Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 148 Karena Kamu Milikku


__ADS_3

Dewa menghela nafas lega karena mamanya ada di dalam kamar itu. Itu artinya Yundha akan bisa langsung bertemu.


"Mama apa kabar?" tanya Dewa saat melihat perempuan kesayangannya sedang berbaring di atas tempat tidur. Rania tersenyum kemudian berusaha untuk bangun.


"Assalamualaikum tante," salam Yundha dengan mengulas senyum tipisnya. Gadis itu langsung menghampiri perempuan yang diaku sebagai mama oleh Dewa dan duduk di bibir ranjang perempuan itu.


"Waalaikumussalam. Kamu siapa?" Rania memandang wajah gadis cantik itu bergantian dengan wajah Dewa.


"Dia menantu mama,"


"Saya Yundha, tante,"


Dua orang itu menjawab secara bersamaan dan langsung membuat Rania tersenyum. Sedangkan Yundha langsung menatap Dewa dengan tatapan membunuh.


"Kamu cantik sekali sayang. Dan kamu mengingatkan mama kepada seseorang," ucap Rania dengan wajah yang tampak berpikir. Yundha langsung tersenyum lalu berucap, "Terimakasih tante. Eh katanya tante sakit ya?"


Rania mengangkat alisnya sebelah dan memandang Dewa yang langsung mengedipkan matanya sebelah berharap perempuan paruh baya itu mengerti kode yang ia berikan.


"Oh iya. Mama memang sakit tapi sekarang udah baikan kok karena kamu ada di sini," jawab Rania berusaha mengikuti sandiwara yang dibuat oleh sang putra.


"Alhamdulillah kalau begitu. Tante udah makan belum?" tanya Yundha lagi dengan penuh perhatian. Dewa yang ada di belakang Yundha langsung menggelengkan kepalanya berharap mamanya menjawab tidak atau belum.


Rania tersenyum kemudian meraih tangan Yundha dan menjawab, "Mama maunya makan sama menantu mama, boleh 'kan?" Yundha jadi merasa sangat ganjil dengan jawaban-jawaban dari perempuan ini. Ia pun berbalik dan melihat kebelakang dimana Dewa berada.


Pria itu sedang mengangkat dua jempolnya di depan wajahnya yang sangat tampan tapi juga sangat menyebalkan.


Yundha menyipitkan matanya dengan wajah yang sangat kesal sedangkan pria itu langsung meremas tengkuknya dengan wajah meringis.


Sepertinya pria brengsek itu jadi sutradara yang mengatur semua jawaban perempuan ini.


"Tante aku temani makan ya setelah itu tante minum obatnya agar segera sembuh."


"Baiklah sayang, mama setuju sekali. Mama memang belum makan siang," ucap Rania seraya bangun dari posisinya. Dada Yundha mendidih. Perempuan itu tampak baik-baik saja dan juga nampak sangat sehat jadi ia merasa sedang ditipu lagi oleh pria itu lagi.


Dengan perasaan yang sangat kesal ia pun menuju ke ruang makan bersama dengan perempuan paruh baya itu diikuti oleh Dewa di belakangnya. Mereka bertiga akhirnya makan dengan pikiran masing-masing.


Dewa tak berhenti melirik Yundha yang begitu perhatian kepada mamanya sedangkan wajah Yundha langsung ditekuk kesal ketika tanpa sengaja melihat wajah pria itu.


Rania banyak bertanya banyak hal tentang gadis itu yang hanya dijawab singkat-singkat oleh Yundha.


"Oh, jadi nama mamamu Merry? Trus ayahmu pak Maher Abdullah?"


"Iya Tante."


Dewa tercekat kaget. Itu berarti Yundha dan Yudha Abdullah adalah bersaudara.

__ADS_1


Oh tidak!


Kenapa ia tidak tahu?


"Mama adalah sahabat mamamu sayang. Nanti sampaikan salamku padanya ya. Mama udah lama gak ketemu lho dan ternyata ia mempunyai seorang putri yang sangat cantik seperti kamu," ucap Rania dengan wajah berseri-seri karena bahagia.


"Iya tante, nanti akan aku sampaikan salam Tante," ucap Yundha.


"Tapi mohon maaf karena aku harus segera pulang. Mama dan kakak ipar sedang berada di rumah sakit. Mereka pasti khawatir karena aku dibawa paksa oleh putra tante kesini."


"Apa?!" Rania melotot tak percaya. Ia menatap wajah Dewa dengan tatapan membunuh.


"Dewa!"


"Iya ma. Aku hanya bercanda ma," ucap Dewa dengan tangan ia lipat di depan dadanya.


"Baiklah tante, semoga tante selalu sehat dan panjang umur. Assalamualaikum," ucap gadis itu kemudian segera berdiri dari duduknya setelah berpamitan.


Ia jadi khawatir akan orang-orang di rumahnya karena pergi tak meminta izin sedangkan tas dan handphonenya masih ada di restoran itu. Ia tidak tahu apakah Aril mengambilnya atau tidak.


"Ah iya sayang. Kamu hati-hati ya. Kalau Dewa macam-macam jewer aja telinganya dan laporkan sama mama," ucap Rania tersenyum.


Yundha balas tersenyum kemudian segera meninggalkan tempat itu diikuti oleh Dewa.


Dewa melirik ke arah Yundha yang sejak tadi diam saja. Ia gelisah sendiri. Ia sangat suka kalau gadis itu marah padanya daripada diam saja.


"Bawa aku ke rumah sakit Internasional Hospital!" ucap Yundha setelah lama terdiam.


"Kamu mau periksa kandungan ya?"


Yundha langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Dasar brengsek! Kamu sangat ingin sekali aku hamil ya? Jangan ngimpi. Kamu tidak melakukan apapun padaku dan aku tidak mungkin hamil," geram Yundha dengan perasaan campur aduk.


"Kamu yakin aku tidak melakukannya hem?"


"Tidak!" tegas Yundha.


"Tapi aku sangat Ingat semua yang ada di tubuhmu sayang, ada tahi lalat kecil di salah satu milikmu yang sangat indah itu. Iyyakan?"


Yundha menganga tak percaya dengan kata-kata pria itu yang terasa sangat tidak sopan.


Ia mencibir. Ia begitu kesal dan juga semakin benci saja pada pria itu.


"Aku tidak punya tanda seperti itu dan aku yakin kamu pasti sedang mengigau. Hentikan mobilnya dan biarkan aku turun disini saja!"

__ADS_1


"Hey mana mungkin aku menurunkan calon istriku di sini padahal jarak rumah sakit masih ada puluhan meter."


"Aku tidak ingin berdua denganmu dan bahkan tak ingin dekat denganmu brengsek! Dan ya, aku aku akan melupakan kalau kita pernah bertemu jadi anggap kita tak saling kenal!"


Yundha merasakan dadanya semakin sesak. Ia marah dan emosi. Dewa tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan dihadapannya.


"Mana mungkin kita tidak saling kenal padahal aku sudah sangat mengenal dirimu sayang. Luar dan dalam." Dewa membalas dengan seringai diwajahnya.


"Tubuhmu yang sangat lezat itu masih sangat ingin aku rasakan," lanjutnya tanpa ada rasa malu sedikitpun.


Yundha mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia merasa sedang dikerjai oleh pria itu. Dan sekarang ia tak ingin membalas lagi. Ia yakin pria itu sengaja ingin membuat lelucon dan membuatnya marah.


Tanda kecil seperti tahi lalat itu tak ada di tubuhnya, itu yang ia tahu. Jadi sekarang ia tak mau membalas.


"Hentikan mobilnya di depan! Kita sudah sampai!" titah gadis itu saat mobil sudah sampai di depan bangunan rumah sakit. Dewa pura-pura tidak mendengar. Ia malah melajukan kendaraan itu masuk ke area Rumah sakit meskipun Yundha berteriak ingin diturunkan di depan jalan raya saja.


Yundha pun turun dari kendaraan mewah itu dan ingin langsung berlari ke dalam rumah sakit tapi Dewa segera menyusulnya.


"Hey mau kemana kamu?" tanyanya pada Dewa yang sudah berada di sampingnya.


"Aku ingin menemui mamamu dan mengatakan yang sebenarnya kalau aku adalah ayah dari bayi yang kamu kandung." Dewa menjawab dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Apa?!"


"Iya. Aku ingin melamar kamu dan mempertanggungjawabkan apa yang pernah aku lakukan padamu."


Plak!


"Pergi kamu dari sini brengsek!" teriak Yundha setelah berhasil memberikan tamparan keras di pipi pria itu.


"Aku tak menuntut pertanggungjawaban kamu. Aku tidak apa-apa. Dan aku sangat tak ingin bertemu denganmu lagi sampai kapanpun!"


Dewa tak bergeming. Ia bahkan langsung meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan sangat kuat. Baginya, Yundha adalah miliknya dan ia sangat tak terima penolakan.


"Hey lepaskan dia!"


Bugh


Satu pukulan keras langsung mendarat di rahang pria itu dari seseorang yang sangat ia kenal.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2