
Praja akhirnya bangun. Ia sadar kalau ia telah salah dan membuat istrinya jadi kesal dan marah. Berjalan keluar dari kamar ia langsung menuju kamar David sang putra.
Ia yakin Ardina pasti ada di sana. Detak jarum jam menemaninya memasuki kamar yang tidak dikunci itu.
Ia harus meminta maaf pada sang istri atau ia benar-benar tak bisa tidur sepanjang malam ini.
Membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara ribut ia pun masuk ke dalam kamar yang hanya disinari oleh cahaya remang-remang lampu tidur.
Ia pun melangkah ke arah ranjang David untuk menemui istrinya yang sedang memeluk sang putra.
Praja tersenyum. Ia memandang Ardina dengan tatapan penuh cinta. Ia pun lantas mendekatkan wajahnya dan mencium pipi perempuan itu.
"Sayang, kamu sudah tidur ya?" bisiknya pelan dan langsung membuat Ardina membuka matanya.
"Kak, kamu disini?" tanyanya.
"Hum, aku tidak bisa tidur," ucap Praja dengan suara rendah bagaikan bisikan.
Ardina pun bangun dari posisinya dan duduk menghadap sang suami.
"Aku minta maaf kalai sudah bikin kamu kesal."
"Iya kak. Aku juga minta maaf." Ardina menjawab seraya tersenyum. Ini yang ia inginkan. Mereka berdamai sebelum tidur agar mereka bisa istirahat dan tidur dengan tenang. Sedari tadi ia ingin kembali ke kamarnya tapi ia masih sangat kesal.
"Kita balik ke kamar ya sayang. Aku beneran gak bisa tidur kalau gak nyentuh kamu," rajuk Praja dengan suara manja. Ia menatap istrinya dengan penuh kerinduan seperti orang yang telah berpisah cukup lama.
Ardina tersenyum kemudian mengelus lembut rahang tegas sang suami.
"Aku juga kak."
"Lalu bagaimana bisa kita akan berpisah jauh lagi sayang?" tanya Praja dengan suara bergetar. Ia meraih tangan lembut istrinya itu kemudian menciumnya dengan penuh perasaan.
Ardina terdiam. Ia akan selalu membujuk hatinya untuk bersabar. Ia pasti bisa melewatinya dengan baik. Tapi ia sangat tidak yakin dengan suaminya yang begitu sangat manja dan rewel.
"Kak, gimana kalau kamu pulang trus gak ada aku menemani malam-malam mu?"
Praja terdiam kemudian menatap sang istri. Ia mulai menyentuhkan bibirnya keatas permukaan bibir kenyal sang istri yang sedikit tebal itu.
Mereka pun saling memagut dengan penuh perasaan. Mengantarkan rasa cinta yang meluap-luap.
"Berikan aku bekal yang banyak malam ini sayang," bisik Praja seraya mengangkat tubuh istrinya ke kamar mereka sendiri.
Ardina tersenyum saja. Apapun akan ia lakukan agar malam ini mereka bisa menumpahkan rasa gelisah dan kesalnya pada keadaan.
Ia harus super aktif daripada suaminya karena ia harus memberikan bekal yang sangat banyak pada pria itu dimalam yang panjang ini.
Si piton ia belai dengan jari-jarinya yang lentik kemudian ia bawa depan wajahnya dan ia belai dengan lidahnya bagaikan sedang menghadapi es krim favoritnya.
__ADS_1
Praja merasa terbang di atas ketinggian dengan sangat indah. Ardina selalu bisa mengerti apa yang inginkan.
Ia mengerang dan mendesis nikmat dengan segala hal yang dilakukan istrinya.
Ardina tampak sangat puas dengan apa yang ia lakukan. Ia sangat suka kalau sang suami memanggil-manggil namanya dengan sangat tersiksa penuh kenikmatan.
Praja tak tinggal diam, ia tidak ingin kalau istrinya yang memimpin terlalu lama permainan malam ini. Ardina sudah lama memberikannya servis dan sekarang gilirannya.
Dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya yang sedang bermain-main diatas tubuhnya. Perempuan cantik itu semakin cantik saja dengan goyangannya yang sudah hampir membuat si piton untuk muntah.
Ia tak mau itu terjadi dengan cepat. Ardina harus mendapatkan hal yang sama.
Ia harus memberikan juga banyak kepuasan pada istri tercinta. Dan ia sangat tahu kalau istrinya sangat suka jika kedua kaki Ardina ia simpan di kedua bahunya.
Aaaa
Malam itu benar-benar sangat panjang dan berkualitas bagi mereka berdua. Hanya ada kata-kata cinta dan juga pemujaan dari bibir mereka.
Praja menutup acara malam itu dengan serangan tanpa ampun pada sarang sang istri dari arah yang sangat disukai oleh mereka berdua.
"Terimakasih banyak sayangku, rasamu sangat nikmat," ucap Praja sebelum tumbang dan jatuh tertidur dengan sangat nyenyak.
Ardina tersenyum kemudian mengecup bibir sang suami tercinta. Ia juga berterimakasih karena rasa kesal yang mengganjal hatinya sudah menguap bersama dengan rasa lelah setelah saling memuaskan.
Mereka berdua saling berpelukan dibawah selimut menyongsong malam yang semakin dingin.
Berharap besok pagi mereka berpisah tanpa ada drama ngambek-ngambekan lagi.
Betul gak sih?
Au ah gelap.
🌹
Pagi pun datang menjelang. Seluruh penghuni rumah itu sudah bangun kecuali dua orang yang masih berada di bawah selimut.
David datang mengangetkan mereka berdua seperti biasanya. Anak itu bangun cepat sekali karena ingin melihat papanya pergi.
"Mama papa bangun!" teriaknya seraya membuka selimut kedua orangtuanya.
"David? Udah bangun sayang?" tanya Praja tersenyum. Ia segera menutupi kembali tubuh polos sang istri dengan menarik ujung selimut itu.
"Udah dong papa. Ayo bangun sholat."
"Iya my boy. Tapi kamu tunggu di luar dulu ya, papa sama mama mau mandi dulu," ucap sang papa seraya mencium pipi gembul anak itu.
"Iya deh." David mengalah. Ia pun turun dari ranjang dan segera berlari keluar dari kamar papa dan mamanya.
__ADS_1
Ardina pun membuka matanya yang masih terasa berat. Maklum, mereka hanya tidur sekitar beberapa jam saja semalam.
"Ayo sayang udah siang nih, aku mandi duluan ya," ucap Praja kemudian segera turun dari ranjang itu.
"Hum," ucap Ardina dengan perasaan yang masih sangat malas. Ia hanya melihat suaminya berjalan ke kamar mandi kemudian ia kembali menutup matanya.
"Hey, Ayo bangun."
Ardina membuka lagi matanya. Ternyata sang suami sudah segar dan bahkan sudah siap dengan pakaian sholatnya.
"Iya kak." Ia pun bangun dan segera ke kamar mandi dengan membawa selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Setelah itu ia keluar dengan perasaan yang sudah lebih segar.
Mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk.
David masuk lagi ke kamar itu setelah doa pagi mereka panjatkan.
"Papa, benelan mau pulang?" tanya anak itu seraya mendudukkan dirinya diatas pangkuan sang papa.
"Iya sayang, papa mau kerja untuk David dan mama."
"Hummm..." David tampak berpikir.
"Jangan lama-lama ya pa."
"Iya sayang."
Praja dan Ardina saling bertatapan kemudian tersenyum.
"Iya, papa juga tidak ingin lama-lama pisah sama kalian makanya David harus doakan papa sama mama ya?"
"Aaamiin!" jawab David dengan cepat.
"Lhoo kok aamiin langsung?!"
"Papa aja yang beldoa caya yang aamiin."
"Hahaha!"
Mereka semua tertawa.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong biar ada yang nemenin authornya menghalu hehehe 😂
__ADS_1
Kirimlah sedekah bunga dan kopi pagi-pagi.
Nikmati alurnya dan happy reading 😊