Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 274 Dasar Dosen Mesum!


__ADS_3

Revalda menatap David dengan tatapan tajam setajam silet. Dadanya naik turun menahan emosi dihatinya. Ia sudah cukup bersabar sampai acara ramah tamah itu selesai karena tak ingin membuat sang dosen malu di depan rekan-rekan kerjanya.


"Bapak maksudnya apa sih?" tanya gadis itu kesal.


"Aku gak ada maksud apa-apa. Jadi sekarang kamu naik dan aku antar pulang," jawab David santai sembari membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Aku gak mau ikut. Aku masih punya urusan penting dengan seseorang di sini." Revalda tetap saja berdiri di samping mobil itu dan menolak untuk naik.


"Urusan apalagi? Semua tamu acara sudah pulang kecuali kamu ingin menginap disini bersama dengan aku, ya itu bisa aku pertimbangkan."


"Ish!" Revalda mencebikkan bibirnya kesal.


"Itu sih maunya bapak tapi sayangnya aku tidak mau."


"Kalau begitu aku akan mengantar kamu pulang."


David tidak peduli dengan penolakan Revalda dan tetap meminta gadis itu untuk naik ke atas mobilnya.


"Bapak kenapa mau maksa aku sih, aku bisa pulang sendiri lho. Kita juga gak sedekat itu jadi bapak tidak perlu mengantar dan sok akrab banget sama aku. Ada adik aku kok di tempat parkir!" jelas Revalda panjang kali lebar.


"Sayangnya aku sudah meminta Fariz untuk pulang. Jadi kamu tetap akan pulang bersama denganku. Titik!" tegas David.


"Astaghfirullah. Maksud bapak apa?!" tanya Revalda dengan dada naik turun karena semakin kesal dan emosi.


"Aku sudah cukup sabar ya pak. Aku diam saja sewaktu bapak mengakui aku sebagai calon istri padahal aku sendiri sudah punya calon suami. Tapi sekarang aku tak mau lagi mengikuti keinginan bapak. Ini sudah cukup!"


David tersenyum samar dengan perkataan Revalda. Pria itu pun lalu naik ke atas mobilnya kemudian mengambil handphone milik gadis itu.


"Kamu ingin ini?" tanya David seraya menunjukkan benda itu pada Revalda. Ia mengayun-ayunkan benda pipih itu untuk memberikan pancingan pada Revalda.


Gadis cantik yang tadinya kesal dan marah itu langsung melongo tak percaya.


"Itu 'kan handphone aku pak. Kok bisa ada sama bapak sih?!" tanyanya bingung. Ia langsung menghampiri pintu mobil David karena sangat penasaran.


"Kalau kamu mau ambil, ayo naik sini dan ikut aku sekarang juga," jawab pria itu dengan tatapan serius pada Revalda. Tanpa melawan lagi, gadis itu pun ikut naik ke atas mobil David. Ia seperti terkena hipnotis hanya karena ia sangat menginginkan handphonenya kembali.


"Apa imbalan aku karena mendapatkan handphone kamu?" tanya David seraya melajukan mobilnya dan meninggalkan hotel itu.


"Seperti yang aku katakan di pesan yang aku kirim sebelumnya pak. Aku akan membayar sesuai harga handphone itu," jawab gadis itu seraya mengeluarkan isi dompetnya. Uang tunai belasan juta seharga benda pipih elektronik itu ia berikan kepada David.


"Aku tidak ingin uang itu Val," jawab David santai.

__ADS_1


"Lalu bapak mau apa?" tanya Revalda bingung.


"Aku ingin kamu menjadi istriku seperti yang aku bilang pada semua rekan sesama dosen."


"Apa pak? Jangan bercanda ya. Aku ini udah jadi tunangan orang lain. Gak mungkinlah kalau aku mempunyai suami dua orang. Apalagi hanya karena sebuah handphone."


David tersenyum tanpa mau menjawab perkataan gadis itu.


"Jadi kalau bapak benar-benar menginginkan hal itu. Bapak bisa ambil kembali handphone aku."


"Oh ya?" David memandang Revalda sekilas kemudian mengarahkan kembali pandangannya ke arah jalanan yang ada dihadapannya.


"Tentu saja pak. Aku tidak mungkin mempermalukan keluarga aku hanya karena keinginan bapak yang sangat tidak masuk akal itu."


"Gak masuk akal apanya? Aku ini teramat tampan, mapan, dan juga banyak wanita yang ingin menjadi istriku. Lalu?"


"Lalu aku harus bilang wow gitu?" jawab Revalda dengan wajah kesalnya. Meskipun begitu, hatinya tetap membenarkan kata-kata pria itu. David memang memiliki segalanya sebagai seorang pria dan juga calon suami.


"Ya bilang aja wow. Gak masalah dengan aku."


"Ish!" Gadis itu membuang wajahnya ke samping. Rasanya ia sangat kesal pada pria itu. Dalam hati ia sebenarnya sering memuji ketampanan sang dosen tapi karena tertutupi oleh perasaan kesal makanya tak ada kebaikan dan kelebihan yang ia lihat.


"Tidak akan pak. Jadi silahkan ambil saja handphone ku itu tapi biarkan aku mengosongkan memorinya terlebih dahulu."


"Gak bisa. Semua isinya adalah milik aku. jadi kamu tidak boleh lagi memintanya kembali jika kamu tidak menuruti kemauan aku."


"Dasar dosen mesum!"


"Lho? Emangnya ada hubungannya?" tanya David dengan bibir yang terasa ingin tersenyum.


"Tentu saja ada hubungannya. Bapak sudah lihat foto-foto aku yang ada di dalam 'kan?"


David tidak menjawab karena harus berkonsentrasi dengan keramaian jalanan dihadapannya.


"Ayo jawab pak!"


"Kalau iya kenapa?"


Revalda terdiam dengan dada mendidih marah.


"Bapak sangat tidak sopan tahu gak?" jawab Revalda dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, ia sangat malu dan juga khawatir jika ada orang lain yang bukan suaminya melihatnya dengan kondisi seperti itu.

__ADS_1


Foto-foto itu adalah koleksi pribadinya saja yang tak akan pernah ia ekspose ke depan umum. Itu adalah ekspresi dari ilmu fotografi yang pernah ia pelajari.


"Seharusnya apa yang bapak lihat itu hanya bisa dilihat oleh seseorang yang halal untukku dan bapak? Kita tak ada hubungan apapun untuk itu." Revalda berucap seraya menyusut airmatanya.


"Kalau begitu menikahlah denganku karena aku sudah melihat semuanya," ucap David dengan dada berdebar.


"Aku sudah bilang kalau aku akan menikah dengan orang lain pak David! Aku tidak mungkin membatalkan kesepakatan dua keluarga ini!" kesal Revalda. Andaikan ia berani dan tak ingat sopan santun, rasanya ia sudah sangat ingin meremas wajah tampan pria itu.


"Gak masalah bagiku. Eh, memangnya kamu sangat mencintai tunangan kamu itu? Sampai tak mau menerima aku?"


Revalda terdiam.


Ia mulai menanyakan pada hatinya tentang perasaannya pada calon suaminya itu.


"Aaa sudah. Aku gak mau jawab. Jadi karena rumah aku sudah sampai. Aku ucapkan terimakasih banyak pak David!" ucap gadis itu kemudian menunggu mobil itu berhenti.


"Kamu gak ngajak aku singgah Val?" ucap David berbasa-basi.


"Tidak pak terimakasih."


"Padahal aku ingin sekali bertemu dengan calon mertua Aku."


"Ish! Ngimpi!"


David pun tertawa kemudian turun dari kendaraan itu dan membukakan pintu untuk Revalda. Gadis itu pun turun kemudian menatap pria itu dengan wajah bingung.


"Bapak tahu darimana kalau aku tinggal di sini?" tanyanya.


Sejak tadi ia merasa tak pernah memberi tahu alamat rumahnya pada pria itu tetapi kok ya, dia bisa tahu ya?


Cup


David mengecup pipi Revalda kemudian pergi dari tempat itu.


"Dasar dosen mesum!" teriak gadis itu kesal.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2