
Jessica menghampiri Dewa kemudian tersenyum lebar. Ia sangat senang melihat pemandangan yang baru saja terjadi di depan matanya. Yundha telah pergi meninggalkan pria itu bersama dengan pria lain padahal pernikahan mereka baru seumur jagung.
"Hai sayang, lama gak ketemu nih," ucapnya seraya bergelayut manja pada tangan kokoh pria itu.
Dewa yang sedang tak baik-baik saja itu langsung menepisnya dengan ekspresi datar. Ia sedang tak ada mood untuk berinteraksi dengan perempuan itu.
"Kalau kamu ada urusan lain silahkan kamu lakukan karena aku sedang tidak ingin diganggu," ucap Dewa kemudian meninggalkan tempat itu.
"Sayang! Kok ninggalin aku sih?!" teriak Jessica dengan menghentakkan kakinya karena kesal. Belum lagi rasa malu yang ia rasakan karena telah ditolak di depan umum.
"Hey! Kalian lihat apa?!" ucapnya pada semua orang yang melihatnya. Bisik-bisik dan cekikikan pun tampak kedengaran samar-samar ditelinga perempuan itu.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi perempuan itu langsung meninggalkan tempat itu juga. Keinginannya untuk makan sudah hilang dan berganti ingin minum air dingin. Akan tetapi ia sudah gengsi dan malu untuk tetap di dalam restoran itu.
Mengoceh tak jelas dengan rencana-rencana buruk di dalam kepalanya membuatnya sedikit lebih baik. Belum lagi ia cukup senang karena ternyata hubungan pernikahan antara Yundha dan Dewa ternyata sedang tidak sehat.
"Aku yakin ada kesempatan untuk merusak hubungan mereka," ucapnya menyeringai. Ia pun meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Mau dapat bonus gak mas?" tanyanya pada seseorang lewat telepon.
"Mau dong sayang. Mau digoyang 'kan hehehe." Terdengar jawaban dari seberang.
Jessica tersenyum saja. Demi meloloskan rencananya ia tak masalah melayani hasrat pria itu meskipun ia sangat tak menginginkannya.
"Aku akan kirim foto seseorang ke handphone kamu dan kamu harus membawanya kepadaku!"
"Gampang itu. Tapi temui aku sekarang ya? Aku lagi pengen banget nih," ucap pria itu dengan suaranya yang sangat menggoda. Jessica mengangguk seolah-olah pria itu bisa melihatnya.
"Jemput aku di Mall XX."
"Baiklah, tunggu aku ya. Akan ku buat kamu berteriak nikmat sayang," ujar pria itu sebelum sambungan telponnya. Jessica mencibir. Ia lebih menyukai Dewa dengan segala pesonanya tapi ia harus melakukan ini agar ia mempunyai partner untuk membantunya mendapatkan pria itu lagi.
Sementara itu, Yundha sudah berada di dalam mobilnya sendiri. Ia tak perduli pada panggilan Aril yang ingin menghiburnya. Ia sangat marah dan juga kecewa.
Buku yang berisikan ungkapan-ungkapan permintaan maaf pada pasangan kini hanya dilemparnya ke atas dashboard mobil nya. Ia kesal dan tak berniat untuk meminta maaf lagi.
__ADS_1
Turun dari mobil ia langsung berlari ke kamarnya dan langsung menangis.
"Suami brengsek! Sengaja merayu dan memberikan perhatian lebih tapi apa? Dasar penjahat wanita! Hiks!" Yundha menangis sepuasnya tanpa lupa mengumpat pada suaminya itu.
"Aaaaa kenapa aku bisa bodoh seperti ini?!" ucapnya lagi seraya membenamkan wajahnya di bantal.
"Kenapa ketika aku sudah mulai luluh justru pria itu berulah!"
"Aaaa aku benci padamu Sadewa Pranawijaya!" Yundha terus saja mengomel seraya menangis sampai ia pun jatuh tertidur.
Dewa sendiri baru pulang dari tempat kerjanya saat matahari sudah terbenam dan telah menjemput malam. Tadinya ia ingin langsung pulang dan meminta klarifikasi pada sang istri tentang kebersamaannya dengan pria itu lagi.
Akan tetapi, karena ia harus kembali ke perusahaan untuk menjumpai investor dari dari Jepang dan menemaninya makan malam maka ia pun sampai di rumah sudah dalam keadaan lelah.
"Makan dulu Wa'," ucap Merry menawarkan saat pria itu melewati ruang makan.
"Makasih ma. Tapi aku udah makan sama investor tadi. Ini cuma mau mandi dan sholat," balas Dewa seraya melirik istrinya yang sedang duduk diam di hadapan perempuan paruh baya itu.
"Oh iya deh. Kamu pasti lelah. Istirahat saja nak."
"Iya ma makasih." Dewa pun pergi dari ruangan itu dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tubuhnya benar-benar sangat lengket dan juga lelah. Dan rasanya ia sangat ingin tidur dengan sangat nyaman.
Yundha hanya mendengus dan tidak menjawab. Ia malah melanjutkan makannya yang belum habis. Ia masih sangat kesal pada pria itu dan rasanya tak ingin bertemu.
"Iya sayang. Kakak mu benar itu. Ayo persiapkan kebutuhan suamimu. Capek banget tuh kelihatannya." Merry pun ikut menimpali karena sangat tak nyaman dengan sikap sang putri.
Yundha segera meminum air putihnya dan berdiri dari duduknya. Selanjutnya ia pergi ke kamarnya tanpa berkata-kata.
Ia kesana bukan untuk melayani suaminya seperti harapan semua orang tapi ia ingin mendengar apa penjelasan dari pria itu tentang hubungannya dengan Jessica dan para gadis-gadis tadi.
"Semoga keluarga adikmu baik-baik saja ya Di. Mama kok rada-rada khawatir ya," ucap Merry seraya menghela nafasnya.
"Mama berdoa saja. Mereka belum menemukan benang merahnya saja dari hubungan mereka. Nanti kalau udah ketemu dijamin mereka akan melupakan kita hehehe." Yudhi terkekeh.
"Kamu apa kabarnya? Belum membuka hati?"
__ADS_1
"Belum ada yang cocok ma atau mungkin belum ada jodoh." Yudhi menjawab kemudian memasukkan potongan buah semangka ke dalam mulutnya.
"Ah iya. Kalau jodoh pasti akan cocok ya hehehe," jawab Merry tersenyum.
"Yah begitulah kira-kira."
Dua orang ibu dan anak itu pun membicarakan banyak hal sampai Yudha dan Selfina memasuki ruangan itu. Rupanya mereka berdua juga baru pulang dari Perusahaan.
"Istrimu lagi hamil seperti itu apa gak ada cuti atau libur kerja gitu Yud?" sambut Merry pada dua pasangan itu.
"Aku sih kasih kebebasan pada Selfina ma. Dia mau libur atau cuti terserah dia saja. Tapi katanya lebih suka bekerja karena tetap saja sama aku setiap hari. Iyya gak sayang?" jawab Yudha seraya mengedipkan matanya pada sang istri tercinta.
Selfina mengerucutkan bibirnya. Ia sebenarnya ingin menyangkal perkataan suaminya itu karena yang sebenarnya Yudha lah yang tak mengizinkannya berhenti bekerja.
Pria itu terlalu manja dan menjadikannya sebagai makanan lezat saat ia sedang stress di perusahaan. Dan ia merasa sebagai sekretaris plus-plus. Bisa digunakan dimana saja. Baik itu di rumah maupun di tempat kerja.
"Iya deh. Tapi kamu harus jaga kesehatan istrimu juga lah. Apalagi sedang hamil muda gitu."
"Iya ma. Siap!" Yudha menjawab seraya menaruh tangannya di keningnya dalam posisi hormat.
Merry dan Yudhi tersenyum saja melihat tingkah suami bucin itu.
"Eh, ngomong-ngomong Dewa ma Yundha kemana ma? Gak ikut makan malam?" tanya Yudha seraya memperhatikan keadaan sekeliling.
"Lagi di kamar. Dewa juga baru pulang katanya capek."
Yudha dan Yundha saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Semoga Yundha bisa mengurus suaminya ma. Kasihan juga Dewa."
"Iya."
Yudha dan Selfina pun menikmati makan malam bersama itu dengan sangat nikmat. Sementara di dalam kamar yang lain di dalam rumah itu, Yundha masih duduk di bibir ranjangnya dengan gelisah.
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?