Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 259 Dari Mana Val?!


__ADS_3

Selfina tak bisa tidur. Ia hanya membolak-balik badannya gelisah. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam sedangkan Revalda belum juga bisa ia hubungi.


Entah kemana perginya anak itu, ucapnya membatin. Handphone masih berada ditangannya menunggu kabar tapi sampai dini hari kabar tentang Revalda tak kunjung datang.


Ia semakin khawatir dan berharap pagi segera datang. Ia sungguh tak sanggup menyimpan persyaratan gelisah dan khawatir ini sendirian tapi Ia juga tidak ingin memberikan kabar buruk ini pada suaminya yang baru tiba di Tokyo untuk urusan pekerjaan.


Tentu saja supaya pria itu tidak khawatir pada sang putri kesayangan. Jadilah sekarang ia menyimpannya sendiri.


Detak jarum jam di malam sepi itu benar-benar sangat menggangunya. Akhirnya ia bangun dan mencoba menemui Fariz di kamarnya. Akan tetapi ia baru ingat kalau putranya itu sedang berada di rumah Dewa. Ia sedang akrab-akrabnya dengan Zacky dengan hobi baru mereka.


Huffft


Selfina menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Reza, putranya yang ketiga tidak mungkin ia bangunkan hanya karena ia gelisah dengan Revalda.


Dengan perasaan yang masih gundah ia pun mengambil air wudhu dan sholat. Ia ingin berdoa pada Tuhan agar putrinya baik-baik saja di luar sana. Setelah mengungkapkan semua perasaannya pada Tuhan, barulah ia bisa tertidur. Dan tak lama kemudian pagi pun datang menjelang.


Revalda bangun dari tidurnya dan baru menyadari kalau ia tidak tidur di kamarnya. Gadis itu langsung melompat ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sedang sangat penuh.


Setelah bersih dan segar ia pun keluar kamar dengan hanya menggunakan handuk saja. Mengendap-endap mencari panty dan pembalut yang ia simpan entah dimana semalam karena ketiduran.


David yang baru selesai sholat subuh dan melihatnya dengan tampilan yang sangat terbuka seperti itu tak sadar menelan salivanya kasar. Ia lupa untuk berkedip dan ternyata berhasil membuat daerah intinya berkedut dan menggeliat.


Bagaimana tidak, Tubuh Revalda yang selama ini tertutup kini terbuka dan menunjukkan keindahannya. Tinggi dan langsing dengan kulit yang sangat putih dan mulus. Semua pria pasti sangat ingin mendapatkan wanita seperti itu tak terkecuali dirinya yang normal.


Pagi-pagi yang penuh berkah dan juga vitamin mata. Pemandangan yang sangat indah di depan matanya dan berada di dalam daerah kekuasaannya bagaikan melihat seorang bidadari yang sedang mandi dan kehilangan selendangnya.


Ia tidak menegur takut gadis itu kaget. Ia hanya terus memperhatikan apa yang dilakukan Revalda di dalam ruangan unit nya itu.


Gadis itu memasuki kamar mandi umum yang terdapat di sekitar dapur dan keluar dengan senyum diwajahnya. Ia membawa kresek yang ia berikan semalam. Setelah itu ia memasuki lagi kamar tamu dan keluar sudah berpakaian rapih dengan hijab yang menutupi kepalanya.

__ADS_1


Revalda tersentak kaget saat David menghadangnya di depan pintu saat ia ingin pergi.


"Mau kemana kamu?" tanya Pria itu dengan tatapan lurus pada wajah cantik Revalda.


"Aku mau pulang pak."


"Eh, enak saja mau pulang tidak minta izin. Kamu itu gak bisa pulang seenaknya padahal masih banyak hal yang harus kamu lakukan pagi ini."


"Aku ada mata kuliah jam 9 pagi pak. Dan aku juga harus mengganti pakaian aku. Masak aku ke kampus pakai pakaian ini lagi sih?" Revalda tampak tak sabar dan mulai kesal.


"Ini udah bau asem pak," ucap gadis itu seraya mencium baju yang sedang dipakainya. David hanya tersenyum kemudian berucap.


"Di dalam kamar sana. Ada banyak pakaian anak perempuan siapa tahu kamu cocok. Ganti pakaianmu disana saja. Dan jangan pergi sebelum aku izinkan," ucap pria itu tak ingin dibantah. Ia bahkan mengunci pintu apartemennya agar Revalda tak bisa pergi begitu saja.


"Aku gak mau pak. Aku tidak biasa memakai pakaian orang lain. Apalagi ke kampus. Iyuuuh gak banget." Revalda mencibir dan membuat David langsung menatapnya tajam.


"Terserah. Yang penting kamu harus temani aku sarapan pagi ini. Setelah itu kamu bisa pergi," ucap David tak peduli. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah dapur dan menyiapkan makanan instan khas jomblo.


Revalda pun akhirnya mendatanginya dengan wajah bersungut-sungut kesal tapi ia tak bisa berbuat banyak. Ia menurut karena ia mempunyai banyak sangkutan dengan pria itu terutama soal utang-utang yang baru kali ini ia alami seumur hidupnya.


"Makan!" titah David karena gadis itu hanya diam saja.


Revalda mendengus kemudian ikut makan walaupun cuma sedikit. Mereka berdua tak ada yang bicara sampai gadis itu selesai dan langsung mencuci piringnya dan mengambil tasnya untuk bersiap pergi lagi


"Trus utang kamu bagaimana?" tanya David dan berhasil menahan langkah gadis itu.


"Aku akan pulang dan mencari uang untuk membayarnya pak. Tenang saja. Aku bukan sejenis orang yang tak tahu bertanggungjawab," ucap Revalda dengan tatapan lurus pada pria yang mungkin terpaut usia 5 atau 6 tahun darinya itu.


"Hum, baguslah. Tapi kalau kamu tak dapat uang itu. Kamu bisa menjadi pelayan aku di unit ini selama setahun. Setelah itu utangmu lunas."

__ADS_1


Revalda tersenyum tipis kemudian menjawab, "Itu tak akan terjadi pak. Aku bisa memberikan motor aku pada bapak untuk menebus utangku itu kalau hari ini aku tidak mendapatkan uang."


David tersenyum saja dan tak menghalangi gadis itu untuk pergi dari Unitnya. Ia juga harus melanjutkan aktivitasnya hari ini. Mandi dan bersiap ke kampus. Jam 8 pagi, ia harus berada di universitas untuk mengikuti dies natalis.


"Wow, pak dosen ada teman ya semalam?" tegur seorang perempuan ketika Revalda memasuki kotak Lift yang akan membawanya turun dari lantai itu.


Revalda tak menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis saja sebagai bentuk kesopanan.


"Pak dosen ternyata suka yang cantik-cantik ya, kalau gak salah ya, malam Minggu kemarin ada lagi gadis seusia kamu nginep di sini juga," lanjut tetangga super julid itu.


Sekali lagi Revalda tak menjawab. Ia tak peduli siapa gadis yang menginap di sana. Ia ada hak untuk tahu karena mereka tak ada hubungan apa-apa. Dan sekarang ia berharap kotak Lift itu bisa segera sampai di lobi.


Tring


Lift pun sampai. Pintunya terbuka dan Revalda langsung keluar dari tempat itu. Tapi sebelumnya, ia berpamitan pada tetangga dosennya itu sebagai wujud kesopanan.


"Mari mbak. Assalamualaikum," ucap Revalda dengan senyum diwajahnya.


"Waalaikumussalam." Mereka berdua pun berpisah. Revalda langsung berlari keluar dan segera mencari motornya. Setelah itu ia mengendarainya pulang.


Sesampainya di rumah, Selfina menyambutnya dengan tatapan tajam.


"Darimana saja kamu Val?!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2