Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 137 Rencana Dewa


__ADS_3

Yundha memasuki kamarnya dan langsung membuka gaun yang ia kenakan sejak semalam. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan lagi dirinya yang terasa masih sangat kotor.


Sebelumnya, ia sudah sempat mandi di dalam apartemen pria itu tapi rasanya ia belum juga merasa bersih. Apalagi bekas atau tanda yang diberikan oleh bibir pria itu pada tubuhnya kini sudah semakin tampak jelas di beberapa bagian tubuhnya.


"Brengsek! Bajingan!" teriaknya saat melihat tampilan dirinya di dalam kaca. Di bagian dada dan lehernya yang paling banyak.


"Aaaaargh tidak!" Yundha berteriak keras seraya menjambak rambutnya. Ia menangisi nasibnya yang sudah ternoda.


"Apa aku masih bisa mengangkat wajahku di depan kak Aril? Huaaaa!" Yundha semakin histeris. Janjinya akan setia pada pria yang selama ini sangat ia sukai kini terasa menguap ke udara. Tak ada lagi yang tersisa. Ia benci dirinya yang sudah ternoda.


"Aaaaargh!" kembali ia berteriak dengan keras karena sakit hati yang ia rasakan menghimpit dadanya.


Ia terduduk di lantai kamar mandi dibawah guyuran shower seraya memeluk lututnya. Air matanya luruh bersama dengan air dari kran.


Sakit! Sungguh, ia sangat sakit hati pada keadaan yang menimpanya. Rasa sesal karena mau saja percaya pada pria itu kini semakin menyeruak ke permukaan.


"Aaargh, seharusnya ini tidak terjadi jika aku tidak bodoh seperti ini. Oh tidak! Apa kata suamiku nanti kalau tahu aku sudah tidak perawan?"


"Huaaaa kak Aril, maafkan aku," ucapnya dengan tangis yang tak ingin berhenti.


"Apakah kamu akan menerima aku kalau aku sudah tidak suci lagi?"


"Oh tidak! Kamu pasti akan mencampakkan ku. Huaaa!"


"Dan bagaimana dengan mama? Apa kata mama nanti kalau tahu aku ternyata tidak bisa menjaga diriku. Oh tidak! Apa mama akan marah karena malu?"


Yundha terus saja menangis seraya bermonolog di dalam hatinya. Hingga ketika ia merasakan dirinya sudah sangat kedinginan karena terlalu lama berada dibawah guyuran shower barulah ia keluar dari kamar mandi.


Sholat, ia dirikan untuk membuat dirinya lebih tenang. Ia meminta kepada sang khalik agar musibah yang sedang menimpanya ini bisa ia jalani dengan sabar dan kuat.

__ADS_1


Setelah itu ia segera menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan raganya.


🌹


"Assalamualaikum Ma," ucap Yudha dari ujung sambungan telepon.


"Waalaikumussalam Yudh," jawab Merry seraya menghentikan kegiatannya mengaduk adonan kue yang sedang ia buat bersama dengan Hanum.


"Yundha, udah pulang gak ma?" tanya Yudha. Rupanya pria itu masih kepikiran juga dengan kabar sang adik bungsu.


"Alhamdulillah udah. Katanya ada acara di rumah temannya dan lupa memberi kabar," jawab sang mama dengan suara yang lebih tenang.


"Oh gitu? Tapi dia gak apa-apa 'kan ma?" tanya Yudha lagi.


"Gak. Emangnya kenapa?"


"Ah tidak. Cuma mau tahu aja sih. Soalnya aku telpon beberapa kali tapi dia gak ngejawab."


"Ah iya ma, yang penting anak itu baik-baik saja. Nanti kalo udah bangun, tolong dikasih tahu ya ma, malam ini aku undang ke apartemen. Selfina ada acara ulang tahun. Mama dan yang lainnya juga harus hadir."


"Iya, insyaallah. Mama panggil mama Hanum dan adik-adik mu juga ya?"


"Iya ma. Boleh. Ini acara keluarga aja sih. Kalau Yudhi, aku sudah hubungi tapi gak tahu tuh gak dia jawab. Mungkin masih kesal sama kami hehehe," kekeh Yudha.


"Ah gak kok. Mama yakin adikmu itu gak akan seperti itu. Pasti dia datang."


"Ya, semoga saja ma."


"Iya. Mama akan paksa dia datang. Jangan khawatir lah. Hubungan keluarga harus selalu terjalin nak. Gak boleh putus hanya karena hal kecil."

__ADS_1


"Ah iya ma. Makasih banyak. "


"Eh tapi kok kamu baru ngomong sih kalo Selfina ulang tahun? Kalian nginap disini tapi tak bilang-bilang."


"Maaf Ma. Aku juga baru tahu tadi. Tapi ini kejutan lho. Jadi kita akan bikin pesta surprise untuknya."


"Hahaha. Bisa ya suami dan bos sendiri gak tahu tanggal kelahiran istrinya, ckckck," decak Merry.


"Iyaa ma. Hahaha, semoga saja dimaafkan. Okey deh. Aku lagi ada meeting nih dengan pengusaha dari Jepang. Nanti kita ngobrol lagi ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


"Pak Yudha rupanya akrab banget ya sama keluarga?" tanya Dewa, salah satu relasi bisnisnya yang juga akan bekerjasama dengan pengusaha dari Jepang itu. Rupanya pria itu cukup tertarik dengan pembicaraan lewat telepon yang sempat ia curi dengar.


"Yah begitulah. Keluarga adalah pendukung pertama dalam segala urusan, pak Dewa memangnya belum kepikiran untuk berkeluarga ya?" ucap Yudha seraya memandang lawan bicaranya itu.


"Hemm, aku baru kepikiran tadi pagi. Dan kurasa aku akan segera menikah. Eh, Pak Yudha 'kan masih lajang ya, jadi kurasa aku akan mendahului bapak, hehehe," kekeh Dewa seraya membayangkan gadis yang sangat memberinya kepuasan semalam. Gadis yang tidak ia tahu namanya.


"Hemm ya ya ya, aku dukung pak Dewa. Kata orang menikah itu enak. Bisa menjaga hati dan juga kemalu*an," ucap Yudha berbisik dengan pikiran tertuju pada Selfina sang istri.


"Ya itu betul sekali pak Yudha, aku sudah sangat merasakannya hahaha." Dewa langsung tertawa dibuatnya.


Ia membenarkan kata-kata relasi bisnisnya itu dengan menikah maka hati akan terjaga dari memikirkan yang tidak-tidak dan juga tentu saja kemalu*an juga akan aman dari hal yang terlarang.


"Eh? Jangan membuat aku curiga ya pak," ucap Yudha dengan tatapan menyelidik.


Dewa hanya tersenyum penuh makna. Setelah acara meeting ini ia akan mendatangi gadis itu lagi untuk menyatakan pertanggungjawabannya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan komentar dong agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2