
"Kamu gak bawa ini Nda?" tanya Merry saat sang putri sudah hampir sampai di pintu kamarnya. Ia mengangkat sebuah hampers yang ia ambil dari atas mobil gadis itu tadi.
"Ah iya ma lupa," jawab Yundha dengan senyum cengengesan. Ia pun meraih hampers itu kemudian mengecup pipi sang mama. Sebenarnya ia sengaja tidak membawanya turun dari mobil karena ia tidak berminat samasekali.
"Selamat malam ma," ucapnya.
"Selamat malam sayang," balas Merry. Mereka pun berpisah dan sama-sama menuju kamar masing-masing.
Yundha segera masuk ke dalam kamarnya dengan kedua bahu menurun. Ia baru merasakan perasaan lelah lahir dan juga batin. Akan tetapi matanya tiba-tiba berbinar saat melihat ranjang empuknya.
Ia pun langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur berwarna biru muda itu dengan perasaan yang sangat nyaman.
"Uggh Alhamdulillah, akhirnya aku bertemu denganmu," ucapnya seraya memeluk boneka beruang kesayangannya. Matanya hampir tertutup tapi ia teringat kalau ia harus mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Akhirnya ia bangun dengan malas-malasan. Ia benar-benar tak ada mood lagi untuk berganti pakaian tapi ia ingat bahwa ia pun seharian tidak mandi dan berada di luar rumah.
"Uggh, lelah dan ngantuk," ucapnya seraya berjalan ke arah lemari pakaiannya dan meraih sebuah pakaian tidur tipis dan pendek yang sangat nyaman ia pakai. Ia pun masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kurang bahan itu sekaligus mandi dengan air hangat agar tidak terlalu merasa lelah.
"Oh ya ampun, ternyata si brengsek itu benar. Tapi kok aku gak pernah perhatikan ya?" gumamnya saat melihat sebuah tahi lalat kecil di payu*dara bagian kanannya.
"Oh tidak! Lalu apa saja yang ia lakukan pada tubuhku?" Gadis itu berteriak seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ish! Kesal!" Yundha menghentakkan kakinya dengan sangat marah.
"Entah apa yang harus aku lakukan untuk membalas penjahat wanita itu!"
Ia terus bermonolog untuk meredakan Kekesalannya. Setelah semua urusannya selesai di dalam kamar mandi itu ia pun keluar dari sana dengan tubuh segar tapi sayangnya hatinya belum juga merasa baik-baik saja.
Kepalanya terus berpikir bagaimana caranya ia membalas pria itu.
"Untungnya aku gak hamil. kalo tidak, aku bisa saja mendapatkan penderitaan yang berlipat-lipat," ucapnya dengan senyum diwajahnya.
"Tapi kak Aril? Apa ia akan menerimaku yang sudah tidak suci ini?"
"Oh tidak. Kenapa nasibku begitu buruk seperti ini ya Allah?"
__ADS_1
"Aaaaa! Brengsek!" Yundha berteriak keras karena menyesalkan semua yang telah terjadi padanya.
Rasa kantuknya langsung menguap. Akhirnya ia meraih handphonenya dan membuka sebuah aplikasi berbalas pesan.
"Kak Aril membalas chat aku hanya dengan emoticon senyum. Apa ia tidak ada kata-kata lain untuk menyenangkan hatiku?" gumamnya dengan perasaan yang sangat kacau.
"Apa aku menelponnya saja dan menyatakan permintaan maafku secara langsung?" ucapnya lagi sembari berpikir.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Panggilan video tanpa nama? Siapa?
Ia membatin dan tanpa sadar menggulir tanda kamera berwarna hijau pada layar handphonenya. Dan secara otomatis langsung menerima panggilan itu.
Padahal tak ada nomor itu di dalam daftar kontaknya.
"Kamu?"
Dewa tersenyum. Satu tanda syukur karena nomor yang diberikan oleh Dony adik Yundha adalah benar. Dan gadis itu langsung menerima panggilannya.
"Eh ngapain kamu telpon aku hah?" teriak Yundha dengan perasaan yang sangat kesal.
Dewa masih bertahan dengan senyum penuh makna di wajahnya. Ia tidak menyangka dengan langsung menelpon lewat panggilan video seperti ini bisa membuat dirinya sangat bahagia.
Semua keindahan yang sangat ia rindukan terpajang cantik di hadapannya. Yundha yang hanya menggunakan lingerie seksi melotot padanya dengan marah.
"Darimana kamu dapatkan nomor aku hah?!" Gadis itu benar-benar tidak sadar kalau ia sedang sangat cantik di depan mata pria mesum itu.
"Aku cuma ingin menanyakan tentang hampers itu sayang. Apa kamu sudah membukanya?" tanya Dewa dengan tatapan tak lepas pada bagian depan Yundha yang sangat terbuka dan juga transparan.
Indah dan sangat kencang.
__ADS_1
Rasanya ia masih sangat ingin mereguknya dengan menggunakan bibir dan lidahnya.
"Aku tidak akan membukanya sampai kapanpun. Jadi kamu tidak perlu repot-repot memberikan itu padaku!" balas Yundha seraya mondar-mandir tak jelas. Dan akhirnya berakhir di atas ranjang sambil bersandar pada head board ranjang itu.
Ia betul-betul tidak sadar kalau gayanya saat ini sedang sangat mengundang senjata Dewa menggeliat garang. Sebuah senjata yang sudah lama tidak bertarung dan menembakkan pelurunya.
Terakhir kali di malam yang sangat indah itu.
Dewa sengaja membawa gadis itu untuk berdebat lama-lama agar ia tidak menyadari kalau ia sudah menang banyak. Ia sangat puas dan sangat menikmati pemandangan indah itu.
"Cobalah buka hampersnya sayang. Ada hadiah yang sangat spesial untukmu yang sangat cantik dan indah," ucap Dewa membujuk.
"Ish! Meskipun itu berlian satu kilogram tak akan aku buka karena aku akan segera menikah dengan orang yang sangat aku cintai!"
Wajah Dewa langsung berubah warna. Ia kesal.
"Hanya aku yang akan kamu nikahi ngerti kamu?"
"Cih!" Ia kembali mencibir.
"Kamu gak sadar kalau kamu sedang mengandung anakku Hem?"
"Jangan bikin aku ketawa ya. Kamu pria impoten mana bisa membuat aku hamil! Ngimpi!"
Dewa kesal dan langsung mengarahkan kamera handphonenya pada bagian bawahnya yang sedang berdiri dengan tegak bagaikan tombak keadilan.
"Tidaaaaaaak!"
Yundha langsung melempar handphonenya sendiri dan berteriak histeris.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.