
"Itu bukannya si Desy ya?" gumam Yudha saat melihat mama tirinya berjalan cepat keluar dari toko itu dengan tas belanjaan yang sangat banyak di tangannya.
Sejak saat perempuan itu berani menggodanya, ia tidak pernah lagi memanggil nama Desy dengan sebutan mama pada bibirnya.
"Ah bodo amat, untungnya aku gak ketemu orang itu jadi uangku aman," ucapnya lagi seraya menghampiri Selfina yang sudah selesai juga berurusan dengan kasir.
"Ini kartunya pak. Terimakasih banyak ya," ucap gadis itu seraya mengembalikan sebuah kartu sakti pada sang bos. Yudha tersenyum kemudian berucap, "Udah gak ada lagi yang mau dibeli?"
"Udah pak. Ini aja aku gak tahu mau ngucapin terima kasih kayak gimana. Harga semuanya sama dengan gaji saya dua bulan di Perusahaan pak," jawab Selfina dengan wajah meringis.
"Ya udah, nanti aku minta ucapan terima kasih mu tapi dalam bentuk yang lain ya," balas Yudha dengan tatapan anehnya. Selfina sampai merasakan dadanya berdebar kencang.
"Maksud bapak?" tanyanya curiga. Otak kotornya langsung mengirim sebuah sinyal bahaya.
"Awwwww!" Gadis itu langsung berteriak tertahan karena keningnya baru saja mendapatkan satu ketukan dari tangan sang bos.
"Jangan suka berpikir macam-macam atau aku akan membuktikan apa yang kamu pikirkan itu."
"Ish! Emangnya bapak tahu apa yang sedang saya pikirkan?" tanya Selfina mencibir.
"Tentu saja."
"Apa?"
"Kamu minta dicium 'kan?"
"A-apa? Ya ampun pak, kalau ngomong kok gak bisa disaring sih?!"
"Lah, emang benar 'kan?" Yudha tersenyum seraya meraih semua barang belanjaan sang sekretaris dan membawanya keluar dari toko itu.
"Ish! Gak benar lah. Mana ada yang seperti itu pak," ucap Selfina seraya mencebikkan bibirnya. Ia pun mengikuti langkah pria itu keluar dari toko itu.
"Gak usah bohong kamu. Rasa ciuman aku waktu itu enak 'kan? Aku yakin kamu masih ingin mengulanginya."
__ADS_1
"Ish! Mana ada enak kalau hasil curian? Singkat pula lagi!" Selfina mendengus sedangkan Yudha langsung menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu.
"Singkat hem? Jadi kamu mau yang lama gitu?" Senyumnya.
"Ish. Enggaklah pak. Mana ada yang seperti itu," ucap Selfina malu. Ia pun langsung mendahului langkah sang bos ke tempat parkir. Rasanya ia ingin bersembunyi karena salah ucap.
"Awas kamu Fin!" ucap Yudha seraya mempercepat langkahnya memburu gadis itu. Dan ia pastikan kalau ia benar-benar akan mencium Selfina setelah ini.
"Yudha, mama bisa numpang gak di mobil kamu? Mobil mama mogok nih," ucap Desy yang tiba-tiba saja ada di tempat parkir.
Yudha dan Selfina tersentak kaget. Mereka berdua tak menyangka kalau perempuan itu masih ada di tempat itu.
"Tapi kami gak akan pulang ke rumah. Kami masih akan bekerja," ucap Yudha menolak. Desy langsung menghampiri Yudha dan mengambil semua barang belanjaan yang ada di tangan pria itu dengan paksa.
"Presiden direktur kok dijadikan pelayan sekretarisnya sendiri. Gak bener banget nih," ucap Desy seraya melempar barang belanjaan itu kepada Selfina. Hingga berjatuhan sampai ke jalanan.
"Maaf Bu," ucap gadis itu tak nyaman. Ia pun berjongkok dan mengambil barang-barang itu.
"Desy!" teriak Yudha karena kesal. Ia langsung membantu mengambil kembali barang-barang milik Selfina itu dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Hey! Jangan sampai saya jadi tidak lagi menghargai mu sebagai istri dari papaku ya!" geram Yudha dan langsung menarik tangan gadis itu ke dalam mobil.
"Yudha! Mama mau ikut!" teriak Desy kesal tapi Yudha tidak memperdulikannya. Ia langsung melajukan mobilnya ke luar dari lokasi pusat perbelanjaan itu.
Desy sangat kesal sampai berteriak seperti orang gila.
Sementara itu, Selfina dan Yudha sama-sama tidak berbicara di dalam mobil. Mereka sedang berada dalam pikiran masing-masing. Rupanya perasaan mereka sama-sama sangat tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi.
"Makasih pak," ucap Selfina saat mereka sudah sampai kembali di Perusahaan.
"Maafkan perempuan itu ya Fin," ucap Yudha dengan tatapan sendunya. Sungguh, ia merasa sangat malu pada Selfina atas tingkah sang mama tiri.
"Gak apa-apa pak. Aku masuk duluan ya. Kita udah telat banget nih," ucap gadis itu dan langsung turun dari mobil. Yudha hanya mengangguk.
__ADS_1
Selfina melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam gedung berlantai puluhan itu. Ia seharusnya menolak saja keinginan pria itu untuk membelikannya barang-barang mahal.
Komputer ia buka dan segera bekerja kembali. Setidaknya ia bisa melupakan kejadian yang sangat tidak menyenangkan yang barusan terjadi jika ia menyibukkan dirinya untuk bekerja.
Akan tetapi ia baru sadar kalau ia belum melaksanakan sholat dhuhur.
"Oh ya Allah. Pantas saja perasaan hatiku selalu kesal saja, ternyata aku belum sholat," ucapnya kemudian meninggalkan meja kerjanya. Ia lantas menuju mushola untuk melaksanakan kewajibannya itu.
Setelah sholat, ia hanya duduk saja di dalam tempat itu dan merenungi nasib perasaannya.
Huffft
Rasanya ia memang harus mengubur dalam-dalam perasaan nya pada pria itu. Perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.
Perasaan Yudha tidak jelas padanya. Dan begitupun dengan keluarga pria itu. Jadi sekarang kenapa hatinya jadi gampang sekali untuk Ge Er?
Ia pun segera bangun dan bersiap untuk ke mejanya lagi untuk bekerja.
Kata-kata motivasi dari sama mama terngiang-ngiang kembali di kepalanya supaya ia kembali bersemangat untuk bekerja.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
Ada yang belum mampir gak di karya othor yang lain?
Mampir dong 🤭
Klik profil othor ketceh ini dan kamu akan lihat banyak lainnya di aplikasi ini.
__ADS_1
Okeh, semangat!!!