
"Tentu saja aku mengenalnya May. Selfina ini adalah teman partner ML ku. Iyya kan Fin?" ucap Yudha seraya berusaha melepaskan rengkuhan tangan Maya pada lengannya.
ML? Making Love? Oh tidak!
Maya merasa terancam. Ia semakin merapatkan rengkuhan tangannya pada lengan Yudha dan tidak juga mau lepas meskipun Yudha berusaha keras.
Bongkahan buah dadanya yang begitu besar sengaja ia sentuhkan pada lengan Yudha.
Maya benar-benar melengket sepert seekor lintah darat.
"Iya benar. Saya adalah partner ML nya pak Yudha." Selfina menjawab untuk menegaskan posisinya dengan pria itu meskipun ia sendiri kurang yakin kalau itu adalah sebuah status spesial.
"Oh benarkah mbak Sel? partner ML bukan partner Making Love 'kan? Soalnya aku ini calon istri mas Yudha lho. Takutnya aku cemburu," ucap Maya memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
Selfina melotot tak percaya. Ia merasakan dadanya mendidih semakin cemburu. Mulutnya sampai membola karena kaget.
Sedangkan Yudha tersenyum. Ia suka melihat wajah cemburu Selfina, rasanya sangat menggemaskan. Ia sampai lupa merasakan gesekan dada Maya yang semakin tak terkendali pada kulitnya.
"Selfina, kamu kembali bekerja. Dan Maya kamu bisa pulang sekarang," tegas Yudha memutuskan basa-basi diantara mereka semua. Pria itu melepaskan paksa tubuh Mata pada tubuhnya.
Selfina langsung menuju meja kerjanya di luar ruangan itu bersama dengan Ardina. Sedangkan Maya masih merajuk manja, "Eh aku gak mau pulang. Aku mau disini saja sampai kamu pulang."
"Pulang! Kamu tak ada urusan di sini. Ini tempat kerja!" titah Yudha tak ingin dibantah.
"Tapi 'kan kita datang bersama mas. Aku ingin tinggal disini menemani kamu." Maya menolak perintah. Ia tetap bertahan di sana sampai seorang supir perusahaan datang menjemputnya.
"Eh, apa-apaan ini? Aku gak usah dijemput paksa seperti ini kali!" Maya memberontak. Tangannya ditarik paksa oleh sang supir ke sampai ke luar ruangan.
Selfina dan Ardina saling berpandangan saja dengan pikiran mereka masing-masing.
"Mas Yudha! Aku gak mau pulang sendiri! Kamu tega pada calon istrimu sendiri!" teriak gadis itu dengan cukup keras sampai karyawan yang lain memperhatikannya.
"Ssst! Mbak Maya gak malu tuh dilihatin semua orang?" bisik Ardina seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya agar gadis itu tidak membuat keributan di tempat kerja.
"Tapi aku kesel sama mas Yudha Bu Ar!" Maya membalas dengan nada suara yang masih meninggi. Ia masih berusaha melawan.
"Iya, saya juga kesal sih kalau mbak Maya diseret sama supir seperti itu. Tapi jangan sampai semua karyawan disini tahu kalau mbak Maya dicuekin sama pak presdir."
"Kenapa Bu Ar?" tanya Maya penasaran. Ia sampai mendekat kepada Ardina.
__ADS_1
"Supaya mbak Maya gak malu. Papa mbak Maya juga gak ikutan malu."
Maya terdiam sambil berpikir keras. Perkataan Ardina ada benarnya juga. Ia tidak mau semua karyawan tahu kalau ia ditolak oleh Yudha.
"Nah sekarang mbak Maya pulang saja. Pak Presdir lagi banyak kerjaan jadi gak bisa diganggu. Okey?"
"Hum, baiklah Bu Ar. Terimakasih banyak. Tapi tolong sampaikan pada semua karyawan yang berniat mendekati mas Yudha, aku tak akan mengizinkannya. Mereka harus berhadapan denganku!" tegas Maya seraya melirik kepada Selfina yang sejak tadi sibuk di depan komputernya.
"Ah ya. Nanti akan saya sampaikan mbak. Silahkan pulang dengan cara seperti anda datang." Ardina segera mempersilahkan gadis itu untuk pergi dengan baik-baik.
"Makasih bu Ar. Kamu memang pantas jadi sekretaris andalan deh." Maya pun tersenyum senang kemudian pergi dari ruangan itu bersama dengan supir perusahaan.
"Fin, kamu sudah lihat seperti apa lawanmu?" tanya Ardina pada Selfina saat Maya sudah tidak ada dihadapan mereka berdua.
"Lawan? Maksudnya apa bu Ar?" tanya Selfina balik. Ia sedikit bingung dengan perkataan perempuan cantik berhijab itu.
"Kamu gak faham maksud aku Fin?"
Selfina menggelengkan kepalanya dengan ekspresi masih bingung. Ardina membuang nafasnya kesal.
"Kamu suka sama Yudha gak sih?" tanya Ardina kesal. Ia benar-benar bingung dengan gadis ini.
"Lempeng banget sih, gak ngerti kode. Nanti kalau Yudha diambil orang kamu baru nangis kejer!"
"Ya udah kalau kamu gini-gini saja, kamu akan lihat laki-laki tampan selain suamiku itu akan direbut oleh Maya!"
"Eh?"
"Ya udah kamu benar-benar gak peka!" Ardina merasakan dua tanduk muncul diatas kepalanya.
Ia benar-benar sangat kesal sama sifat Selfina yang sangat santai melihat calon pelakor yang ingin merebut Yudha dari tangannya.
"Jadi bu Ardina kesal nih? Hahaha. Aku santai saja karena pak Presdir juga gak ada komitmen dengan aku. Jadi gak usah dipaksakan bu. Kalau jodoh pasti gak akan kemana."
"Iya. Kamu betul sekali. Jodoh emang gak akan kemana tapi entah mampir kemana dulu baru sampai kepadamu." Ardina mendengus.
Ia masih sangat kesal karena ia sudah mencoba membantu tapi kenyataannya Selfina tak mengerti sama sekali.
"Hahaha, santai lah Bu Ar. Kita lihat apa yang akan dilakukan pak Presdir. Ia sedang memanggil aku ke dalam ruangannya." Selfina tersenyum kemudian memperlihatkan layar handphonenya yang sedang berkedip-kedip. Kontak atas nama Raja Gombal tertera disana sebagai nama kontak untuk Yudha.
__ADS_1
"Raja gombal?" tanya Ardina dengan alis terangkat.
Selfina mengangguk.
"Pria itu suka menggombal Bu Ar. Dan aku harus pintar-pintar untuk menjaga diri agar tidak terjatuh pada pesona nya yang sangat berbahaya." Selfina berucap seraya tersenyum.
"Kita akan lihat perempuan jenis apa yang ia sukai. Agresif, kalem, manja, atau pasif?" ucap Selfina berubah sangat profesional. Ardina sampai melongo tak percaya dengan sikap perempuan itu yang tiba-tiba jadi sangat tidak lugu lagi itu.
"Aku masuk ya Bu Ar." izin Selfina dengan wajah cerahnya. Gayanya kini berubah seperti seorang sekretaris profesional yang akan menghadapi seorang bos arogan.
"Ah iya. Silahkan." Ardina mempersilahkan.
Selfina pun masuk ke dalam ruangan Yudha dengan menegakkan punggungnya berikut tatapan lurusnya ke depan. Ia harus melebihi Ardina menjadi sekretaris andalan.
"Fin. Coba lihat sini," panggil Yudha pada gadis itu saat baru muncul di depan pintu ruangannya.
"Yang kerja bahan untuk meeting siapa? Kamu atau Bu Ardina?" tanya pria itu seraya menunjuk ke arah beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
Selfina tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mendekat.
Ia memandang berkas itu dari jauh kemudian menjawab, "Saya yang kerja pak. Dan menurut saya itu baik-baik saja."
"Kamu yakin? Apa menurutmu tidak ada kesalahan?"
"Tidak."
"Benarkah? Padahal kamu hanya melihatnya dari jauh. Coba mendekatlah dan lihat dengan baik." Yudha tersenyum samar.
Ia ingin Selfina mendekat ke arah mejanya untuk melihat langsung kesalahan yang sudah ia buat.
Selfina sangat faham dengan apa yang diinginkan pria mesum itu. Ia pun mendekat kemudian berucap.
"Saya tidak ingin sembarangan disentuh oleh pak presdir yang terhormat kalau tidak ingin dijadikan istri!"
"Hah?!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan Komentarnya dong Gaess 🤭
Nikmati alurnya dan happy reading 😊