
Merry dan Yudhi tercekat kaget. Wajah mereka berdua melongo. Sendy yang baru muncul di depan pintu kamar juga merasakan tubuhnya menegang. Ketiga orang itu seakan mendengar suara petir di siang bolong.
"Ini bukan lelucon 'kan kak?" tanya Yudhi dengan wajah memucat. Suaranya sampai gemetar saking kagetnya dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Yudha.
"Apa menurutmu aku akan membuat lelucon seperti itu Di?" Yudha balik bertanya dengan wajah santai. Saat ini ia harus memberikan kenyataan pada sang adik agar bisa sadar diri.
"Tidak! Aku tidak percaya dan tidak akan pernah setuju!" teriak Yudhi dengan sangat marah. Gelas yang sedang ia pegang langsung ia lemparkan ke arah dinding dan akhirnya membuat suara pecahan kaca yang sangat nyaring.
"Mbak Selfina itu milikku!" teriaknya lagi dengan wajah yang sangat menakutkan. Ia menatap Yudha dengan tatapan membunuh.
Merry terhenyak. Ia kaget dan juga sangat khawatir. Yudha pun sama, ia tak pernah menyangka kalau apa yang ia katakan ternyata mendapat reaksi yang sangat buruk dari Yudhi.
Merry yang masih sangat lemah itu berusaha untuk bangun dan mengamankan situasi. Yudhi sejak kecil suka tantrum dan sedikit terganggu psikologisnya.
Perempuan itu pikir putra keduanya sudah sembuh seratus persen tapi ternyata tidak. Penyakitnya ternyata bisa muncul ketika ia merasa terancam.
"Di, kemarilah sayang. Duduk bersama mama disini," ucap Merry seraya seraya meraih tangan Yudhi untuk duduk di sampingnya.
"Kakakmu hanya bercanda sayang. Iyyakan Yud?" ucap perempuan itu sembari memberikan kode pada putra pertamanya itu agar mau mengerti keadaan sang adik.
Yudha tersenyum kemudian mengangguk. Ia juga baru menyadari kalau Yudhi tak bisa mendapatkan tekanan yang buruk dan bertubi-tubi di dalam otaknya. Kepergian sang papa dan kenyataan pahit ini mungkin belum bisa dia terima dengan sangat baik.
"Iya, aku cuma bercanda Di. Tak perlu kamu pikirkan tentang apa yang aku katakan," ucap Yudha.
"Benarkah?" tanya Yudhi dengan wajah yang berubah sangat polos. Emosinya tiba-tiba saja menghilang.
"Iya."
"Kamu tidak berbohong kan kak?" tanya Yudhi lagi. Yudha tak menjawab. Ia hanya menghela nafasnya berat.
"Di, kakakmu sudah mengatakannya sayang. Sekarang kamu istirahatlah. Kamu mungkin sangat lelah dengan semua yang telah terjadi," timpal Merry dengan cepat. Ia tahu kalau Yudha sedang tak ingin menjawab pertanyaan sang adik.
"Ah iya ma. Aku ingin tidur tapi aku ingin menemui mbak Selfina dulu. Aku takut ia tidak punya teman mengobrol karena kita semua ada di sini," ucap Yudhi dan langsung berdiri dari duduknya.
Yudha kesal tapi tak bisa berbuat banyak. Untuk malam ini ia akan diam saja sambil mencari cara agar Yudhi bisa memahami keadaan dengan baik.
"Kamu harus tidur cepat ma," ucap Yudhi seraya mencium pipi sang mama.
__ADS_1
"Iya sayang. Kamu juga." Merry membalas dengan senyum diwajahnya.
"Kak Yudha temani mama ya," ucap pria itu dengan senyum aneh diwajahnya. Yudha hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Merry hanya bisa memandang sang putra keluar dari kamarnya dengan helaan nafas berat.
"Jelaskan pada mama yang sebenarnya Yud," ucap Merry dengan tatapan serius pada sang putra.
"Aku sudah mengatakannya ma."
"Jelaskan pada mama!"
"Yang mana ma?"
"Tentu saja tentang candaan mas Yudha tadi," sahut Sendy dari arah pintu kamar.
"Aku juga gak yakin sih kalau mas Yudha itu beneran sudah menikahi sekretaris itu. Iyyakan tante?" lanjut gadis itu seraya mendudukkan tubuhnya di samping Merry.
Yudha tersenyum kemudian menjawab.
"Kalau semua orang merasa itu hanya candaan. Ya bolehlah. Aku memang sedang sangat ingin bercanda saat ini," jawab Yudha sarkas. Ia menghela nafasnya kemudian meraup wajahnya kasar. Saat ini ia sangat lelah dan tidak ingin berdebat atau apapun itu.
"Yudha," panggil sang mama dengan wajah serius. Ia sangat ingin mendengar penjelasan dari sang putra tentang perkataannya tadi.
"Ah iya nak. Terimakasih sudah mengingatkan mama. Sekarang kamu kembali saja ke kamarmu. Kamu pasti perlu istirahat juga," ucap Merry.
"Makasih banyak ma," ucap pria itu kemudian berdiri dari duduknya.
"Aku ikut mas. Aku juga ingin istirahat." Sendy ikut berdiri kemudian segera mengikuti langkah Yudha.
Mereka berjalan keluar dari kamar itu dan mendapati Selfina dan Yudhi sedang berada di ruang makan. Mereka berdua sedang menikmati pop mie dengan sangat nikmat.
"Mas, kita ikutan makan juga yuk. Baru sadar kalau kita ternyata belum makan seharian," ucap Sendy seraya menarik tangan Yudha ke arah meja makan.
Yudha menurut, ia memang baru merasakan lapar saat mencium aroma mie instan yang sedang disantap oleh istri dan adiknya. Dan juga tentu saja ia sangat cemburu melihat istrinya begitu akrab dengan sang adik.
"Mas Yudha, pengen mie instan juga ya?" tanya Sendy dengan suaranya yang cukup nyaring. Selfina dan Yudhi langsung mengangkat wajah mereka dan memandang dua orang yang baru bergabung di meja makan itu.
Selfina langsung berdiri dan meninggalkan kursinya untuk melayani suaminya tapi Yudhi langsung menarik tangannya.
__ADS_1
"Mbak Selfina duduk aja, gak baik meninggalkan makanan," ucap Yudhi melarang.
"Tapi pak Yudha juga ingin makan mas. Aku mau bikinin makanan dulu ya," ucap Selfina dengan wajah tak nyaman.
"Gak apa-apa mbak sekretaris. Saat ini bukan lagi waktunya bekerja. Jadi kamu bebas untuk tidak melayani mas Yudha. Saat ini akulah yang akan melayaninya. Iyyakan mas?" ucap Sendy dengan senyum manisnya.
Yudha hanya tersenyum kemudian mengangguk. Selfina langsung merasakan dadanya sesak. Ia kesal tapi berusaha untuk tenang. Ia pun duduk dan melanjutkan makannya.
"Nah, gitu dong mas Yudha. Harus bisa menempatkan orang pada posisi yang semestinya," ucap Sendy menyindir.
Selfina semakin kesal tapi ia berusaha menahan diri. Ia tak ingin ribut di rumah yang masih diselimuti oleh duka itu.
"Mie instan rasa apa nih maunya mas?" lanjut gadis itu dengan penuh perhatian.
"Rasa apa saja. Bikinkan cepat. Pakai telur dan juga cabe hijau!" titah Yudha tanpa mau melihat sang istri yang sedang menatapnya marah.
"Okey beres mas! Lima menit pasti sudah siap," ucap Sendy dengan wajah yang sangat gembira. Gadis itu langsung berlalu ke dapur untuk membuat pesanan Yudha.
"Mas Yudhi enak gak mie buatan aku?" tanya Selfina dengan suara agak nyaring. Sengaja untuk memancing sang suami.
"Iya dong. Mbak Selfina 'kan emang jago masak kayak mama."
"Hahaha, benarkah?"
"Iya. Dan aku sangat suka." Yudhi menjawab dengan tawanya yang sangat menyebalkan.
Yudha mendengus pelan berusaha untuk tenang. Tangannya mengepal kuat di samping kiri dan kanan tubuhnya.
Ia harus ingat untuk tidak marah dan cemburu meskipun itu sangat susah ia lakukan.
Awas kamu Selfina!
Kamu kayaknya perlu dihukum.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?