Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 233 Alat Untuk Jungkat-jungkit


__ADS_3

Rupanya peristiwa jatuh di ranjang tua itu masih sangat mengganggu pikiran Tiara. Ia jadi pendiam dan tak mau berdekatan dengan sang suami.


Sejak masuk ke dalam kamarnya, ia tidak ingin naik ke atas tempat tidur apalagi disentuh oleh pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.


Yudhis jadi bingung sendiri. Padahal ia masih sangat ingin mengulang kegiatan menyenangkan yang tadi karena hasratnya pada sang istri masih belum menurun.


"Sayang, kemarilah," panggil Yudhis pada perempuan itu yang sejak tadi mengambil jarak darinya.


"Gak ah mas."


"Eh, sini dong. Aku masih mau lanjutin yang tadi lho," ucap Yudhis lagi.


Tiara menggelengkan kepalanya menolak. Ia merasa malu dan juga trauma dengan kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu.


"Ada apa sih sayang?" tanya Yudhis seraya menggeser tubuhnya mendekati perempuan cantik itu.


"Gak mas. Gak apa-apa. Aku lagi gak enak badan aja sih." Tiara menjawab dengan senyum tipis diwajahnya.


"Kalau gitu kamu naik ke atas tempat tidur ya dan aku akan periksa seluruh tubuhmu. Kali aja ada yang terluka waktu kita jatuh tadi," saran Yudhis dengan senyum penuh makna. Ia pikir dengan main dokter-dokteran ia akan punya alasan untuk menyuntik sang istri.


Tiara meringis. Ia semakin merasa tak nyaman dan juga trauma jika mendengar suaminya mengingatkannya dengan kejadian tadi. Rasanya begitu tiba-tiba, begitu sangat mengejutkan dan juga memalukan.


Ia belum juga bergerak dari tempatnya hingga akhirnya Yudhistira yang berpindah tempat agar mereka bisa lebih dekat.


"Ada apa sih sayang?" tanya Yudhis seraya berlutut didepan Tiara. Wanita itu tak menjawab dan hanya menundukkan wajahnya seraya meremas jari-jarinya.


"Ra, yang tadi itu enak banget lho sayang. Kita lanjutkan yuk," ucap Yudhis membujuk. Akan tetapi wanita itu tetap tak memberi respon. Rupanya ia benar-benar masih merasa sangat syok dengan kejadian yang tadi.


"Aku masih ingin sayang," ucapnya lagi dengan tatapan memohon. Berharap perempuan itu luluh dan memberikannya kesempatan untuk melakukan yang enak-enak.


Yudhis pun menggenggam tangannya kemudian membawanya ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan sangat lembut agar sang istri mau menerimanya kembali.


"Sayang, coba deh kamu bicara, ada apa sih? Kamu gak suka ya sama yang kita lakukan tadi?" tanya pria itu lagi.


"Nggak Mas," jawab Tiara.


"Lalu kenapa kamu diam saja?"


Tiara tampak berpikir kemudian dengan malu-malu berucap, "Katanya mau ngajak aku nginap di rumahnya mama Merry. Ayok kita pergi sekarang."


"Lho"


"Kenapa mas. Gak jadi ya?" tanya Tiara berubah kecewa. Sungguh, ia ingin pergi dari rumah ini karena sangat malu bertemu dengan para pekerja yang tahu kejadian barusan.

__ADS_1


"Jadi dong. Seperti yang kamu inginkan istriku," ucap Yudhis tersenyum. Ia sangat senang karena istrinya itu mau ikut dengannya.


"Ayok lah kalau begitu. Aku udah minta izin sama papa dan mama sih. Jadi kita bisa langsung berangkat," ucap pria itu dan segera berdiri dari posisinya.


"Aku ambil pakaian aku dulu ya mas," balas Tiara seraya melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaiannya.


"Aku bantuin," balas sang suami seraya mengambil tas untuk istrinya itu. Tiara pun sibuk memasukkan banyak pakaiannya ke dalam tas besar yang diberikan oleh pria itu.


"Kamu kok bawa pakaian sebanyak ini?" tanya Yudhis bingung.


"Emangnya gak boleh ya mas?" Tiara balas bertanya. Matanya memandang tas besar yang sudah berisi banyak pasang pakaiannya.


"Suka sih, tapi kamu kayak orang mau pindahan rumah."


Yudhis menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya emang mau pindah," jawab Tiara dengan senyum diwajahnya. Yudhistira ikut tersenyum. Ia tak mau bertanya-tanya lagi. Perempuan harus dimengerti apa saja maunya agar jika kita mau dia juga langsung mau, begitu kata Yudhis di dalam hatinya.


Setelah semua barang bawaan Tiara sudah beres, mereka pun bersiap keluar dari kamar itu.


"Ayok deh kita berangkat" ucap Yudhistira kemudian meraih tas sang istri dan membawanya keluar dari sana. Akan tetapi langkah Tiara terhenti tiba-tiba. Yudhis bingung. Takutnya istrinya itu berubah pikiran.


"Aku mau pamit sama mama dan papa dulu ya mas," ucap Tiara saat mereka sudah ada di luar kamar.


"Iya mas," balas Tiara kemudian segera berlari ke arah kamar kedua orangtuanya. Sesampainya di sana ia tidak jadi mengetuk karena tidak sengaja mendengar suara-suara aneh di dalam kamar itu.


Maklumlah malam yang sepi seperti ini semua orang bisa saja dengan jelas mendengar suara-suara sekecil apapun itu.


Seketika tubuhnya merinding takut. Ia khawatir kalau-kalau Wicaksono sedang menyiksa sang mama di dalam sana. Rintihan mamanya benar-benar menggangu pendengarannya.


Dengan gerakan pelan, ia mencoba memutar handle pintu untuk mengintip apa yang terjadi di dalam kamar kedua orang tuanya di tengah malam yang sunyi itu.


Plak!


"Astaghfirullah!" Tiara terlonjak kaget. Seseorang telah memukul bahunya dengan tiba-tiba. Yudhis tak disangkanya sudah berada di belakangnya dengan tatapan tajam.


"Mas?!" ucapnya pelan. Takut kedengaran.


"Kok ngintip sih?"


"Mas, dengar deh, kayaknya itu suaranya mama deh, lagi ngapain mereka?" bisik Tiara dengan sangat pelan.


"Ssst!"

__ADS_1


Yudhistira berusaha memasang kupingnya dengan baik kemudian merasakan kulitnya merinding juga. Ia adalah seorang pria dewasa yang tahu pasti apa yang terjadi meskipun ia belum pernah melakukannya dengan perempuan manapun.


"Ayok kita pergi saja," ucap Yudhis seraya menarik tangan istrinya menjauh dari kamar itu.


"Kenapa mas? Aku takut mama diapa-apain sama papa. Papa itu suka main kekerasan soalnya."


"Gak apa-apa. Mereka berdua gak boleh kita ganggu."


"Kenapa?" tanya Tiara dengan wajah polosnya.


"Karena papa dan mama sedang bermain Jungkat-jungkit. Kalau kita sampai di rumah kita juga bisa kok melakukannya," senyum Yudhis seraya mencium pipi sang istri.


"Jungkat-jungkit? Memangnya ada permainan seperti itu mas?" tanya Tiara masih dengan wajah bingungnya.


"Ada dong. Ayo cepat. Aku udah gak sabar sayang. Katrol aku udah siap banget nih," ucap Yudhistira seraya menarik tangan istrinya untuk cepat-cepat pergi dari rumah itu.


Tiara mengikut saja. Ia tak bisa lagi berkata-kata meskipun otaknya masih berada di dalam kamar sang mama. Sungguh ia masih sangat penasaran dengan yang namanya permainan Jungkat-jungkit di dalam kamar.


"Mas, emang ada alatnya ya?" tanya Tiara saat mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sang suami. Yudhistira mengernyit bingung.


"Alat apa maksudnya sayang?" tanya pria itu tak mengerti. Soalnya sejak tadi Tiara diam saja kok sekarang tiba-tiba bertanya alat.


"Alat untuk main Jungkat-jungkit mas," jawab Tiara dengan wajah polosnya.


"Hahaha ada kok." Tawa Yudhis pecah.


"Ish kok ketawa sih? Kayak gimana sih alatnya mas, di rumah aku 'kan gak ada permainan kayak anak Paud gitu."


"Ada sayang, nanti aku kasih lihat deh," ucap Yudhis tak berhenti untuk tersenyum.


Istrinya benar-benar masih sangat polos dan juga sering lalod atau lambat loading. Tapi jangan ditanyakan tentang kecantikan dan keindahan tubuhnya.


Beuh, Yudhistira sangat puas. Semua yang dia miliki mampu membuat juniornya langsung berdiri tegak seperti tiang keadilan.


"Mas, kok kamu diam?" tanya Tiara tiba-tiba.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2