Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 52 Kekesalan Yudha


__ADS_3

"Katakan mama mau apa?" tanya Yudha. Desy menghampiri sang putra yang tak berbeda jauh dari usianya itu.


"Yudha, mama sangat sedih dan merasa kesepian dengan tidak adanya papamu di samping mama sayang," ucap Desy dengan wajah dibuat sangat menyedihkan.


Yudha hanya membuang nafas.


"Untuk itu mama sangat marah sama Ardina. Rasanya kebahagiaan mama sudah hilang dan sekarang berganti dengan kesedihan. Kamu tahu Yud? Mama seperti orang gila jika memikirkan semua ini. Mama kacau dan butuh seseorang untuk berbagi."


Yudha hanya diam mendengarkan. Ia ingin tahu apalagi yang akan dikatakan oleh perempuan dihadapannya ini. Desy pun melangkahkan kakinya yang baru Yudha perhatikan ternyata sedang memakai rok yang sangat pendek.


Kulitnya yang putih dan mulus terpampang nyata di depan mata pria muda itu.


"Yudha sayang. Kamu tahu 'kan kalau sebelum papamu menikahiku aku adalah sekretaris pribadinya," ucap Desy seraya mengarahkan tangannya ke arah kelopak jas pria muda dan sangat tampan itu.


Yudha tanpa sadar menganggukkan kepalanya.


"Mama ingin kembali bekerja agar semua permasalahan di kepala mama jadi hilang dan terasa ringan."


Jari-jari lentik perempuan itu mulai merambat ke arah kelopak jas Yudha dan mengelus lembut kain lembut itu.


"Mama bisa menjadi sekretaris pribadimu menggantikan Ardina. Bukankah perempuan itu sudah lama ingin resign?" ucap Desy dengan tatapan lurus ke dalam mata elang Yudha.


"Mama sangat tahu cara menjadi sekretaris sayang, mama sangat tahu kebutuhan kamu. Mama akan mengurus semua urusan pekerjaan dari A sampai Z. Dari kamu bangun sampai tidur kembali," bisik Desy dengan bibir ia tempelkan pada pipi Yudha.


Pria itu tersentak kaget. Ia lantas mendorong tubuh mama tirinya dengan pelan agar sedikit menjauh darinya.


"Maaf ma," ucapnya dengan perasaan tak nyaman. Desy tersenyum kemudian kembali mendekatkan dirinya dan hampir menempel pada tubuh Yudha.


"Yudha, kamu harus pikirkan ini sayang. Mama butuh kesibukan. Dan mama adalah sekretaris andalan Papamu. Jadi kamu pasti tahu sehebat apa aku 'kan?" ucap Desy lagi seraya menyentuh dasi putranya.


"Lihatlah, kamu butuh seseorang untuk memasangkan dasi yang benar untukmu. Penampilanmu sangat menunjang performa perusahaan. Kamu 'kan seorang presiden direktur sekarang."


Tangan perempuan itu pun dengan lincah memperbaiki letak dasi Yudha dengan tatapan lurus ke dalam mata pria muda itu.


"Iya ma, terimakasih banyak." Yudha tersenyum gugup. Ia merasa kalau perempuan ini semakin berani saja menyentuh dirinya.

__ADS_1


Ya, meskipun mereka ada hubungan ibu dan anak tapi berada sedekat ini dengan seorang perempuan dewasa yang notabene adalah istri dari papanya membuatnya jadi tidak nyaman sendiri.


"Nah, sudah rapi. Kamu nampak semakin tampan sayang," ucap Desy lagi seraya mengecup pipi Yudha sekilas. Ia telah merapikan letak dasi sang putra yang tadi sedikit miring.


"Hanya mama yang tahu cara menata penampilanmu Yudha. Mama tahu pekerjaan yang ada di perusahaan ini. jadi kamu tahu maksud mama 'kan sayang?"


"Itu ide yang bagus ma. Nanti aku pikirkan." Yudha menjawab dengan senyum diwajahnya.


"Jangan lama-lama berpikir dong, seorang presiden direktur seperti dirimu yang masih sangat muda dan memikirkan masa depan perusahaan harus tahu yang sangat urgen dilakukan." Dedy kemudian duduk diatas meja kerja Yudha hingga rok pendeknya langsung tersingkap ke atas.


Pangkal pahanya yang sangat mulus dan putih langsung nampak kelihatan dengan sangat indah.


Yudha segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bagaimana pun juga ia adalah seorang pria dewasa. Dan pemandangan seperti itu cukup membuat aliran darahnya mengalir dengan sangat cepat.


"Apa itu saja tujuan mama kemari?" tanya Yudha seraya mencari kesibukan lain dengan membuka layar laptopnya.


"Mama butuh uang Yud, kamu lihat kulit ku ini sayang?" Desy merajuk dengan manjanya. Tangannya dengan lincah mengangkat kain rok yang sangat pendek itu dan memperlihatkannya pada sang putera. Hingga pantynya yang berwarna merah tampak sangat kontras dengan kulitnya yang sangat mulus.


"Mama butuh perawatan di salon sayang. Mama perlu memanjakan diri supaya bisa lupa permasalahan mama," ucapnya dengan manja dan juga sensual. Yudha sampai merasakan kulitnya meremang.


Untuk menghindari masalah ia langsung saja memberikan cek yang begitu besar pada perempuan itu karena mulai gerah.


Desy tersenyum kemudian melompat turun dari meja itu. Ia langsung mengecup pipi Yudha dengan perasaan yang sangat senang karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Terimakasih banyak ya sayang, kamu memang paling mengerti apa yang mama inginkan," ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.


"Iya ma, sama-sama."


"Tapi, mama sebenarnya masih mau yang lain. Mama boleh minta lagi gak?"


"Katakan saja ma. Aku sebentar lagi ada meeting." Yudha menjawab dengan tak sabar. Ia benar-benar sudah merasa gerah dan sangat kesal.


"Mama ingin kamu Yudha," bisik perempuan itu pas di kuping Yudha. Ia merapatkan tubuhnya yang seksi ke tubuh putranya dengan tangan mengelus punggung Yudha.


Untuk beberapa detik Yudha tak bisa bergerak. Ia tiba-tiba berada di sebuah dimensi lain.

__ADS_1


"Mama kesepian sayang. Mama butuh seseorang yang bisa menghibur mama. Mama ingin kamu." Desy semakin berani.


"Kita bisa saling melengkapi Yudha. Mama akan memberikan kamu sarapan sebelum meeting sayang. Kamu pasti akan bersemangat lagi, hemm," bisik perempuan itu pas di kuping Yudha.


"Maaf ma, ini tidak benar dan silahkan pergi dari sini atau cek itu akan aku ambil kembali!" tegas pria itu dan mendorong tubuh perempuan itu agar menjauh darinya.


Kali ini ia sudah sangat kesal. Ia sudah mulai paham dengan apa yang diinginkan oleh perempuan tidak tahu malu itu padanya.


"Yudha, kamu menolak mama? Mama bisa melayanimu sayang!"


"Mama mau keluar baik-baik atau aku akan menyeretmu keluar hah!"


Desy tampak sangat kesal.


"Keluar sekarang juga dan jangan pernah berpikir untuk menemuiku dimana pun. Aku sungguh jijik padamu."


"Yudha!"


"Aku juga akan meminta papa untuk segera menceraikanmu!"


Desy langsung meninggalkan tempat itu dengan wajah marah. Ia harus ke penjara sekarang. Maher tidak boleh menceraikannya atau ia akan menjadi seorang gembel jika itu terjadi.


Yudha segera kembali ke kursinya. Ia berusaha menenangkan perasaan marahnya pada Desy, sang mama tiri.


Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan yang ia anggap sebagai mamanya sendiri berani menyentuhnya dengan sangat sensual seperti itu.


Air mineral pun ia minum untuk meredakan emosinya yang sempat memuncak.


"Brengsek! Bisa-bisanya ia berpikir untuk merayu diriku!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan komentar dong.

__ADS_1


Kalau ada yang mau bersedekah vote, dengan senang hati othor terima.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2