
Selfina mondar mandir di dalam kamarnya seraya menggenggam roti isi daging di tangan kanannya dan segelas susu di tangan kirinya. Ia nampak sangat ragu untuk menikmati kedua benda itu karena alasan yang sangat dramatis.
Yudha yang melihatnya jadi bingung sendiri dengan apa yang dilakukan oleh perempuan cantik itu. Pria itu lantas mematikan layar laptopnya kemudian mengajak perempuan itu bicara.
"Duduk sini deh sayang. Ada apa sih?" tanya Yudha seraya menepuk tempat duduk yang kosong di sampingnya. Ia yakin kalau sang istri pasti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat hingga jadi tidak tenang seperti itu.
"Aku lapar mas tapi takut kenyang," jawab Selfina dengan tatapan bernafsu pada makanan dan minuman yang ada di tangannya.
"Lho, gimana sih? Makan saja sayang. Kasihan dedeknya nanti juga lapar lho," balas Yudha tersenyum. Selfina hanya memanyunkan bibirnya hingga pria itu jadi semakin gemas saja dibuatnya.
"Kamu juga belum makan malam lho sayang," ucapnya lagi membujuk.
"Aku takut mas, lihat nih perut aku udah besar banget," jawab Selfina seraya memperlihatkan perutnya yang memang sangat besar. Apalagi pakaiannya hanya selembar lingerie seksi yang sangat tipis.
Yudha kembali tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka melihat tubuh istrinya yang sangat berisi seperti itu.
Terlalu seksi dan tidak membosankan.
"Aku takut dedeknya gak bisa berputar ke bawah kalau aku terlalu banyak makan mas," ucap perempuan itu dengan wajah merajuk.
"Lho maksudnya gimana sih? Aku gak ngerti deh. Bukannya bagus kalau bayinya juga besar?"
"Iya mas. Emang bagus. Tapi Bayi tuh gak boleh terlalu besar kalau masih di dalam kandungan apalagi kalau lagi sungsang seperti ini, nanti susah kembali ke tempatnya lagi. Dan melahirkan juga susah."
"Sungsang? Maksudnya bayi kita melintang di dalam sayang?" Yudha tampak sangat kaget. Ia pun meraih tubuh Selfina dan membawanya duduk di bibir ranjang.
"Iya mas. Aku tadi habis USG. Dan hasilnya bayi kita kepalanya masih di atas sini sedangkan ia sudah seharusnya mencari jalan lahir dan berada di bawah sini. Aku takut mas," ucap Selfina dengan wajah khawatir ia pun menunjuk bagian atas dan bawah perutnya.
Yudha langsung berlutut di hadapan Selfina kemudian menyibak pakaian perempuan cantik itu. Sebuah perut besar dengan sangat indah terpampang dihadapannya.
"Apa kata dokter sayang?" tanyanya seraya mengelus lembut permukaan kulit perut istrinya yang sedang sangat kencang itu.
"Bayinya sungsang dan itu sangat berbahaya bagi kami berdua mas."
__ADS_1
"Kata dokter juga, posisi tidur aku gak boleh telentang mas, aku juga harus tidur dengan cara miring ke kiri atau ke kanan," jawab perempuan cantik itu dengan perasaan was-was.
"Apakah dedek bayinya masih ada kesempatan untuk kembali ke tempat yang normal sayang?" tanya Yudha lagi seraya menghujani perut buncit itu dengan kecupan-kecupan lembut.
"Iya mas, selama belum sampai pada hari perkiraan melahirkan sih, ughhhh aaah," jawab Selfina seraya mendesis geli karena pria yang sangat dicintainya itu menghujaninya dengan kecupan-kecupan basah.
"Mass, uggh..."
Yudha tak berhenti dengan aksinya. Sedangkan Selfina langsung merasa relaks meskipun terasa sangat geli. Pria itu malah membisikkan kata-kata manis pada sang bayi di dalam perut istrinya agar mau merubah posisinya.
"Sayang, kamu cinta sama bunda 'kan? Tolonglah untuk tidak menyusahkannya ya?" bisiknya membujuk. Ia yakin bayinya di dalam sana bisa merespon dengan sangat baik.
"Jadi anak yang baik ya sayang. Kami sangat mencintaimu dan sudah lama ingin bertemu denganmu dalam keadaan sehat," lanjut Yudha kemudian mengecup kulit perut itu lagi seolah-olah sedang berhadapan dengan sang bayi tercinta.
Cup
Cup
Cup
"Insyaallah bayinya akan kembali ke tempatnya sayang. Mulai sekarang aku dan kamu harus selalu mengajaknya mengobrol seperti ini dan juga memperdengarkan ayat-ayat suci Alquran," ucap Yudha kemudian menutup kembali perut istrinya dengan pakaian yang ia buka tadi.
"Iya mas. Aamiin," ucap Selfina dengan wajah haru dan bahagia. Hatinya kini kembali tenang. Suaminya peduli padanya merupakan dukungan moril tersendiri yang sangat ia harapkan.
"Sekarang kamu makan. Kamu gak bisa bobok nanti kalau lapar," ucap Yudha kemudian menyuapkan potongan-potongan roti isi daging itu ke dalam mulut istrinya.
"Tapi aku takut kekenyangan dan membuat bayinya sempit dan gak bisa berputar ke bawah mas."
"Ssst!" Yudha membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya agar ia tidak lagi berpikir tidak-tidak tentang kehamilannya ini.
"Tempat makanan dan tempat bayi itu berbeda sayang. Mereka mempunyai tempat masing-masing dan tidak saling mengganggu. Jadi kamu harus makan dan minum susunya sekarang," ucap Yudha tak ingin dibantah.
Ia tidak suka kalau istrinya itu menyiksa dirinya sendiri dengan tidak mau makan padahal justru hal itu yang akan membuatnya lemas dan tak bertenaga.
__ADS_1
Selfina pun tak ingin menolak lagi. Ia pun menghabiskan rotinya berikut segelas susu yang ada di tangannya.
"Gimana? Udah kenyang?" tanya Yudha setelah melihat istrinya itu telah menghabiskan semuanya.
"Udah mas, Alhamdulillah. Sekarang aku jadi bisa tidur dengan nyenyak hehehe," kekeh perempuan hamil itu dengan pipi merona merah.
"Eh belum bisa bobok lah. Kamu masih harus makan sesuatu," ucap Yudha kemudian mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Ih, mas. Kamu mau apa?" tanya Selfina curiga.
"Kamu harus makan aku dulu supaya bayinya bisa segera kembali ke tempatnya sayang," bisik Yudha dengan suara beratnya. Tanpa aba-aba bibirnya pun langsung ******* bibir istrinya yang masih nampak bekas-bekas susu coklat madu favoritnya.
Selfina tak punya alasan untuk menolak. Dengan alasan membujuk sang bayi untuk mencari jalan lahirnya sendiri. Yudha menggoyang Selfina dengan gaya favorit mereka.
Perempuan itu kembali ke atas awan dengan rayuan- rayuan maut sang suami tercinta.
Yudha benar-benar berusaha mengatur posisi sang istri agar bisa selalu nyaman saat ia kunjungi. Ia berharap bisa membuat Selfina tidak stress dengan permasalahan kandungannya yang sungsang.
"Mass aaakh," dessah Selfina saat pria itu mempercepat ritmenya.
"Kamu suka Sel?" bisik Yudha seraya memfungsikan tangannya untuk membuat tubuh sang istri tidak tegang. Selfina hanya mengangguk dengan tubuh bergetar. Suaminya selalu tahu dimana titik-titik kelemahannya.
Yudha tersenyum. Ia pun mulai menyerang lagi dengan semakin kuat dan cepat hingga perempuan itu berteriak tertahan.
"Mass, uggghh!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1