Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 152 Salah Faham


__ADS_3

"Kak Yundha ayo dong. Katanya mau ngajak kita nonton dan belanja banyak mainan kok mau batal lagi sih?" rajuk Denia sang adik. Yundha menghela nafasnya. Saat ini ia benar-benar sangat capek dan ingin istirahat.


"Iya kak. Mall nya 'kan dekat banget tuh dari sini. Jadi mumpung kita lagi ada di sini ayok lah kak," timpal Dony menambahkan.


Anak berusia 16 tahun itu ikut-ikutan menarik tangan Yundha seperti anak kecil. Yundha memutar bola matanya malas. Bukannya ia tak mau mentraktir tapi kira-kira dong, seharian dengan penuh banyak rintangan dan cobaan, tubuhnya terasa sangat berat dan ia juga ingin tidur.


"Baiklah, aku ke toilet dulu. Aku belum sholat ashar soalnya," ucap gadis itu seraya melepaskan tangan Dony dan segera melangkahkan kakinya ke Toilet. Untuk hari ini ia akan memenuhi keinginan mereka meskipun ia mungkin akan tidur saja di bioskop.


Anak-anak itu pun kembali ke tempat duduknya masing-masing dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.


Wah segarnya ucapnya dalam hati saat ia membasuh wajahnya dengan air dingin.


"Eh, kok jadi pengen pipis sih," ucapnya lagi saat sedang dalam keadaan berwudhu'. Ia pun akhirnya membatalkan wudhu'nya dan memilih untuk mengosongkan kandung kemihnya terlebih dahulu.


"Oh ya ampun, tespeck itu," Tiba-tiba saja ia teringat akan alat yang sudah ia beli beberapa saat yang lalu.


"Apa aku tes sekarang saja?" ucapnya menimbang-nimbang.


Cukup lama ia berpikir sampai akhirnya ia pun mengeluarkan benda-benda itu dari dalam tasnya.


"Aku coba aja, daripada penasaran, iyyakan?" ucapnya pada diri sendiri.


"Apa aku harus pakai semuanya?" tanyanya lagi saat memandang beberapa alat ditangannya yang punya tujuan yang sama.


"Ah satu aja. Mubazir nanti kalau dipakai semuanya. Yang lain kan bisa disumbangkan pada teman-teman di kampus yang sudah nikah kali aja mereka butuh, hehehe," kekehnya merasa lucu sendiri.


Ia pun membuka salah satu alat tespeck dari dalam kemasannya. Setelah itu mulai membaca petunjuk dari alat itu dan mulai menggunakannya. Dadanya berdebar menunggu. Satu strip merah terbaca dengan sangat jelas sedangkan yang satu lagi masih sangat kabur.


"Yeay! Gak ada strip dua!" teriaknya dengan suara tercekat bahagia.


"UPS! Jangan ribut!" lanjutnya seraya menutup mulutnya takut kedengaran.


"Aku masih perawan. Kak Aril, aku akan menerima lamaranmu!"


Ia pun menyimpan alat itu dengan wajah cerah penuh syukur dan segera keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Dalam hati ia sangat bersyukur karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi.


"Aku harus sujud syukur dan melakukan nazarku untuk berpuasa esok hari dan juga bersedekah. Ya Allah, terimakasih banyak, aku ternyata tidak diapa-apakan oleh pria impoten itu."


Gadis itu segera menuju ke sebuah ruangan yang diperuntukkan sebagai ruangan sholat. Ia melaksanakan sholat ashar dengan sujud terakhir yang sangat lama. Ia bersyukur karena Tuhan mengabulkan doa dan harapannya.


Setelah sholat ia segera menuju ruang keluarga dimana semua anggota keluarga sibuk bercanda ria.


"Ayok kita berangkat!" ucapnya pada empat orang saudaranya yang lahir dari kandungan mama Hanum. Wajahnya bercahaya karena sangat gembira. Rasanya dadanya sangat lapang sekarang. Tubuhnya juga terasa sangat ringan karena terlalu bahagia.


Rasa capek dan lelahnya hilang seakan menguap ke udara.


"Yeay!" sahut semuanya dengan wajah gembira. Hanum dan Merry saling bertatapan. Hari ini adalah hari pertama Yundha nampak begitu ceria dan bahagia setelah hampir sebulan seperti tak mempunyai ruh.


"Apa kami juga bisa ikut ditraktir?" tanya Yudha yang baru saja keluar dari kamar bersama dengan Selfina. Mereka berdua tampak sangat segar dan bahagia. Maklumlah mereka baru saja beribadah dan juga mandi besar.


"Iya nih. Mama juga mau ikut shopping," ucap Hanum dan diiyakan oleh Merry.


"Wah, kebetulan manager Cafe gak pernah Ambil gajinya nih ma, jadi pastinya sudah menggunung dong, aku juga mau ditraktir nih. Soalnya tempat penitipan gaji di Cafe udah gak muat hehehe," sahut Yudhi terkekeh.


"Yeay asyik." Semuanya ikut bahagia tak terkecuali Yudha dan juga Selfina.


"Tapi makan kue buatan aku dulu dong, setelah habis barulah kita bisa jalan," ucap Yudhi seraya memperlihatkan kue buatannya yang ia simpan di atas meja.


"Horee!" Semuanya pun ramai-ramai menyerbu kue yang sangat enak itu sembari bercanda ria. Semuanya merasa sangat bahagia.


"Cheers untuk calon mama muda, mbak Selfina!" teriak Yundha dengan penuh semangat.


"Selamat ya kak. Kamu akan menjadi ayah," ucap Yudhi seraya memberikan pelukan pada sang kakak. Yudha bahagia dan membalas pelukan sang adik.


"Terimakasih banyak Di. Aku bangga padamu."


"Sama-sama kak. Aku juga meminta maaf karena selama ini sempat kesal padamu." Yudhi melepaskan pelukan sang kakak kemudian beralih mengucapkan selamat pada sang kakak ipar.


"Mbak Sel, selamat ya," ucapnya seraya melangkahkan kakinya menghampiri perempuan cantik itu tapi kerah bajunya langsung ditarik oleh Yudha dari belakang.

__ADS_1


"Harus ada batas dan tidak boleh ada kontak fisik meskipun kakak ipar sendiri!" ucap pria itu dengan tatapan tajam.


"Apaan sih. Aku 'kan cuma ingin memberikan selamat saja jadi boleh dong nyentuh dikit." Yudhi bertahan ingin maju meskipun lehernya sudah tercekik.


"Gak boleh!" geram Yudha tak rela.


"Oke-oke. Aku cuma mau bilang selamat ya mbak Sel, keluarga Maher Abdullah akan bertambah," ucap Yudhi dengan leher tercekik. Suaranya pun jadi sangat cempreng dibuatnya.


"Hahaha!" Semuanya langsung tertawa. Ruangan itu jadi ramai. Nampak sekali kalau mereka sangat bahagia sekarang.


"Yuk berangkat! Magribnya nanti sholat dekat Mall aja. Ayok cepetan!" Yundha dengan ceria langsung berlari ke arah pintu yang diikuti oleh saudaranya yang lain. Sedangkan Merry dan Hanum ikut di mobil Yudhi.


Yundha dan Selfina yang paling terakhir keluar karena mereka adalah pemilik apartemen. Mereka harus memastikan semua alat listrik, air atau apa saja sudah mati dan aman untuk ditinggalkan.


Selfina langsung merasa kaget luar biasa karena melihat sebuah tespeck di dalam salah satu toilet di dalam unit miliknya.


"Hey, ini punya siapa?" tanyanya dengan wajah penasaran. Ia memandang tajam benda itu yang menunjukkan tanda positif meskipun tandanya masih satu strip merah yang sangat jelas tapi yang satu sudah berwarna pink atau merah tak jelas.


"Ada apa sayang? Kok lama di dalam?" tanya Yudha yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya di dalam toilet.


Selfina langsung melemparkan alat itu ke dalam tempat sampah dengan dada berdebar. Ia sibuk menebak-nebak siapa sebenarnya pemilik tespeck itu.


"Sayang?"


"Ah gak kok. Ayo kita berangkat. Semuanya sudah aman 'kan mas?"


"Iya," ucap Yudha seraya mengecup bibir istrinya dan berakhir menuntut.


"Mas, udah dong. 'Kan tadi udah," tolak Selfina saat suaminya itu ingin memperdalam ciumannya. Sesungguhnya, ia sedang sangat galau jadi tidak ada mood untuk membalas keinginan suaminya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2