Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 155 Penjahat Wanita


__ADS_3

"Brengsek kamu!" geram Yundha disela gigi-giginya. Ia mendorong pria bajingan itu dengan keras saat Dewa ingin mencuri ciumannya lagi.


Satu kecupan singkat masih bisa ia maafkan tapi pria ini malah berani memperdalam ciumannya dan ingin menambah lagi.


"Dasar pria mesum!"


Dewa terkekeh kemudian kembali ke tempat duduknya dengan santai.


"Bagaimana rasa ciumanku?" bisik pria itu dengan suara beratnya. Entah kenapa ia sangat menyukai ekspresi kesal dari adik Yudha Abdullah itu.


Yundha merasakan dadanya mendidih. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarahnya agar tidak meledak di tempat itu.


Sekali lagi pria itu bicara maka ia dengan senang hati akan memberikan satu pukulan telak pada wajahnya yang sangat menyebalkan tapi sayangnya sangat tampan dan maskulin itu.


"Hem, baiklah. Sepertinya aku harus diam atau kamu akan menelan aku bulat-bulat," ucap Dewa seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang terasa sangat empuk di bagian belakangnya itu.


"Aku tidak tahu apa dosaku dimasa lalu hingga bisa dipertemukan denganmu pria brengsek tak tahu malu!" geram Yundha dengan suara rendah.


"Hum, aku malah sebaliknya Yundha sayang. Aku tidak tahu kebaikan apa yang pernah aku lakukan hingga Tuhan mempertemukan aku dengan dirimu."


"Diam!"


Dewa tersenyum samar.


"Aku sangat membencimu apa kamu tahu itu?!" lanjut Yundha dengan suara yang ia tekan agar penonton yang ada di sampingnya tidak mendengar perdebatan mereka berdua.


"Hati-hati dengan kata benci sayang, karena jaraknya sangat tipis sekali dengan kata cinta."


"Cih!"


"Gak percaya? Coba kamu buktikan saja semua yang aku katakan padamu maka aku yakin kamu akan gelisah jika tidak bertemu denganku. Bencimu akan jadi cinta yang berlipat-lipat!"


"Percaya diri sekali!" cibir Yundha dengan wajah yang masih sangat kesal.


Dewa tersenyum santai seraya menatap gadis itu yang juga sedang menatapnya dengan tajam.


Yundha tiba-tiba saja merasakan dadanya berdebar kencang. Ia pun segera menarik tatapannya karena tak sanggup membalas tatapan mata elang pria itu yang seakan ingin membawanya pergi jauh.

__ADS_1


Dewa kembali tersenyum, ia pun mengarahkan pandangannya pada layar lebar di hadapannya. Untuk sementara ia ingin menikmati tayangan film yang sedang ditonton oleh semua orang yang ada di dalam gedung itu.


Dan juga ia ingin memberikan waktu untuk Yundha untuk menikmati film yang sama agar saat mereka sudah berdamai, mereka bisa mengenang kisah ini.


Sepi, yang kedengaran hanyalah tayangan adegan film di layar besar dalam gedung itu.


Tak ada lagi perdebatan antara Dewa dan Yundha. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Begitu pun dengan penonton lainnya yang sibuk menikmati adegan demi adegan yang tersaji dalam tayangan di dalam layar di hadapan mereka semua.


Tak lama kemudian lampu pun menyala, hal itu menandakan film telah usai. Semua orang bergegas untuk keluar.


"Jangan jauh-jauh dariku sayang," ucap Dewa seraya menggenggam tangan Yundha.


"Lepaskan aku atau..."


"Atau apa?"


"Aku akan berteriak kalau kamu ingin melakukan hal yang buruk padaku."


"Oh ya? Coba saja," seringai pria itu. Yundha mencibir.


Dewa tersenyum. Ia pun melepaskan tangan Yundha dan memberinya sebuah hampers yang sudah Ia siapkan untuk gadis itu.


Bukan ia takut tapi ia ingin menjaga nama baiknya sebelum menjadi anggota keluarga mereka atau ia tidak akan mendapatkan kesempatan jika ia berbuat ulah sekarang.


"Apa ini? Aku gak menerima apapun dari kamu ya!" ucap Yundha seraya mengangkat hampers ditangannya.


"Ambil atau aku akan mencium kamu lagi di tempat ini!"


"Dasar pria mesum!" Yundha semakin kesal.


"Baiklah, aku pergi. Nantikan aku di dalam mimpimu ya," ucapnya dan segera pergi dari tempat itu.


"Brengsek! Kamu pikir aku akan memimpikan kamu hah?! Emangnya aku bodoh?!" Yundha menghentakkan kakinya dengan sangat kesal.


"Hahaha!" Dewa tertawa dengan tawanya yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


Yundha merasakan dadanya mendidih lagi. Rasa bahagianya karena tidak positif kini sudah menguap di udara. Moodnya langsung memburuk. Ia pun segera keluar dari tempat itu juga dan langsung ingin pulang. Akan tetapi langkahnya tertahan di depan pintu karena Selfina mengajak dirinya dan Denia ke lantai tiga pusat perbelanjaan itu.


Perempuan cantik berhijab itu ingin tahu siapa yang punya tespeck yang ia temukan di dalam kamar mandi tadi diantara dua gadis dewasa itu.


"Mbak Sel, aku lagi capek banget. Sejak pagi aku belum istirahat. Jadi aku pulang duluan ya," ucap Yundha berusaha untuk pamit dan kabur.


Denia pun mengucapkan kalimat yang sama. Ia menolak untuk diajak shopping lagi meskipun ia akan mendapatkan gratisan. Ia sudah sangat mengantuk dan juga ingin pulang untuk tidur.


"Hum, baiklah. Lain kali kita jalan bareng ya, aku ingin mengajak kalian untuk memilih pakaian bayi untuk calon baby kami," ucap Selfina pasrah.


"Iya mbak. Lain kali aja saat kita punya waktu yang cukup banyak. Sekarang waktunya tidak tepat. Kami udah lelah banget," ucap Yundha kemudian menguap.


"Hati-hati lho nyetirnya. Kalau ngantuk bisa berabe lho," ucap Selfina tersenyum.


"Iya mbak. Aku nanti bawa mama pulang ya, nanti kak Yudhi antar mama Hanum dan yang lainnya."


"Okey siap! Aku suka ikut kak Yudhi. Dia pasti beli makanan lagi untuk cemilan malam, hehehe," jawab Denia terkekeh.


Yundha mendengus.


"Aku juga keles!"


"Iya. Makasih jam tangannya ya kak, meskipun bukan kamu yang bayar tapi pacar kamu yang tajir itu hahaha!"


"Ish! Aku udah bilang kalau dia bukan pacarku!"


"Terserah! Tapi ia lebih baik daripada kak Aril lho kak," ucap Denia seraya mengedipkan matanya.


"Tidak!" teriak Yundha kemudian segera pergi dari tempat itu. Ia akan selalu kesal jika ada yang membicarakan Dewa dan segala pesona dan kebaikannya.


Kalian tidak tahu saja kalau pria itu adalah bajingan dan juga penjahat wanita!


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2