
Revalda turun dari kursinya kemudian mendatangi Dewa dan berbisik. Pria itu pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Ia mengarahkan pandangannya pada semua orang di meja makan itu.
"Aku tahu aku salah. Aku akui aku belum mampu membuat Yundha selalu bahagia tapi sekali lagi aku minta maaf pada kalian. Yundha adalah istriku dan tanggung jawabku sampai maut memisahkan kami. Aku akan menemuinya meskipun ia marah padaku."
"Aku permisi dan aku izin membawa Revalda untuk ikut denganku," ucap pria itu dan menarik tangan sang ponakan untuk ikut bersamanya menjadi penunjuk jalan.
"Tapi Revalda harus ke sekolah mas," ucap Selfina tak rela. Ia langsung berdiri dari duduknya dan bersiap untuk mengambil kembali anak itu.
"Gak apa-apa sayang. Bolos sehari tak apalah yang penting dunia aman," sahut Yudhi santai. Selfina langsung mengernyit bingung. Suaminya benar-benar tak punya pendirian. Beberapa saat yang lalu ia mendukung Yundha untuk tidak bertemu dengan Dewa sekarang malah mendukung Dewa.
"Bawa saja Revalda Wa. Aku dan mamanya juga ada cara khusus pagi ini mumpung Fariz masih bobok."
Dewa tersenyum lantas berucap, " Makasih mas. Aku bawa Revalda ya," ucap pria itu dengan wajah yang sangat bersemangat.
"Assalamualaikum ma." lanjut pria itu dan menyalami Merry yang hanya bisa tersenyum simpul. Perempuan itu sebenarnya tak setuju dengan keinginan Yundha tapi apa boleh buat, anaknya itu memang sedikit keras kepala jadi ia terpaksa menuruti kemauannya untuk bersembunyi dari suaminya.
"Kita mampir di rumah dulu ya sayang. Kita jemput Zacky. Dia pasti pengen ketemu mamanya."
"Okey Om siap!" Revalda menjawab sembari mengangkat kedua jempolnya di depan wajahnya yang cantik.
🌹
"Nda, makan dulu gih," ucap Ardina seraya mengarahkan nampan berisi mangkuk bubur ayam pada Yundha. Perempuan itu sejak tadi hanya diam dengan wajah yang sembab karena menangis sepanjang waktu.
"Gak lapar mbak Ar." Yundha menjawab dengan tatapan kosong.
"Eh, jangan kayak gitu dong. Ibu hamil harus jaga kesehatan. Kasihan dedek bayinya nanti kelaparan. Ayo dong makan." Perempuan cantik berhijab itu masih terus membujuk karena kasihan.
"Apa mas Praja pernah seperti ini mbak?" tanya perempuan itu seraya menyusut airmatanya yang terasa tak ingin kering.
"Ummm, pernah sih. Aku bahkan pernah berpisah dengannya selama hampir empat tahun Nda."
Yundha tercekat kaget. Ia pun menatap perempuan dihadapannya itu dengan tatapan intens.
"Iya. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku yang sangat menginginkannya sedangkan dia tidak samasekali. Lucu ya, tapi begitulah cinta. Kita tak pernah bisa mengatur kemana hati akan berlabuh," jelas Ardina dengan pikiran melayang ke masa sekitar sepuluh tahun yang lalu.
"Masa-masa seperti kalian sekarang ini adalah masa yang masih sangat rawan. Kepercayaan dan kesetiaan harus terus dijaga dan dipupuk," lanjutnya tersenyum.
"Kalau aku cerita bahwa aku pernah cemburu pada mamanya Revalda kamu percaya gak?" tanya Ardina tersenyum.
"Hah? Emangnya mbak Selfina pernah dekat dengan mas Praja?" tanya Yundha dengan alis terangkat.
__ADS_1
"Iya."
"Trus?"
"Tapi hanya salah paham saja." Ardina menjawab dengan mengulas senyum diwajahnya.
"Salah paham kayak gimana mbak?"
"Mereka pernah dekat karena pernah bekerja bersama. Dan aku cemburu mati padanya sampai marah dan tak mau lagi bertemu dengan papanya David. Hehehe, lucu ya kalau diingat." Ardina terkekeh lucu. Rasanya cemburunya waktu itu sangat kekanakan sekali.
"Gitulah cinta dan cemburu buta dipelihara hahaha," lanjut Ardina tertawa semakin renyah. Yundha ikut tertawa garing. Ia jadi merasa tersinggung dengan kata-kata perempuan itu.
"Dan apakah kamu tahu juga kalau mas Praja sangat cemburu sama almarhum papa kamu?"
"Kalau itu sih aku tahu mbak. Papa memang suka banget lihat cewek cantik padahal istrinya sudah tiga hahaha." Yundha akhirnya tertawa terbahak-bahak. Kesedihannya kini perlahan menguap.
"Jadi, kadang semua yang kita lihat tidak sama dengan kenyataannya. Komunikasi itu penting sayang," ucap Ardina masih dengan senyum diwajahnya. Ia sudah lega karena Yundha sudah mulai bisa tertawa.
"Ingat lho, kamu itu sedang hamil. Pikiran harus baik dan sehat. Untungnya aku melihat kamu semalam saat kamu ingin menyakiti dirimu sendiri."
Yundha langsung menundukkan kepalanya malu dengan apa yang sempat terpikir ia lakukan karena marah pada suaminya. Untungnya Ardina dan suaminya melihatnya di jalan dan menolongnya.
"Iya mbak. Makasih banyak. Aku gak ada niat sih menggugurkan kandungan aku. Aku sayang pada janinku mbak meskipun aku sangat kesal pada mas Dewa."
"Ekhem! Memuji suami orang lain itu tak baik sayang. Padahal suami sendiri juga tak kalah sempurnanya," sahut Praja Wijaya tiba-tiba.
"UPS!" Ardina langsung menutup mulutnya. Ia lupa kalau suaminya juga ada di rumah itu.
"Maafkan aku mas. Aku 'kan cuma kasih motivasi untuk Yundha." Ardina langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya. Ia tahu kalau suaminya itu juga suka cemburu pada pria tampan lainnya di muka bumi ini.
"Ayo kita berangkat. Acara David bentar lagi mulai lho," ucap Praja tersenyum dan balas mencium pipi istrinya itu di depan Yundha.
"Ah iya mas. Aku ambil tas dulu," balas Ardina dan segera berlari ke kamarnya.
"Nah, suami tampan dan baik hati seperti aku dan Dewa jangan pernah dikasih kesempatan dilirik sama perempuan lain. Bahaya!" ucap Praja narsis.
Yundha hanya tersenyum meringis. Ia memang tak ingin menyerahkan Dewa pada siapapun hanya saja ia masih sangat kesal pada pria itu dan tidak ingat bertemu untuk sementara waktu.
"Lanjutkan makannya ya Nda. Kami akan antar David ke JCC untuk lomba pidato anak. Doakan menang ya!" ucap Ardina dengan semangat membara diwajahnya.
"Iya mbak. Amin. Semoga David juara dan membanggakan kedua orangtuanya."
__ADS_1
"Makasih," ucap Ardina dan segera meninggalkan Yundha di ruang makan itu sendirian.
Yundha menghela nafasnya. Ia cemburu melihat kebahagiaan pasangan senior itu. Ia pun melanjutkan makannya yang kembali terasa hambar.
Ia merindukan Zacky yang tak pernah ia tinggalkan sendiri selama ini.
"Zack mama rindu sayang," gumamnya dengan wajah yang berubah sedih. Ia pun segera berdiri dari duduknya dan ingin mengambil handphone-nya untuk menelpon putra pertamanya itu.
"Mama!"
Yundha tersentak kaget. Ia seperti mendengar suara anak itu di dalam rumah itu.
"Mama!"
Sekali lagi ia mendengar teriakan Zacky. Perempuan itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari sumber suara.
"Mama!"
Zacky langsung lari ke arahnya dan menubruknya.
"Mama Zacky kangen," ucap anak itu manja. Yundha tak sadar menangis dan meminta maaf.
"Mama jangan nangis."
"Mama juga rindu sama Zacky. Maafkan mama ya," ucap perempuan cantik itu seraya memeluk putranya.
"Kamu datang sama siapa sayang?" tanyanya setelah mereka puas berpelukan.
"Sama saya Tante," ucap Revalda tersenyum lebar.
"Ya ampun Valda. Maaf, aku gak lihat kamu sayang. Sini deh peluk Tante." Revalda pun ikut masuk ke dalam pelukan perempuan itu.
"Tante, om Dewa ada di luar. Apa om boleh nemuin dan peluk tante juga?" tanya anak perempuan itu dengan wajah lugunya.
Deg
Yundha merasakan dadanya berdebar. Ia tak bisa menjawab.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan komentar dong agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.