Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 202 Baby Boy


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bayi Selfina dan Yudha sudah berusia 2 bulan saat Yundha tiba-tiba merasakan kontraksi pada kandungannya.


Dewa nampak sangat tegang dan juga khawatir karena ia baru saja menarik si Otong keluar dari gua sempit milik perempuan itu dan Yundha pun menangis kesakitan.


Ia sangat khawatir karena tiba-tiba saja sang istri mengeluarkan cairan bening putih yang sangat banyak.


"Sayang, ada apa?" tanyanya bingung sekaligus khawatir.


"Sakit banget mas. Aaargh!" Yundha meremass pinggangnya dengan tangis sesenggukan.


"Ya Allah, apa aku menyakiti kamu sayang?" tanya Dewa seraya mengambil kain untuk membersihkan bagian bawah istrinya. Tangannya pun gemetar karena ia melihat cairan merah pun keluar dari pangkal paha perempuan itu.


"Mass, aargh sakit banget. Aku gak kuat Aaargh!" Yundha semakin merasakan sakit yang teramat sangat menyerang tubuh bagian bawahnya. Dewa panik. Ia pun segera membersihkan dirinya dengan cara kilat kemudian memakaikan pakaian untuk sang istri.


"Tunggu sebentar sayang," ucap pria itu kemudian mengecupnya bibir sang istri.


"Aku akan panggil mama dan bawa kamu ke rumah sakit." Dewa segera berlari keluar kamar untuk memanggil Rania.


"Iya mas. Tapi cepetan. Ini sakit sekali aaargh," balas Yundha meringis saat rasa sakit itu datang lagi menyerang.


"Iya sayang. Kamu tarik nafas aja dulu dan buang pelan-pelan."


Yundha hanya mengangguk kemudian melakukan apa yang suaminya perintahkan. Dewa sendiri langsung berlari keluar dari kamar mereka. Ia harus meminta sopir untuk menyiapkan mobil dan juga sang mama harus tahu ini.


"Sepertinya Yundha akan melahirkan ma. Ada darah dan cairan yang banyak keluar dari pangkal pahanya," ucap Dewa dengan wajah tegang. Rania tampak sangat kaget mendengarnya.


"Pergilah temani istrimu nak. Mama akan ganti pakaian dulu," ucap perempuan paruh baya itu berusaha untuk tenang dan tidak panik.


"Iyaa ma. Aku sekarang bawa Yundha ke mobil ya," ucap pria itu kemudian segera berlari lagi ke kamarnya.


"Mas, ya Allah. Ini aku gak kuat huaaa." Yundha menjemputnya di depan pintu kamar dengan darah semakin banyak keluar dari pangkal pahanya. Ia bahkan menangis histeris saat rasa sakit itu kembali datang.


"Kamu minum susu dulu sayang agar kuat ngejan." Rania datang dengan membawa segelas susu dan juga beberapa biji kurma.


Meskipun merasa kesakitan, Yundha pun segera mengikuti saran sang mama mertua. Ia meminum susunya dan juga memakan buah kurma itu dengan membaca bismillah dan sholawat atas nabi.

__ADS_1


Setelah itu Dewa pun langsung mengangkat tubuh perempuan cantik itu keluar dari rumah menuju ke mobilnya.


Perjalanan ke rumah sakit itu terasa seperti terbang. Dewa meminta sopir untuk menambah kecepatan karena takut dan khawatir kalau Yundha mungkin akan melahirkan di atas mobil. Perempuan itu tak berhenti mengeluh sakit dan bahkan menangis.


"Sabar sayang. Baca surah Al-fatihah atau baca shalawat aja kalau rasa sakit itu datang," bujuk Rania karena sang menantu terus saja menangis seraya mencengkram tangan suaminya sampai merah dan bahkan hampir berdarah.


Ciiit


Mobil itu pun berhenti di depan ruangan bersalin. Dewa kembali menggendong istrinya yang berbadan dua itu langsung masuk ke ruangan tindakan.


"Dokter!" teriak Dewa dengan perasaan yang sangat panik. Pasalnya Yundha sudah sangat lemas.


"Aaargh mass sakit sekali hiks." Yundha kembali mengeluh sakit. Kali ini sakitnya sudah tak bisa ia tahan.


"Bapak di luar saja. Kami akan segera membantunya," ucap sang dokter kandungan dan langsung membuka kedua paha Yundha dan memeriksa jalan lahirnya.


"Tidak dokter. Aku akan menunggu di sini." Dewa menolak karena memang sudah tak bisa lagi bergerak. Tangannya tak mau dilepaskan oleh sang istri.


"Wah, kepalanya udah keliatan Bu. Tolong pahanya dibuka ya. Dan tahan untuk tidak mengangkat pantat agar tidak robek," ucap sang dokter dengan ekspresi yang sangat tenang.


"Tarik nafas dan dorong dengan nafas yang panjang ya bu. Bismillahirrahmanirrahiim."


"Bismillahirrahmanirrahiim, Aaaaargh massss!"


"Oeeek!"


"Alhamdulillah. Allohumma sholli ala Muhammad!" teriak Dewa dengan histeris saat bayi mereka lahir dengan suara tangis melengking.


Yundha tersenyum dengan peluh membasahi seluruh permukaan wajahnya. Ia merasa sangat lega karena benar-benar telah resmi menjadi seorang ibu.


"Makasih banyak sayang. Kamu sangat kuat Nda." Dewa balas tersenyum kemudian mengecup kening sang istri.


"Iya mass," balas perempuan itu kemudian menutup matanya merasakan tangan dokter mengeluarkan ari-ari dari dalam kandungannya.


Ia merasakan tubuhnya begitu ringan sekarang. Rasa sakit yang teramat sangat tadi terasa menguap dan tak menyisakan rasa sakit lagi meskipun itu hanya sedikit.

__ADS_1


Maha suci Allah yang telah memberikan rasa nyaman setelah memberinya rasa sakit.


"Ibu pintar sekali ya, gak ada robek sama sekali. Dan MasyaAllah, ngelahirinnya gampang banget," senyum sang dokter seraya menyerahkan baby boy yang baru lahir itu kepada sang asisten untuk dibersihkan.


"Iya dokter. Alhamdulillah. Allah memudahkan semuanya. Istri saya bahkan masih junub."


"Hah? beneran pak?" senyum sang dokter lagi seraya memberi kode pada asistennya untuk membersihkan tubuh Yundha.


"Mass!" panggil Yundha dengan wajah malu. Ia tak mau pria itu bicara terlalu banyak tentang urusan pribadi mereka. Dewa tersenyum saja kemudian mengecup lagi kening sang istri.


"Aku mencintaimu sayang. Kamu hebat. Dan terimakasih ya," ucap pria itu dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.


"Iya mas. Tolong hubungi mama. Dia pasti sangat senang karena punya cucu lagi."


"Iya sayang. Mama Rania pasti udah menghubungi orang-orang di rumah," jawab Dewa kemudian segera meraih sang baby boy mereka dari tangan bidan.


Seperti anjuran nabi Muhammad Saw. Ia pun segera mengazani kuping bayi laki-laki yang sangat tampan itu sebagai sebuah simbolik dari harapan dan doa-doa setiap orang tua kepada anaknya yang baru lahir agar kelak dapat menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupannya.


Mendengungkan adzan dan ikamah pada masing-masing telinga juga merupakan doa dan harapan orang tua agar sang buah hati senantiasa menyembah Allah. Karena hal pertama didengar ketika ia lahir ke bumi adalah seruan untuk menyembah Allah.


Setelah ia melakukan anjuran sang Nabi, Dewa pun meletakkan baby boy itu ke dalam boksnya dan keluar dari ruangan itu.


Ia punya kewajiban lain pada sang bayi yaitu mengubur Ari-arinya di dalam tanah. Rania pun masuk ke ruangan itu untuk menemani Yundha.


Perempuan paruh baya itu tak berhenti mengucapkan kalimat syukur karena sang menantu dan juga bayinya sehat dan selamat.


"Terimakasih banyak Nda. Kamu sudah memberikan mama seorang cucu yang sangat tampan."


"Iya ma." Yundha tersenyum kemudian menutup matanya. Ia sungguh sangat mengantuk sekarang.


🌹🌹🌹


"Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Mari kita istirahat dulu gaess 🤭.


__ADS_2