Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 86 Matamu Penuh Mendung


__ADS_3

"Minum dulu pak," ucap Selfina seraya menyerahkan satu botol minuman dingin kesukaan sang presiden direktur yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Makasih Sel. Kemarilah, duduk disini di samping aku," balas Yudha tersenyum dengan tatapan sendu pada sang istri.


Pria itu menepuk sisi kosong tempat duduk di sampingnya. Selfina menurut. Ia duduk di samping kanan sang suami sedangkan Sendy di samping kiri pria itu.


"Yang sabar ya pak," ucap Selfina dengan suara tercekat sedih. Yudha menganggukkan kepalanya pelan. Ingin ia memeluk perempuan cantik itu untuk melapangkan sedikit dadanya yang terasa sangat sesak. Akan tetapi logikanya masih mendominasi.


Ia tidak boleh lebay. Ia seorang pria dan merupakan pemimpin di keluarganya. Dan sekali lagi, status mereka harus dijaga baik-baik.


Kematian sang papa bukanlah akhir dari semua masalah yang terjadi di dalam keluarganya. Ia harus belajar meraba keadaan agar tidak salah melangkah.


"Sini aku yang buka mas," ucap gadis yang sejak tadi bersama dengan pria itu. Ia bahkan meraih botol minuman itu dengan paksa dari tangan sang sepupu.


"Kita berbagi minum ya mas, aku juga haus banget," lanjutnya dengan tatapan tak suka pada Selfina. Ia pun membuka tutup botol minuman itu kemudian memberikannya pada Yudha.


"Mas Yudha minum duluan gih, setelah itu sisakan untuk aku ya," ucapnya lagi dengan santai.


"Lain kali mbak ya, kalau beli minuman itu jangan untuk mas Yudha saja, aku 'kan juga ada di sini," cibir gadis itu, sengaja menyindir. Selfina tak menjawab. Ia hanya meremas botol minuman di tangannya dengan sangat kuat sampai menimbulkan suara.Ia sangat kesal saat ini.


"Ayo mas Yudha. Minum duluan dong," ucap Sendy dengan wajah manjanya.


"Kamu aja yang minum Sen," ucap Yudha menolak seraya menyerahkan kembali botol itu ke tangan Sendy. Gadis itu langsung cemberut.


"Aku ambil punya Selfina saja," lanjut pria itu dengan tangan langsung meraih botol minuman sang istri. Ia meneguknya sampai habis padahal ia tidak suka minuman dengan rasa seperti itu. Ia sungguh tidak ingin menambah rasa kesal istrinya yang sangat cantik itu.


Selfina tersenyum tipis. Dadanya berdebar kencang. Ia sangat senang karena suaminya bisa menjaga perasaannya.


Yudhi yang melihat semua itu langsung mengepalkan tangannya tak suka. Sedangkan Sendy langsung terlongo tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Lho? Gak jijik apa minum bekas seseorang yang gak ada hubungan dengan mas Yudha?" tanya gadis itu dengan bibir mencebik.


"Gak apa-apa. Yang lebih dari ini pun udah aku rasakan," ucap Yudha santai dengan ekor mata melirik Selfina. Perempuan itu langsung merasakan dadanya berdebar. Bibirnya berkedut ingin tersenyum.

__ADS_1


"Mbak Sel, aku gantikan minumnya. Kak Yudha emang sering asal," ucap Yudhi seraya menyerahkan sebuah botol minuman baru dari tangannya.


"Gak usah mas, makasih banyak. Aku udah gak pengen minum kok. Takut sering ke toilet lagi," tolak Selfina halus. Yudhi pun memaksakan dirinya untuk tersenyum meskipun ia sangat kecewa saat ini.


"Yudha, Yudhi. Pak polisi memanggil kalian ke ruangan itu. Katanya jasad papa kalian udah bisa dibawa pulang," ucap Merry yang tiba-tiba saja muncul di antara mereka semua.


"Ah iya ma, kami akan segera kesana," ucap Yudha seraya berdiri dari duduknya. Ia pun segera pergi dari tempat itu diikuti oleh Yudhi.


Mereka harus segera bersiap karena jenazah sang papa sudah bisa dibawa pulang untuk di semayamkan di rumah istri pertama yaitu mama mereka.


"Hey, kamu siapa?" tanya Sendy pada Selfina.


"Aku siapa?" Selfina balik bertanya.


"Ya, tentu saja aku tanya, kamu siapa? Kenapa mas Yudha sangat perhatian padamu!" Selfina nampak berpikir sejenak.


"Selfina ini sekretarisnya Yudha di Perusahaan sayang. Dia memang sangat dekat dengan kedua putra mama. Jadi mulai sekarang kamu juga harus dekat dengannya," ucap Merry menjawab pertanyaan keponakan dari almarhum suaminya.


"Ooh, cuma sekretaris toh. Kirain udah pacar," dengus Sendy dengan wajah yang sangat tak nyaman dipandang.


Selfina dan Sendy pun mengikuti mereka dengan langkah cepat.


"Kalau cuma sekretaris gak usah belagu ya," sindir Sendy dengan lirikan tajam kepada Selfina yang sedang berjalan di sampingnya.


"Kalau pacar atau istri bisa lebih dari itu ya?" jawab Selfina dengan niat membalas.


"Ish!" Sendy mencibir. Ia tak suka mendengar jawaban dari perempuan itu. Sedangkan Selfina hanya mengangkat bahunya tak peduli.


"Hey! Aku yang mau duduk di depan!" teriak Sendy saat Selfina langsung masuk ke dalam mobil Yudha dan duduk di samping sang suami mendahuluinya.


"Duduk di belakang aja. Pak Yudha gak biasa nyetir tanpa aku disampingnya. Iyyakan pak?" ucap Selfina dengan lirikan tajam ke arah suaminya.


"Ah iya, itu betul sekali Send. Jadi gak perlu cari ribut. Kamu naik aja cepat. Ambulansnya udah berangkat tuh!"

__ADS_1


"Hum, baiklah!" Sendy mengalah. Ia pun segera naik dan duduk di jok belakang mobil itu.


🌹


Yudha Abdullah sebagai pria tertua di rumah itu nampak sangat tegar. Ia harus melakukannya agar semua orang di dalam keluarganya jadi kuat dan sabar menerima musibah yang sedang menimpa mereka.


Pria itu berdiri di hadapan semua pelayat yang hadir. Ia mewakili keluarga almarhum sebagai pewaris untuk menyampaikan permintaan maaf atas segala kesalahan yang mungkin telah dilakukan sang papa selama masa hidupnya.


"Kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih atas waktu para hadirin yang sudah disediakan untuk datang mendoakan almarhum papa."


"Kalau seandainya ada utang yang belum dibayar oleh almarhum papa, tolong sampaikan pada kami sebagai anak dan pewarisnya," ucap Yudha.


Suasana langsung sepi. Para hadirin seolah-olah sedang memikirkan utang atau tanggung jawab dari seorang Maher Abdullah.


Tak ada yang bicara hingga Yudha pun bersiap untuk menutup kata sambutannya di depan semua orang.


"Saya adalah saudara laki-laki dari almarhum Maher Abdullah. Jika saya diizinkan untuk bicara. Saya ingin mengatakan janji Kakak saya pada putri saya, Sendy Magfirah. Yang bisa saja itu adalah sebuah utang yang harus dibayar."


"Apa itu om. Insyaallah kami akan membayarnya kalau kami mampu. Silahkan om sampaikan," ucap Yudha mempersilahkan.


Pria yang bernama Mirwan itu langsung berdiri dari duduknya kemudian menjawab di depan semua orang.


"Almarhum kak Maher ingin menjadikan Sendy sebagai menantu di keluarga ini."


"A-apa?!"


Selfina dan Maya tercekat kaget. Begitupun semua orang yang ada di halaman rumah mewah itu.


Yudha tak bisa menjawab. Matanya hanya terpaku pada mata indah istrinya yang sedang menunjukkan awan hitam.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Eng ING Eng.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2