
"Siapa sih?" gumam Revalda kesal karena sebuah motor sport yang tidak ia kenali terus berusaha memepetnya. Akan tetapi ia tak juga mau berhenti apalagi menyerah.
Kecepatannya ia tingkatkan agar motor jenis ninja 250R itu tak berhasil mengikutinya. Rupanya pengendara itu pun tak ingin mengalah. Ia terus memburu Revalda sampai mereka berdua sampai pada rambu lalu lintas yang kebetulan berubah merah.
Revalda sama sekali tak ingin meladeni orang itu yang ternyata sudah berada di sampingnya. Pemilik Ninja 250R itu membuka helm bungkusnya kemudian melihat ke arah gadis itu.
"Val, aku tunggu kamu di depan Cafe Arga!" ucap orang itu yang ternyata adalah Ikhsan.
"Ikhsan? Ternyata kamu?" ucap Revalda dengan tatapan kaget.
"Aku ingin bicara padamu."
Revalda menghela nafasnya kemudian mengangguk. Untuk saat ini ia akan memberikan waktu beberapa menit untuk pria itu. Agar ia tak terlalu kecewa karena ditolak olehnya.
Lampu lalu lintas di depan mereka pun berubah Hijau. Keduanya melaju dengan kecepatan rata-rata dan tiba di Cafe Arga dalam hitungan menit saja.
"Katakan ada apa?" tanya Revalda tanpa ingin berbasa-basi. Ia bahkan tak turun dari motornya karena tak berniat untuk berlama-lama.
"Kamu gak mau masuk dan minum dulu?" jawab Ikhsan dengan balik bertanya.
"Gak. Maafkan aku. Aku sedang tidak banyak waktu untuk berlama-lama di sini. Kamu sudah dengar bukan kalau aku ada acara penting di rumah."
"Val, tak bisakah kamu menolak saja perjodohanmu dengan pria yang tak kamu kenal itu?" ucap pria itu masih sangat ngotot dengan keinginannya.
"Itu adalah pilihan orang tuaku Ikh, jadi aku bisa apa? Kalau hidupku saja masih sangat bergantung pada mereka maka aku tak akan berani lagi untuk jadi anak durhaka" balas Revalda dengan wajah menunduk.
"Meskipun nantinya kamu tidak akan bahagia?"
"Kalau itu sih, aku juga tidak tahu. Masalah masa depan itu adalah sebuah rahasia. Akan jadi happy ending atau sad ending hehehe," jawab gadis itu terkekeh.
"Jadi aku tak akan punya harapan lagi nih?" tanya pria itu lagi dengan tatapan lurus ke dalam wajah Revalda.
"Sepertinya sih iya, hehehe." Revalda kembali tertawa cengengesan agar suasana jadi lebih akrab dan juga santai. Ikhsan menghela nafasnya yang terasa sangat berat.
Sepertinya ia memang harus berlapang dada dan melupakan gadis cantik yang sangat dicintainya ini. Seberapa pun ia memaksa, ia tetap tak bisa mendapatkan Revalda yang sudah dijodohkan oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kamu tahu gak kalau aku tuh sudah sering mengecewakan papa dan mama. Jadi sekarang, saatnya lah aku patuh. Aku yakin mereka sangat menyayangi aku dan ingin aku hidup bahagia," ucap Revalda lagi seraya tersenyum tipis.
"Baiklah, aku tak akan memaksa kamu lagi. Maafkan aku ya," ucap pria itu setelah lama terdiam.
"Iya. Kamu gak salah kok. Aku saja yang tidak bisa mempunyai perasaan sama kamu. Jadi mulai hari ini kita tetap berteman dan melupakan kalau kamu pernah menyatakan suka padaku."
Ikhsan tersenyum. Ia setuju dengan perkataan Revalda. Ia akan berusaha melupakan kejadian hari ini dan mengambil hikmah dibalik kejadian yang terjadi antara dia dan Revalda.
"Sebagai permohonan maafku, maukah kamu turun dari motormu itu Val? Aku ingin sekali mentraktir kamu minum."
"Assyiaap tentu saja. Ditraktir makan pun tak apa-apa sebenar nya hehehe." Revalda tertawa kembali kemudian segera turun dari motornya.
"Silahkan masuk," ucap pria itu seraya membukakan pintu itu untuk gadis yang sangat dicintainya.
"Terimakasih." Revalda menjawab dengan senyum diwajahnya. Untuk saat ini ia akan bersikap sopan dan baik pada Ikhsan untuk menjaga hubungan baik diantara mereka berdua.
Mereka pun makan dan minum dengan sangat santai dan juga akrab. Ikhsan tampak sangat bahagia karena keinginannya telah tercapai. Bisa makan dan minum berdua dengan Revalda layaknya seorang kekasih adalah hal yang sudah lama ia impikan.
Pria itu tampak sangat bahagia meskipun itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya.
"Ah gak usah sungkan lah. Tapi ngomong-ngomong. Kamu memang harus makan berdua denganku di tempat ini?" ucap Revalda dengan dahi mengernyit.
"Hum, iya. Aku dulu pernah bernazar. Kalau punya pacar akan aku bawa ke tempat ini untuk makan berdua."
"Tapi aku 'kan bukan pacar kamu."
"Anggap saja begitu. Sebelum janur kuning melengkung di depan rumah kamu aku masih bisa berharap bukan?"
"HAdeh..."
Revalda mendengus seraya menepuk jidatnya. Ia pikir pria dihadapannya ini sudah mundur dengan teratur ternyata tidak.
"Udah ya. Makasih banyak traktirannya. Aku udah mau pulang nihh."
"Janganlah pulang dulu Val, aku masih ingin mengobrol banyak."
__ADS_1
"Gak bisa Ikh. Aku udah bilang 'kan kalau aku mau pulang." Revalda tetap saja berniat untuk pulang tapi pria itu langsung menarik tangannya untuk duduk.
"Aku belum selesai Val. Bisakah kamu bersabar sedikit saja?"
"Aku sudah cukup bersabar ya."
"Gak Val. Kamu belum bersabar sedikit lagi."
Revalda menghela nafasnya kasar kemudian berucap dengan wajah yang mulai kesal," "Menemani kamu disaat aku sedang ada acara lain yang lebih penting kamu pikir aku tidak bersabar hah?!"
"Hummm, baiklah. Pergilah dan kamu akan mendengar kabar buruk tentang aku."
"Apa?! Kamu mau modus ya? Mau ngancam-ngancam aku? Iya??"
Ikhsan tersenyum saja. Ia tak peduli dengan perkataan gadis itu. Yang jelasnya ia masih ingin bersama-sama dengan Revalda di tempat itu sampai orang yang ditunggu datang.
"Terimakasih banyak traktirannya ya Ikh, dan aku harus pergi dari sini sekarang juga!" tegas Revalda dan langsung berdiri dari duduknya. Akan tetapi pria itu menariknya kembali agar bisa duduk dengan tenang.
"Kamu itu kenapa sih?!" ucap Revalda dengan wajah yang tampak sangat marah. Ia benar-benar tidak suka diperlakukan semena-mena oleh pria yang ia anggap sebagai teman.
"Aku gak kenapa-napa Val. Aku hanya ingin kamu bersabar sedikit saja sampai orang yang kita tunggu datang."
Revalda pun mengalah apalagi melihat ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Gadis itu duduk dengan tenang kemudian meraih handphonenya yang ia simpan di dalam saku celananya.
Ia akan bersabar menunggu orang yang dimaksud oleh Ikhsan sembari bermain game offline yang sudah ia download di dalam benda pipih elektronik yang ada di tangannya.
Poin yang ia dapatkan sudah mencapai ribuan dan tak sadar kalau ia sudah sangat lama di tempat itu.
"Eh, astaghfirullah. Ini udah waktunya sholat ashar. Orang yang kamu tunggu mana?" tanya Revalda pada Ikhsan yang sedang menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Tuh di depan kamu," jawab pria itu dan langsung membuat Revalda tercengang. Tubuh wanita itu langsung gemetar. Sebuah kenangan buruk tiba-tiba bergelayut di dalam kepalanya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?