Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 169 Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Dewa tersenyum dan tak menghiraukan istrinya yang sedang memberontak. Ia semakin suka karena memacu adrenalinnya untuk mendapatkan perempuan cantik itu.


"Lepaskan aku! Aku benci padamu! Aku tak mau kamu menyentuhku!" Yundha terus berusaha melepaskan dirinya tetapi saya sayangnya bukan dirinya yang terlepas tapi malah handuknya.


"Aaargh. Brengsek kamu Dewa!" Yundha tercengang kaget setelah merasakan tubuhnya kini jadi polos los los. Tak ada lagi penghalang yang bisa menutupinya dari tatapan dan sentuhan pria mesum itu.


Dewa semakin diatas angin. Kulit mulus sang istri kembali bisa ia rasakan. Putih dan sangat lembut bagaikan sutra.


"Aaa lepaskan aku!" Dewa tidak peduli pada teriakan Yundha, ia hanya tidak ingin membuat seisi rumah berbondong-bondong mendatangi kamar mereka berdua.


Dengan cepat ia menyentuhkan bibirnya dan menyelipkannya pada bibir sang istri dan memperdalam ciumannya. Tangannya pun bergerak menyentuh daerah sensitif Yundha agar perempuan itu tidak bisa lagi memberontak.


Yundha merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia lemas dan tak kuat lagi berdiri sampai Dewa kemudian mengangkat tubuhnya ke atas ranjang yang kebetulan tidak jauh jaraknya dari posisi mereka saat ini.


Yundha tersadar saat Dewa melepaskan tautan bibir mereka.


"Mau apa kamu?" tanya perempuan cantik itu saat Dewa menindih tubuhnya dan memerangkapnya dibawah kungkungan pria itu.


"Aku suamimu Yundha, aku ingin melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak semalam," bisik pria itu seraya menyentuhkan bibirnya ke leher jenjang perempuan cantik itu.


Yundha berusaha menolak kembali tapi ia tak kuasa. tubuh Dewa yang terasa sangat kuat itu tidak bisa ia singkirkan karena kedua tangannya sedang dikunci ke atas oleh Dewa.


"Brengsek kamu! lepaskan aku!" Yundha terus berteriak diantara hisapan-hisapan panas bibir itu pada lehernya.


"Aaaaakh!" Suara Yundha karena kesal kini sudah bercampur dengan dessahan saat pria itu malah bergerak ke dadanya yang semakin memancing hasrat pria itu karena ia terus memberontak.


Dewa benar-benar sangat menikmati apa yang sedang ia lakukan pada dua buah benda favorit sejuta umat yang sangat padat, kenyal, dan kencang itu.


Bibir dan lidahnya bermain-main disana sampai membuat Yundha menggelinjang nikmat. Tubuh perempuan itu dengan sangat berani berkhianat pada hatinya yang sangat benci pada Dewa.


"Aaargh!" Dewa mengerang sakit karena kaki Yundha yang bebas tiba-tiba saja berhasil memberinya satu serangan keras dibagian inti dirinya.


Pria itu langsung menghentikan aksinya dan turun dari tubuh Yundha.


"Kenapa? Kamu sakit? Kamu pikir aku suka dengan apa yang kamu lakukan hah?!" ucap Yundha berusaha menolak kenikmatan sesaat yang pria itu berikan padanya.


Ia segera turun dari ranjangnya kemudian meraih handuknya yang tercecer di lantai.

__ADS_1


"Dasar mesum! Rasakan tuh kalau kamu berakhir impoten beneran!" Yundha mencibir dan tidak merasa bersalah sama sekali.


Dewa tidak menjawab. Ia masih merasa sangat keram pada senjata andalannya meskipun tidak loyo sama sekali. Ia masih sangat kuat bahkan semakin kuat saja.


Semoga senjataku masih bisa berfungsi dengan baik setelah ini. Ucapnya dalam hati.


"Kok diam? Kalau gak berfungsi jangan salahkan aku ya, itu karena kamu terlalu suka memaksakan diri!" ucap perempuan lagi sarkas.


Dewa hanya mengelus senjatanya yang memang terasa keram tapi justru semakin besar dan kuat bagaikan tombak keadilan.


Pria itu pun segera meninggalkan Yundha menuju ke kamar mandi. Ia jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada sang junior. Dalam hati ia sangat khawatir dan ingin memeriksanya langsung.


Yundha sendiri segera berpakaian dan meninggalkan kamarnya. Tiba-tiba ia jadi sangat takut karena telah melakukan hal yang sangat kurang sopan pada suaminya sendiri apalagi Dewa hanya diam saja dan tidak menjawab samasekali.


"Ada yang mau aku traktir gak?" ucapnya pada beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Aku kak!" jawab Darren dan juga Dony bersamaan.


"Ayok kita berangkat sekarang," ucap Yundha seraya memperlihatkan kunci mobilnya. Pokoknya ia harus pergi dari rumah itu untuk sementara waktu karena tak ingin bertemu dengan Dewa, suaminya.


"Kok gak ngajak suamimu sayang?" tanya Merry curiga.


"Gak usah ma. Aku mau nyantai sama dua bocil-bocil ini dulu. Kami mau main game di Time Zone tanpa gangguan dari orang lain."


"Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih? Gak baik lho sayang," ucap Merry mengingatkan.


"Dewa bukan lagi orang asing. Dia sekarang sudah ada ikatan yang sangat kuat denganmu. Itu tak bisa kamu pungkiri."


"Iya ma. Aku mengerti." Yundha menjawab dengan santai kemudian segera pergi dari rumah itu. Ia tak ingin mendapatkan pertanyaan lagi yang bisa membuatnya jadi tersangka pada apa yang terjadi pada sang suami.


Merry hanya menggeleng-gelengkan kepalanya khawatir. Ia takut kalau Dewa akan marah pada putrinya itu karena pergi begitu saja tanpa meminta izin.


"Gak apa-apa ma. Biarkan saja. Usia Yundha masih sangat muda untuk hal yang sangat mengejutkan seperti ini. Nanti ia akan belajar kok." Yudhi berucap untuk membuat sang mama jadi tenang.


"Tapi itu gak benar lho kalau keluar rumah tanpa ditemani oleh suaminya sendiri. Apalagi sekarang adikmu itu hamil muda. Mama takut lho Di," ucap Merry dengan wajah yang tak nyaman. Sungguh, ia sangat khawatir kalau pernikahan yang baru sehari ini jadi mendapatkan masalah.


"Tenang aja ma. Dewa pasti tahu cara menghadapi putrimu itu. Jadi aku panggilkan dia dulu ya," ucap Yudhi berusaha menenangkan sang mama.

__ADS_1


"Iya, kamu panggil Dewa nak. Ia harus menyusul istrinya itu."


Yudhi mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar sang adik. Lama ia mengetuk pintu tak juga dibukakan pintu oleh Dewa.


"Apa mungkin ia sedang tidur?"


"Tapi ini 'kan masih pagi? Masak tidur sih?"


Yudhi bermonolog sendiri di depan pintu sampai ia memutuskan untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


Akhirnya pria itu memberanikan diri untuk masuk ke kamar pengantin baru itu dengan langkah pelan.


Sepi.


Tak ada seorang pun yang ia temui di dalam kamar itu. Ia pun keluar lagi dan berpikir untuk menyusul Yundha ke time Zone.


"Aku yang akan mengikuti Yundha ma. Dan sampaikan pada Dewa kalau ia ada disini. Aku juga akan menelponnya lagi," ucapnya menitip pesan pada sang mama kalau ia yang akan menghubungi Dewa lewat telepon saja karena Dewa tidak ada di dalam kamarnya.


"Ah iya Di. Jaga adikmu ya."


"Iya ma."


Yudhi segera pergi dengan membawa mobilnya sendiri. Kebetulan ia sangat ingin keluar juga untuk jalan-jalan setelah acara pernikahan dua saudaranya.


Merry pun kembali duduk di samping Hanum di dalam ruangan itu dengan mata sebentar-sebentar ia arahkan ke kamar Yundha. Ia yakin Dewa masih ada di dalam sana karena ia tak melihatnya keluar sejak tadi.


Sementara itu, Dewa yang ada di dalam kamar mandi tampak sangat shock dengan apa yang terjadi pada senjata andalannya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Kira-kira apakah yang terjadi pada junior? Apakah mungkin?....


Jawab di kolom komentar🤭🤗


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2