
"Selamat pagi pak!"
"Selamat pagi!"
Yudha Abdullah membalas sapaan semua karyawan dengan ramah. Hatinya sangat gembira pagi ini karena akan bertemu dengan Selfina, sang pujaan hati. Ia sudah sangat rindu pada perempuan cantik berlesung pipi itu yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Selamat pagi pak!" sapa Selfina dan Maya bersamaan. Mereka berdua membungkukkan badannya sedikit untuk menyambut presiden direktur itu seperti kebiasaan mereka selama ini.
"Selamat pagi!" balas Yudha.
"May, kamu masih disini?" lanjut pria itu seraya mengarahkan pandangannya ke arah Maya yang berdiri agak berjauhan dengan Selfina.
"Tentu saja mas. Aku 'kan mau belajar jadi seorang pekerja kantoran yang sukses seperti mas Yudha," senyum Maya.
"Oh baguslah. Kamu memang harus mempunyai semangat yang tinggi."
"Makasih banyak mas," ucap gadis itu dengan wajah gembira. Ia sangat seolah-seolah dadanya sedang dipenuhi bunga yang bermekaran.
"Dan satu lagi. Kalau di tempat kerja seperti ini jangan panggil aku dengan kata Mas, okey?"
"Iya mas, eh iya pak." Maya masih tersenyum. Sedangkan Selfina mendengus.
"Dan satu lagi," ucap Yudha dengan ekor mata melihat melirik ke arah Selfina yang nampak diam saja.
"Kamu tetap disini dan jangan biarkan siapapun untuk masuk ke ruangan aku siapapun dan apapun alasannya," tegas Yudha.
"Baik pak."
"Bagus!," ucap Yudha lagi seraya mengarahkan pandangannya pada Selfina yang sejak tadi hanya diam dan tak memberi reaksi yang berlebihan.
"Dan kamu ke ruangan aku sekarang!" titahnya dengan wajah datar.
"Maaf, pak. Saya masih ada pekerjaan di sini." Selfina menolak. Ia benar-benar ingin menunjukkan kalau ia masih sangat kesal pada pria itu.
"Oh ya? Jadi kamu gak mau taat perintah presiden direktur?" tanya Yudha dengan alis terangkat.
"Untuk sementara tidak. Maaf pak." Selfina membungkukkan badannya hormat kemudian segera duduk kembali di kursinya. Ia tidak perduli pada pria itu yang berubah kesal karena sebenarnya ia juga sangat kesal.
Maya menatap mereka berdua cengo. Setelah itu ia tersenyum lebar. Ia langsung merasa mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan Yudha.
__ADS_1
"Kalau pak Yudha butuh bantuan, aku bisa kok membantu. Mbak Selfina memang lagi banyak kerjaan sih." Maya cepat-cepat menimpali.
"Gak apa-apa May. Aku hanya butuh Selfina saja. Dan ya, ruangan sekretaris sekarang sudah ada di dalam ruangan aku ya," ucap Yudha dengan tatapan tajam pada Selfina yang sudah mulai berkutat dengan layar komputer di hadapannya.
Selfina tidak peduli. Ia seolah-olah tidak mendengar kata-kata dari pria itu.
"Kamu gak dengar aku mbak Selfina!" lanjut Yudha dengan rahang mengeras karena diabaikan.
"Dengar pak. Tapi maaf, saya sedang tak ingin taat sekarang. Saya sedang ada pekerjaan penting." Selfina menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Oh ya ampun mbak Sel. Kamu benar-benar tak sopan ya," ucap Maya dengan mulut membola karena tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku tunggu dalam waktu 10 menit di dalam ruangan atau kamu akan mendapatkan surat peringatan!" tegas Yudha tak ingin lagi dibantah.
Selfina hanya mendengus tapi tetap melanjutkan kegiatannya mengetik di atas keyboard dengan kecepatan diatas rata-rata.
Yudha tidak lagi bicara tetapi langsung masuk ke ruangannya. Ia kesal tapi berusaha untuk menahan dirinya.
Maya nampak semakin bingung kemudian segera duduk di samping Selfina.
"Hey, mbak sektretaris. Kamu kok berani sih menantang mas Yudha. Kamu belagu ya, dia 'kan presiden direktur di perusahaan ini."
"Kamu benar-benar tak tahu adab ya!" Maya semakin kesal karena dirinyapun diabaikan oleh perempuan itu.
"Hey, serius banget sih. Kamu tipe sekretaris pembangkang dan juga membosankan, lalu kenapa pak presiden direktur masih mempertahankan kamu sih?"
"Hey, kamu dengar aku gak sih!" Maya terus mengoceh untuk memancing gara-gara dengan Selfina.
"Apa masalahmu mbak Maya. Sekarang kamu bantu aku mensortir semua berkas dari semua divisi. Itu tugasmu jadi tidak usah kamu mencampuri urusan aku, mengerti?"
"Cih! Sok!" Maya berdecih tapi tetap melakukan perintah dari sekertaris itu. Akhirnya ruangan itu jadi sepi karena keduanya jadi sibuk bekerja. Yang kedengaran hanyalah bunyi kertas yang sedang di buka tutup oleh Maya dan juga Suara tuts keyboard komputer yang sedang digunakan oleh Selfina.
Berbeda dengan Yudha, ia belum juga melakukan apapun di dalam ruangannya sejak ia datang. Ia kesal karena Selfina berani sekali menantang nya dan bahkan mengabaikannya.
Ia sudah tidak tahan lagi dan harus memaksa istrinya itu masuk ke ruangannya saat ini juga. Ia pun mondar-mandir saja sambil mencari ide.
Ceklek!
Yudha mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Selfina masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa beberapa map di tangannya.
__ADS_1
Yudha tersenyum samar seraya melihat ke arah jam tangan mahal yang ada di pergelangan tangannya.
"10 menit. Hebat. Kamu sangat bisa diandalkan," ucap Yudha seraya menghampiri sang sekretaris cantik dengan senyum tipis dibibirnya.
Pria itu lega karena sang istri akhirnya masuk juga sebelum ia melakukan sesuatu yang cukup ekstrim.
"Maaf pak. Saya bekerja profesional dan juga tidak ingin diberi surat peringatan." Selfina menjawab seraya meletakkan berkas-berkas itu di atas meja.
"Ada banyak yang perlu di tandatangani di dalam map itu pak. Dan kalau sudah selesai saya akan ke dalam sini untuk mengambilnya," lanjutnya seraya berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.
"Kamu tidak akan kemana-mana sayang. Ruangan kerjamu ada di sini. Jadi kamu tidak akan bisa keluar kecuali atas izin aku," tegas Yudha seraya meraih pinggang Selfina dan membawanya ke dalam pelukannya.
Untuk beberapa detik perempuan itu kaget dengan aksi tiba-tiba suaminya. Akan tetapi ia berusaha tenang dan tidak memberi respon yang berarti.
"Saya lebih memilih di luar saja. Sejak dulu ruangan sekretaris ada di depan ruangan presiden direktur. Jadi saya tetap akan mematuhi aturan itu." Selfina menjawab dengan wajah datar.
"Sel, ada apa denganmu?" tanya Yudha seraya mengarahkan dagu istrinya agar mau menatapnya.
"Saya hanya orang lain yang kebetulan anda nikahi. Saya hanya seorang sekretaris yang seharusnya tidak terlibat masalah pribadi dengan anda," ucap Selfina dengan suara bergetar menahan rasa sedih di dalam hatinya.
Mendung hitam sudah menggantung di dalam matanya yang indah.
"Dan sekarang, biarkan kita seperti dulu. Kita lebih baik hanya mempunyai hubungan kerja saja," lanjut perempuan itu dengan tangis yang mulai pecah.
Ia juga berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan suaminya akan tetapi Yudha malah menahan pinggang rampingnya agar jarak mereka tidak terpisah.
"Ada apa sayang?" tanya Yudha.
"Kamu istimewa Sel. Kamu bukan hanya sekretaris pribadiku tapi juga istri aku. Kita tidak akan menjadi orang asing karena aku sangat mencintaimu," ucap Yudha dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.
Jarinya bergerak menghapus airmata istrinya yang sudah meluncur membentuk anak sungai di pipinya.
"Bohong!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong 🤭. Besok kita lanjut 😍
__ADS_1