
"Assalamualaikum bapak ibu dewan direksi. Maaf saya datang agak telat," sapa Yudha pada tamu-tamu penting yang sedang duduk menunggu dirinya.
"Waalaikumussalam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu bersamaan. Mereka langsung berdiri menyambut kedatangan presiden direktur itu dengan senyum di wajah mereka.
"Silahkan duduk bapak ibu," ucap Yudha mempersilahkan semua tamunya untuk duduk kembali. Ia pun ikut duduk di kursinya.
"Maaf nih pak Yudha, kami datang pagi-pagi tanpa membuat janji terlebih dahulu," ucap pria yang bernama Anton Paris, pria paruh baya berusia sama dengan Maher Abdullah, sang papa.
"Ah itu bukan masalah yang besar. Kalau boleh tahu ada apa ya? Sepertinya ada hal penting yang ingin ibu dan bapak sampaikan."
"Langsung saja ya pak Yudha. Kami ini datang untuk meminta konfirmasinya tentang acara perpisahan yang perusahaan adakan di sebuah resort tadi malam," ucap Farah Zubir.
"Oh yang itu? Konfirmasi yang seperti apa ya yang ingin ibu dan bapak dewan direksi inginkan?" tanya Yudha dengan santai. Ia tak pernah menduga kalau acara yang ia lakukan mengandung kontroversi pada beberapa orang.
"Tentang dana yang pak Yudha gunakan pada acara perpisahan salah satu karyawan di perusahaan ini. Kami pikir itu sangatlah besar. Bayangkan ratusan karyawan yang anda undang di tempat yang sangat mahal seperti itu. Itu bisa membuat perusahaan defisit pak," ucap Budi Sarman dengan panjang lebar.
Dewan direksi yang lain membenarkan. Mereka semua mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya pak Yudha, itu betul sekali. Mohon maaf karena hal ini seharusnya tidak kami lakukan saat ini. Biasanya pada laporan pertanggungjawaban akhir tahun perusahaan kami mengkritisi ini. Tapi karena kami peduli akan kemajuan perusahaan, ya kami kritisi sekarang sebelum pak Yudha memakai dana yang lebih besar lainnya tanpa mempertimbangkan kebergunaannya," lanjut Anton Paris melengkapi semua unek-unek rekannya sesama anggota dewan direksi.
Yudha tersenyum. Ia pun menarik nafas kemudian bersiap untuk menjelaskan apa yang telah dilakukannya tapi pintu ruangannya tiba-tiba diketuk dari luar. Semua orang termasuk dirinya sama-sama melihat ke arah pintu.
__ADS_1
Seorang OB sedang berdiri disana sedang membawa satu nampan minuman diantar oleh Selfina, sekretarisnya.
"Maaf pak kami menggangu," ucap Selfina seraya meminta OB itu untuk meletakan minuman dan cemilan di depan meja para tamu.
"Makasih mbak Fina minumannya, kebetulan sekali, saya lagi haus banget nih," ucap Budi Sarman tanpa melepaskan tatapannya pada Selfina yang sedang membantu sang OB. Nampak sekali kalau pria itu sangat tertarik pada Selfina.
"Sama-sama pak. Silahkan dinikmati," balas gadis itu dengan senyumnya yang menawan.
"Pastilah mbak. Minumannya langsung menyegarkan tenggorokan. Apalagi ditambah senyum mbak Selfina wuih tambah nikmat, hehehe," kekeh pria itu seraya meneguk minuman dingin yang baru saja diletakkan di depan mejanya.
"Ah pak Budi bisa saja. Silahkan Bu Farah, Pak Anton. Saya kembali ke meja saya ya, permisi." Selfina tersenyum lagi kemudian bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Akan tetapi Budi Sarman tak merelakannya untuk keluar.
"Gak usah kemana-mana lho mbak Fin. Disini saja. Itung-itung menambah kesegaran ruangan Presiden direktur. Iyyakan Pak Yudha?"
"Selfina punya banyak pekerjaan di luar pak Budi, maaf ya pak. Urusan utama bapak dan ibu direksi tidak ada hubungannya dengan sekretaris saya."
Budi tampak kecewa. Sedangkan Selfina sangat paham dengan perkataan persiden direktur arogan itu. Apalagi tatapan mata pria itu seakan menghujam jantungnya.
"Permisi bapak ibu, saya ada pekerjaan penting saat ini."
Selfina langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dengan cepat. Ia merasa bahwa tatapan tajam Yudha padanya seolah ingin menelannya bulat-bulat.
__ADS_1
Yudha menghela nafas lega kemudian berdehem agar perhatian semua tamunya bisa terpusat padanya.
"Baiklah bapak ibu, saya akan menjawab kerisauan kalian. Acara besar yang saya adakan untuk perpisahan dengan Ibu Ardina adalah murni dana pribadi saya. Tak ada sangkutan dengan dana perusahaan satu rupiah pun!" tegas Yudha Abdullah dengan santai.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terlongo tak percaya.
"Be-benarkah?" tanya Anton Paris tergagap.
"Yah, itu benar sekali. Bu Ardina pantas mendapatkannya. Ia banyak berjasa bagi saya secara pribadi," ucap Yudha tersenyum.
Ya, ia sangat berjasa karena membawa SELFINA datang padaku.
Begitulah kira-kira kata hatinya🤭.
"Tapi bukankah karena perempuan itu sehingga pak Maher di dalam penjara saat ini?" tanya Farah Zubir dengan mata julidnya.
Yudha tak perlu lagi menjawabnya. Ia punya hak untuk diam dan menyimpan apa yang perlu ia simpan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊