
"Masuklah sayang," ucap Rania seraya membuka pintu lebar-lebar untuk sang menantu kesayangan. Yundha balas tersenyum kemudian mengucapkan terimakasih.
"Kamu belum sholat magrib 'kan?" ucap Perempuan paruh baya itu dengan penuh perhatian.
"Iya ma. Gak sadar kalo udah magrib gara-gara perempuan gila itu ya ma. Dan ya, aku juga belum menghubungi mama di rumah, pasti udah khawatir banget sama aku." Yundha berucap dengan wajah tak nyaman.
"Kamu sholat aja dulu. Mama nanti yang akan hubungi mama kamu," ucap Rania seraya menyentuh putri dari sahabatnya itu.
"Iya ma. Terimakasih banyak."
"Iya sayang. Kamu sholat di kamar kalian saja deh. Bersih kok."
"Iya ma." Yundha tersenyum tak enak hati. Sejak pernikahannya dengan Dewa, ia tak pernah datang ke rumah mertuanya ini padahal ia Rania selalu memintanya untuk datang. Selain karena ia adalah seorang menantu satu-satunya di rumah itu ia juga adalah putri dari Merry, sahabat perempuan itu.
"Kamu memangnya tahu dimana kamar kalian?" goda Rania.
"UPS. Aku gak tahu ma. Maafkan aku karena gak pernah sekalipun datang kemari selama aku jadi menantu mama."
"Gak apa-apa. Mama cuma berharap mulai malam ini kamu bisa nginap disini."
Yundha hanya tersenyum. Ia tidak tahu apakah ia bisa menuruti kemauan mama mertuanya itu kalau ia dan Dewa belum bisa akur.
"Gak usah dipikirin, ayo cepat sholat. Setelah itu kita makan sama-sama," ucap Rania menyentak lamunannya.
"Ah iya ma. Aku juga pengen mandi sih gerah banget," ucap Yundha kemudian segera pergi ke kamar suaminya.
Pintu kamar itupun ia buka dengan dada berdebar. Suasana kamar pria nampak sangat jelas saat ia memasuki kamar itu. Warna-warna hitam cukup mendominasi seisi ruangan.
Dan entah kenapa aura Dewa yang sangat berbahaya terasa ada di sana. Sebuah lukisan pria itu sedang bertelanjang dada memperlihatkan dadanya yang bidang serta otot-otot bisepnya membuat hati Yundha semakin berdebar.
__ADS_1
Tatapan matanya yang tajam seolah-olah ingin mengikutinya.
"Kok aku merinding ya?" ucapnya pelan. Dengan langkah cepat ia pun segera ke kamar mandi.
"Lah kalau aku mandi tapi gak bawa pakaian ganti gimana caranya nih," ucapnya lagi.
"Gak mungkin aku pakai pakaian ini lagi. Ah, di lemari mas Dewa pasti ada dong kaos yang bisa aku pakai hehehe."
Segera ia mandi dan berwudhu' setelah itu ia keluar dari tempat itu.
Ia begitu kaget karena di atas ranjang sudah tersedia sebuah mukena dan pakaian santai yang lumayan sesuai seleranya.
"Ah ini pasti mama yang bawakan. Alhamdulillah aku punya mertua baik seperti mama Rania. Anaknya saja yang gak pedulian," ucapnya dengan bibir mencibir.
"Duh sialan si Jessica itu, mau nyulik aku hanya karena mau mengambil mas Dewa. Emangnya aku mau berbagi mertua yang sangat baik seperti mama Rania?" gerutunya dengan wajah kesal.
"Sabar ya dedek, kita akan makan kok," ucapnya dengan tangan mengelus lembut perutnya dan segera keluar dari kamar itu.
Rania ternyata sudah menunggunya di meja makan.
"Ayo sayang, kita makan. Ini menu andalan mama nih, kesukaan suami kamu. Cumi saus tiram." Perempuan paruh baya itu menyambutnya di ruang makan dengan sangat baik.
"Wah, kayaknya bukan mas Dewa aja yang suka ma. Aku juga, hehehe."
"Baguslah sayang. Tapi kalau ibu hamil itu alangkah bagusnya kalau makan sayuran yang mengandung kalsium yang banyak. "
"Ini mama siapin untukmu," ucapnya seraya memperlihatkan sayur bening buatannya.
"Makasih banyak lho ma. Aku senang sekali. Tapi ngomong-ngomong mama kok bisa-bisanya langsung menolong aku dari Jessica sih?"
__ADS_1
"Mama 'kan mau ke pasar tadi. Letaknya gak jauh dari gedung bioskop tua itu. Nah saat mama mau turun dari mobil, mama lihat pria itu membopong seorang perempuan ke dalam gedung. Karena penasaran akhirnya mama mengikutinya dan ternyata ya Allah, itu kamu."
Rania menarik nafas kemudian melanjutkan, 'Mama menelpon polisi dan mencari kayu untuk memukul tengkuk Jessica saat ia ingin menyakitimu sayang."
"Wah mama hebat. Terimakasih banyak ma." Yundha bertepuk tangan. Ia sangat senang mendengar cerita penyelamatan dirinya.
"Ya udah, kamu makan yang tenang. Mama Merry sudah aku hubungi jadi kamu bebas menginap di sini."
"Makasih ma," ucap Yundha dengan wajah tenang. Dan sekarang ia ingin bertanya, apakah suaminya juga sudah tahu? Tapi ia malu bertanya.
Perempuan itu pun melanjutkan makannya dan segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia ingin sholat isya kemudian segera tidur. Ia ngantuk dan juga capek.
Rania maklum, perempuan itu sedang hamil muda dan seharian berada di luar untuk belajar di kampus dan kemudian menjadi korban penculikan. Jadi ia biarkan saja untuk beristirahat.
Yundha pun naik ke ranjang milik Dewa yang ukurannya sama dengan ukuran ranjangnya sendiri di kamarnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya ia menatap lukisan Dewa yang bertelanjang dada itu dengan dada berdebar.
"Aku kok sangat ingin dipeluk pria itu ya?" ucapnya pelan bagaikan gumaman.
"Aaaa dasar jablay kamu!" ucapnya untuk menyadarkan dirinya sendiri. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, ia pun menutup matanya karena sudah sangat mengantuk dan tidak menyadari kalau sosok asli dalam lukisan itu sedang berdiri di depan pintu dengan tatapan tak terbaca.
Dadanya berdesir hebat menyaksikan istrinya baik-baik saja dan sedang berada di dalam daerah kekuasaannya saat ini.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1