Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 171 Perutku Sakit


__ADS_3

"Kak Aril?" ucap Yundha dengan wajah kaget. Ia mendongakkan kepalanya ke atas melihat kearah pria tinggi yang sedang berdiri di hadapannya.


"Kamu disini juga kak?" tanya Yundha lagi dengan senyum diwajahnya.


"Ya, aku melihatmu duduk sendiri, jadi aku pikir, kamu mungkin butuh teman."


"Ah ya. Aku juga butuh minum, hehehe." Yundha menjawab seraya terkekeh.


"Bagaimana kalau kita ke Cafe depan aja. Aku haus banget. Udah lama sih jadi penonton mereka-mereka," lanjut perempuan itu seraya seraya menunjuk Dony, Daren dan juga Yudhi yang sedang sibuk bermain game.


"Baiklah. Aku juga haus dan butuh teman untuk minum. Gak enak banget lho jalan sendiri di tempat ramai seperti ini," ucap Aril seraya mengulurkan tangannya ingin menggandeng tangan Yundha. Perempuan cantik itu tersenyum kemudian menyambut tangan Aril.


Mereka pun berjalan ke arah Cafe untuk mengobrol dengan santai sekaligus makan dan minum.


"Mau minum apa Nda?" tanya Aril dengan seulas senyum diwajahnya.


"Es jeruk aja kak."


"Mau makan?"


"Gak usah kak. Aku kalo siang gak suka makan, hehehe." Kembali Yundha terkekeh lucu sampai membuat Aril semakin gemas saja.


"Kenapa?"


"Gak tahu nih. Bawaan orok kali, UPS." Yundha langsung menutup mulutnya karena tak sadar dengan apa yang diucapkannya. Alis Aril langsung terangkat penasaran.


"Orok? Kamu?" Aril menatap perempuan cantik itu dengan dada berdebar. Yundha yang ditatap seperti itu langsung tertunduk.


"Maafkan aku Nda. Kamu perempuan bersuami jadi itu tidak masalah sih," ucap Aril dengan perasaan yang sangat hancur. Ia sungguh tak menyangka akan mendapati kenyataan yang sangat mengejutkan seperti ini. Baru sehari pernikahan Yundha tapi ia sudah mengakui kalau ia hamil.


Aaaa jangan-jangan?


"Maafkan aku kak."


"Gak apa-apa. Aku mengerti kok. Dan semoga saja Pak Dewa bisa membahagiakan kamu."


Yundha pun mengulas senyum terpaksa. Ia sangat membenci pria itu yang telah merenggut kebahagiaan dan masa depannya. Jadi bagaimana mungkin ia bisa bahagia.


"Kamu baik-baik saja 'kan Nda?" tanya pria itu khawatir. Yundha mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat dan tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Untung saja pelayan Cafe itu datang membawakan minuman untuk mereka berdua hingga Yundha bisa mengalihkan perhatian Aril padanya.


Perempuan cantik itu pun segera menyeruput es jeruknya kemudian tersenyum.


"Aku baik kak. Aku bahkan sangat bahagia." Yundha menjawab dengan cepat sebelum pria itu mencurigai sesuatu. Ia langsung tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya yang rapih.


"Apakah kamu tidak bahagia menikah dengannya?"


Deg


Yundha merasakan dadanya sesak. Benar, ia tidak bahagia tapi ia sejenis perempuan yang tidak suka dikasihani. Ia tidak mau orang lain tahu penderitaannya kecuali dirinya dan keluarganya sendiri.


"Hahahaha. Apa aku tampak tidak bahagia kak?"


Aril tersenyum.


"Ini yang aku suka darimu. Kamu hebat dalam menyimpan masalahmu. Aku kok merasa kalau kamu sangat terpaksa menikah dengan suamimu itu ya?"


"Ah bisakah kita tidak membahas itu? Aku lagi ingin bersenang-senang sendiri. Jadi bagaimana kalau kita nonton." Yundha mengalihkan pembicaraan agar ia bisa terbebas dari persangkaan pria itu.


"Itu ide yang sangat baik. Aku suka. Kalau begitu ayok." Aril pun segera mengabiskan minumannya dan berdiri dari duduknya. Ia menuju ke arah kasir dan menggandeng tangan Yundha lagi keluar dari Cafe itu.


Sementara itu, di tempat Dewa tadi duduk. Ia langsung kaget karena tidak menemukan Yundha lagi di tempat itu. Padahal ia hanya menerima panggilan telepon dari seorang sahabat selama beberapa menit.


"Lho, tadi ada di sini kok." Yudhi yang menjawab karena memang ia melihat sang adik lagi duduk sendiri di kursi itu.


"Kalau gitu aku cari dulu ya, aku cuma gak lihat menelpon beberapa menit, pasti belum jauh dari tempat ini." Dewa pun segera berlari ke arah ruang operator untuk menghemat waktu.


Mencari satu orang di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu tidaklah mudah bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, makanya ia harus mencari jalan pintas.


"Sialan!" geram Dewa saat melihat pria yang bersama dengan istrinya saat ini adalah Aril Oesman yang sangat dicintai oleh istrinya itu.


Dewa yang melihat rekaman CCTV itu langsung keluar dari ruangan operator dan memberinya beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasih.


Setelah itu ia segera berlari kearah Cafetaria yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Dari jauh ia melihat Aril dan Yundha keluar dari tempat nongkrong di mall itu dengan perasaan yang sangat kesal.


Sebenarnya ia hanya ingin melihat dari jauh saja tapi sayangnya hatinya tidak baik-baik saja. Ia kesal dan juga cemburu.


Langkahnya ia percepat sebelum dua orang itu menuju eskalator dan menuju ke arah lantai atas pusat perbelanjaan itu.

__ADS_1


"Maaf ya," ucapnya seraya melepaskan genggaman tangan Aril dan menggantikannya menggenggam tangan perempuan itu.


"Kamu?" Aril dan Yundha saling bertatapan dengan wajah kaget.


"Kenapa? Kaget ya?" tanya Dewa dengan wajah santainya. Ia bahkan menggenggam erat tangan istrinya itu tanpa peduli pelototan mata indah perempuan cantik itu.


Yundha menelan salivanya kasar dan mengikuti saja kemana Dewa membawanya. Sedangkan Aril hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Keinginannya untuk mendapatkan perhatian lagi dari Yundha sepertinya harus ia lupakan untuk sementara waktu. Pria yang bernama Dewa itu benar-benar tak bisa membiarkan Yundha longgar sedikit saja.


"Kita pulang!" ucap Dewa dengan tegas. Ia tidak suka melihat istrinya berkeliaran di Mall dengan pakaian yang sangat santai seperti itu. Ia baru menyadari kalau istrinya itu hanya menggunakan kaos dan juga celana pendek selutut.


"Aku gak mau pulang. Aku mau disini saja!" sentak perempuan itu dengan keras hingga tangannya terlepas.


"Dengarkan aku atau aku akan membuatmu sesak nafas di tempat ini!"


"Cih! Kamu pria mesum dan hanya suka melakukan hal seperti itu!" Cibir Yundha dengan sangat kesal.


"Apa kamu ingin aku membuktikannya di depan pria menyediakan itu?" tanya Dewa berbisik seraya merengkuh pinggang istrinya agar semakin dekat dengannya.


"Dan apa kamu ingin aku melakukan sesuatu padamu lagi pak Dewa yang terhormat?" balas Yundha seraya mengarahkan pandangannya ke arah bawah pria itu.


"Lakukan saja lagi kalau kamu berani?!" ucap Dewa dan langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan memanggulnya di atas pundaknya bagaikan karung goni.


"Hey turunkan aku!" teriak Yundha tapi Dewa tak perduli. Ia terus saja melangkahkan kakinya keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan tatapan aneh semua orang yang melihat mereka.


Aril yang masih berada tak jauh dari mereka merasakan dadanya sesak. Ia tidak suka melihat pemandangan itu.


Dan sekarang ia merasa kalau pernikahan ini mencurigakan. Tidak mungkin pengantin baru seperti mereka berlaku bagaikan kucing dan tikus.


"Aaargh!" Yundha mengeluh sakit pada perutnya saat Dewa menurunkannya di dalam jok mobilnya.


"Ada apa sayang?" tanya Dewa khawatir. Ia jadi merasa bersalah pada istrinya itu karena melakukan hal yang cukup berbahaya untuk janin yang ada di dalam kandungan sang istri.


"Perutku sakit! ini gara-gara kamu aaargh!" Yundha berteriak kesakitan hingga pria itu pun langsung membawanya ke rumah sakit.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2