
Yudha membuka matanya perlahan. Bunyi panggilan pada handphonenya yang tak berhenti membuatnya harus mengumpulkan nyawanya dulu baru meregangkan otot-ototnya.
Setelah itu tangannya menggapai benda pipih elektronik yang tersimpan di samping head board ranjangnya. Melihat siapa yang memanggil membuatnya sangat malas.
"Sial! Ngapain lagi tuh si mama genit nelpon aku pagi-pagi begini!" Yudha menggerutu kesal. Jarinya dengan cepat menekan tombol bulat merah pada panggilan itu kemudian melemparkan handphonenya itu ke sembarang arah.
"Dasar tak tahu waktu!"
Huffft
Ia menarik nafas beratnya untuk melonggarkan dadanya yang sedang emosi.
"Bikin mimpiku ketemu Selfina jadi ambyar!" geramnya kesal.
Menutup matanya kembali berharap gadis cantik yang sangat disukainya itu muncul lagi menghiasi tidurnya tapi ternyata tidak berhasil.
Selfina seakan pergi entah kemana padahal tadi sudah hampir ia dapatkan.
"Sial!" Ia menggerutu lagi kemudian membuka matanya. Ia mencoba meraih handphonenya yang sudah ia lempar tadi. Melihat waktu yang ada disana kemudian menguap.
Matanya memandang ke sekeliling ruangan kamarnya yang sangat luas itu kemudian menarik selimutnya kembali. Ia masih sangat mengantuk padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Rasanya ia begitu malas untuk bangun dan datang ke Perusahaan untuk bekerja. Tubuh dan pikirannya ingin beristirahat sejenak.
Semalaman ia menghabiskan waktu dengan berolahraga untuk melupakan sejenak permasalahan keluarganya.
Kasus Maher Abdullah sang papa yang sudah mulai masuk dalam tahap pengumpulan bukti-bukti kini membuatnya harus meluangkan waktu dan tenaganya menjadi saksi dan kadang jadi pendamping Pria itu.
Bagaimana pun juga sebagai anak dan pewaris dari sebagian harta kekayaan pria itu ia juga terseret-seret untuk dimintai kesaksian seperti pada kasus percobaan pemerkosaan pada Ardina.
Belum lagi tentang tuduhan pencucian uang atas kepemilikan ladang ganja itu. Ia dan ketiga mamanya terkadang dipanggil untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan oleh penyidik.
Untungnya sang papa tidak pernah terlibat korupsi di perusahaan jadi untuk sementara perusahaan itu aman dibawah kepemimpinannya sekarang.
Dan, di tempat gym adalah tempat yang paling sering ia gunakan bersama dengan teman-temannya untuk melupakan sedikit saja permasalahan pelik dalam keluarganya.
Baginya tempat lain untuk melepaskan penat seperti Club sama sekali tidak memberikannya solusi. Ia takut mabuk dan bertemu dengan gadis-gadis nackal dan malah menambah masalah dalam keluarganya.
Ceklek
Kupingnya mulai menangkap bunyi pintu kamarnya yang dibuka dari luar. Pria itu langsung menarik selimut sampai diatas kepalanya agar ia nampak seperti sedang tertidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1
Dan tidak bisa diganggu.
"Yudha!" teriak Merry, sang mama bagaikan bunyi petir di siang hari.
Dengan pelan ia pun membuka selimut itu sampai wajahnya saja.
"Ya ampun. Kamu belum bangun Yudh!?" ucap perempuan paruh baya itu dengan wajah tak senang.
Yudha hanya tersenyum meringis kemudian segera bangun dan kabur ke kamar mandi. Ia harus menghindari amukan mamanya saat ini.
Merry, seperti biasa akan menyatroni semua kamar anak-anaknya setiap pagi untuk memastikan semuanya bangun dan melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Yudha sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi. Pagi ini ia sedang sangat malas untuk beraktivitas. Ia ingin menikmati waktu sendiri di dalam kamar sambil bermain mobil legend favoritnya.
Mandi yang cukup lama sampai ia benar-benar merasa sangat segar dan mempunyai semangat lagi barulah ia keluar dari sana.
Nampak dimatanya kalau Merry masih betah berada di dalam kamarnya dan sengaja menunggunya.
Ia ingin kembali masuk ke kamar mandi karena takut kena ceramah subuh tapi baru saja ia berbalik suara sang mama langsung menahannya.
"Hey! Jangan pergi kamu!"
"Maaf ma. Aku kira mama gak ada disini hehe," ucapnya cengengesan.
"Udah jam berapa ini? Presdir kok belum berangkat kerja padahal sudah siang." Yudha tersindir karena mamanya memang sengaja menyindirnya.
"Yang mama tahu kamu itu disiplin orangnya. Apakah ada masalah sampai beberapa hari ini kamu tidak bekerja? Katakan pada mama ada apa?"
Yudha tersenyum kemudian duduk di samping mamanya. Ia mengelus lembut punggung tangan perempuan itu yang sudah mulai tampak keriput.
"Aku sedang malas ma. Boleh kan aku libur lagi?"
"Eh mana ada yang seperti itu? Kamu masih muda dan juga sehat. Tak boleh ada kata malas."
"Mama, plis."
"Plas plis, gak ada! Kamu mau perusahaan itu pun diambil oleh orang lain? Sementara kita jadi gigit jari? Cuma kamu satu-satunya harapan keluarga ini. Adik kamu masih kecil-kecil sedangkan tanggung jawab papamu banyak."
Yudha membuang nafasnya pelan. Ia tak menyangka kalau masalah yang telah dibuat oleh papanya harus ia tanggung sendiri dengan menjadi seorang kepala keluarga untuk tiga orang istri. Belum lagi dengan adik-adiknya yang lumayan banyak.
"Semalam aja kamu pulang telat banget. Kamu begadang dimana? Yang kayak gini nih yang bikin kamu jadi malas bekerja."
__ADS_1
"Aku juga butuh waktu dengan teman-teman ma. Permasalahan papa yang tidak ada habisnya ini membuat kepalaku pusing."
"Nah, mama ada solusi supaya kamu tidak pusing. Kamu kayaknya udah perlu seseorang yang bisa membuatmu bersemangat," ucap Merry dengan senyum diwajahnya.
Yudha hanya diam. Ia menatap mamanya dengan wajah curiga.
"Maya, putri salah satu direksi di perusahaan itu suka lho sama kamu. Ayahnya udah pernah ngomong untuk menjodohkan kamu dengannya. Bagaimana kalau kamu mencoba untuk mengenalnya Yud."
"Aaaaaa mama. Aku belum berniat menambah istri dan tanggung jawab cukup 3 istri Papa saja sudah membuatku pusing."
"Yudha! Ini beda!"
"Udahlah ma. Aku sedang tak ingin menambah beban baru."
"Ya ampun ini anak! Kamu belum ketemu Maya saja jadi kamu ngomong seperti itu. Kedudukan papanya sangat penting sebagai back up mu untuk tetap menjadi presiden direktur di perusahaan itu."
"Aku punya calon istri yang lain ma."
"Apa?"
"Iya, nanti aku pertemukan mama dengannya tapi tidak sekarang. Aku lagi malas ke Perusahaan hari ini."
"Yudha!"
"Ma, plis."
Merry pun akhirnya keluar dari kamar sang putra dengan mengomel. Padahal ia sangat menyukai gadis yang bernama Maya itu. Tapi ia tidak akan memaksa kalau Yudha tidak mau.
"Tapi eh, bukankah mereka harus bertemu dulu ya?" gumamnya.
"Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta, ah itu adalah pepatah lama yang masih berguna untuk Yudha dan Maya."
Dengan langkah cepat ia segera menuju kamarnya untuk mencari handphone. Ia ingin menghubungi Maya agar datang menemui Yudha di rumah itu untuk berkenalan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan Komentar dong 🤭
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1