan?" gumam Dewa seraya menutup matanya membayangkan apa yang ia lakukan pada tubuh gadis itu.
"Indah dan sangat lezat, aaargh," ucapnya mendessah nikmat. Tubuhnya menegang sempurna saat ia membayangkan cengkraman gadis itu pada inti tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu pasif saja kenapa begitu lezat apalagi kamu aktif sayang, aku pastikan kalau hanya kamu yang bisa membuat aku gila seperti ini."
Drrrt
Drrrt
Fantasinya pada gadis itu tiba-tiba terjeda karena handphonenya berbunyi dan memanggilnya untuk diangkat.
"Ada apa?!" tanyanya marah pada si penelepon.
"Mr. Takana dari Jepang sedang dalam perjalanan ke Perusahaan pak," jawab si penelpon yang tak lain adalah Juan, sekretaris pribadinya.
"Ah ya, saya akan segera kesana," balas Dewa dengan wajah yang masih kesal.
"Baik pak."
Dewa menutup panggilan telepon seraya melihat kembali ke arah Cafe berharap gadis itu bisa keluar sebentar saja agar perasaannya tidak kacau seperti ini.
Tak ada aktivitas di Cafe itu yang sangat menarik perhatiannya kecuali seorang cleaning service yang sedang membersihkan tempat itu.
Dewa pun menghidupkan mesin mobilnya dan segera melakukannya menuju perusahaan.
🌹
"Kak, aku ngantuk banget. Aku pulang dulu ya," ucap Yundha berpamitan pada sang kakak. Yudhi mengangguk saja karena ia sedang sibuk mengurusi pesanan bahan baku dari seorang distributor.
Yundha tak berkata-kata lagi karena ia memang merasa sangat mengantuk. Matanya seperti terkena lem karena sisa pengaruh obat tidur yang telah diberikan oleh Dewa semalam yang tidak ia ketahui.
Gadis itu segera mengambil mobilnya dan berniat untuk pulang dan tidur. Rasanya ia ingin tidur selamanya dan tak ingin bangun lagi jika ia ingat apa yang terjadi padanya.
"Astaghfirullah, ya Allah. Ampuni aku," ucapnya dengan tangis pecah. Sedih dan kecewa ia rasakan ketika ia menyadari kalau ia benar-benar telah kehilangan keperawanannya.
"Bajingan!" teriaknya seraya memukul setirnya.
"Aaaaargh!"
"Brengsek!"
Ia terus mengumpat dengan perasaan yang sangat marah.
"Kumohon ya Allah, jangan pernah mempertemukan kami lagi. Aku benci padanya!"
__ADS_1
Air matanya terus saja mengalir sampai membuat pandangannya kabur dan menabrak pohon besar di pinggir jalan.
Brakk!
"Aaaaargh!"
Untungnya kecepatan mobilnya tidak begitu tinggi hingga ia tidak terluka. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia segera meraih botol air minum yang selalu tersedia di dalam mobilnya. Ia meneguknya untuk menghilangkan rasa kaget, takut, dan khawatirnya.
"Astaghfirullah, ya Allah," ucapnya dengan perasaan yang masih sangat kaget.
"Mbak gak apa-apa?" tanya beberapa warga seraya mengetuk kaca mobilnya.
Yundha menyusut airmatanya kemudian berusaha untuk tersenyum. Perasaannya sudah lebih baik sekarang. Ia pun membuka kaca mobilnya seraya berucap, "Maafkan saya pak. Saya lagi kurang sehat jadi gak konsentrasi hehehe," kekehnya meminta maaf.
"Lain kalo sakit jangan nyetir dong mbak. Bisa membahayakan orang tahu!" gerutu seseorang yang sedang melongok ke dalam jendela mobilnya.
"Maaf pak. Makasih banyak." Yundha tersenyum lagi kemudian segera memundurkan kendaraannya agar bisa kembali seperti semula.
Piip
Gadis itu segera melajukan kembali mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Ia benar-benar sangat kacau sekarang.
Dalam hati ia bersyukur karena dirinya tak terluka. Entahlah dengan mobilnya. Ia tak peduli.
Tak lama kemudian ia pun sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam istana megah itu dengan langkah cepat. Rasa sakit dan perih karena robekan pada selaput daranya tak ia hiraukan.
Ia hanya ingin mengunci dirinya di kamar dan berharap ingatannya tentang pria itu benar-benar hilang dari dalam kepalanya.
"Yundha, kok baru pulang sayang?" tanya Merry yang sedang duduk santai di ruang keluarga bersama dengan Hanum, sang ibu tiri.
"Assalamualaikum ma. Maaf, aku nginap di rumah teman dan lupa kirim kabar," ucapnya seraya menyalami dua orang mamanya itu.
"Oh gitu? Lain kali jangan seperti itu ya sayang. Kami semua khawatir lho," ucap Merry tersenyum.
"Iya ma. Maaf. Aku ke kamar dulu ya, masih pengen tidur," ucap gadis itu kemudian segera berlalu dari hadapan sang mama yang menatapnya khawatir dan juga curiga.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1