Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 258 Ternyata Memang Cantik


__ADS_3

David pun keluar dari apartemennya menuju sebuah sebuah toko serba ada ya terdapat pada lantai satu bangunan berlantai puluhan itu.


Dua pak pembalut dengan merk berbeda dan juga beberapa lembar Panty ia masukkan kedalam keranjang belanjaannya sesuai petunjuk seorang pelayan toko yang ia mintai tolong. Ia berharap yang ia beli itu sudah cocok dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Revalda.


Tiba di depan kasir, ia mendapatkan perhatian besar dari para pembeli yang sedang antri. Terutama dari konsumen perempuan. Mereka ternyata banyak yang mengenalnya meskipun ia adalah seorang tetangga yang tertutup.


"Pak dosen kok belanjanya bikin kita-kita traveling ya?" ucap salah seorang tetangga unitnya yang memang cukup supel dan kadang terlalu agresif.


David tidak menjawab tapi hanya tersenyum tipis. Malu, perasaan itu yang ia rasakan tapi ia berpura-pura cuek. Hanya sehari ini ia menjadi korban gadis itu selanjutnya ia berharap ia tidak akan membantunya lagi.


Setelah itu ia segera pergi dari tempat itu dengan langkah cepat. Ia sungguh takut ada yang mencurigainya membawa seorang gadis.


"Nih pakai. Semoga saja cocok," ucap David seraya memberikan satu kresek belanjaan kebutuhan mendesak pada gadis itu.


"Makasih banyak ya pak, kebaikan bapak ini benar-benar tanpa tanda jasa," balas Revalda dengan senyum termanis yang ia punya. Lesung pipinya langsung nampak sangat kentara di wajahnya yang cantik.


Deg


David merasakan sesuatu terjadi pada hatinya. Tiba-tiba ia ingat seseorang yang mempunyai senyum dan lesung pipi yang sama.


Bagaimana kabar gadis kecil itu ya sekarang?


Brak!


Pria itu tersentak kaget dengan bunyi pintu kamar mandi yang ditutup dengan sangat keras oleh Revalda.


"Dasar gadis badung!" gerutunya kesal karena berhasil keluar dari lamunannya tentang seseorang yang selalu ada di dalam hatinya.


Revalda sendiri tidak peduli dengan gerutuan pemilik apartemen itu. Ia gerah dan lelah telah membersihkan ruangan pria itu. Jadi saat ini ia sedang menikmati waktunya yang sangat menyegarkan di dalam kamar mandi.


โ€‚Hari ini adalah hari pertamanya kedatangan tamu bulanan ditambah lagi aktivitasnya yang cukup padat hari ini di luar ruangan dengan cuaca yang cukup panas.


Mengguyur tubuhnya dengan air dingin seraya mencuci celananya yang dipenuhi banyak noda adalah hal yang sangat menyegarkan baginya. Ia sangat menikmati bermain-main dengan air dan juga busa sabun layaknya anak kecil yang sedang mandi dibawah hujan.


"Anak itu mandi atau ngapain sih?"ucap David seraya mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Ini kan udah larut. Pulangnya nanti gimana itu?" gerutunya lagi dengan perasaan kesal. Tak lama kemudian gadis itu pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sudah sangat segar.


Pakaian yang ia pakai tadi siang masih ia gunakan karena tak punya pakaian ganti. David yang sejak tadi uring-uringan tak jelas kini menunjukkan wajah kesalnya lagi.


"Kamu mandi atau ngapain sih lama banget?"


"Aku mandi sambil nyuci pak. Sekaligus jadi cleaning service. Kamar mandi bapak tuh kotor ya. Gak pernah dibersihkan ya?!" Revalda membalas dengan wajah yang sama kesalnya.


"Eh, sembarangan kalo ngomong. Aku tuh punya petugas kebersihan. Hari ini aja dia gak datang. Cuma bersihkan sedikit aja lagaknya udah kerja besar."


"Ish!" Revalda mencebikkan bibirnya. Gadis itu pun segera menghampiri pria itu kemudian merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat manis bagaikan anak kucing yang sangat butuh perhatian.


"Makasih banyak ya pak, udah bantuin aku sepanjang hari ini. Sekarang aku mau minta makan. Aku lapar banget," ucap Revalda dengan mengedipkan matanya menggemaskan.


David kembali merasakan dadanya berdebar. Gadis ini kenapa jadi sangat cantik sekali sih. Dan ya ampun, senyumnya bisa-bisa merusak kinerja jantungnya.


"Makan saja. Aku baru selesai masak karena nungguin kamu mandi," ucap pria itu Keuda mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hah? Yang benar pak?" Revalda melonjak kegirangan. Ia pun langsung berlari ke arah dapur dan segera membuka tudung saji yang ada di atas meja.


"Bapak gak ikut makan?" tanya Revalda seraya menatap wajah David yang juga sedang menatapnya. Saking asiknya ia sampai lupa pada sang tuan rumah.


"Kamu baru nawarin saat semuanya udah habis," jawab pria itu dengan wajah datar.


"Ah ya ampun. Maafkan aku pak. Lapar banget soalnya. Dan makanannya juga enak kayak masakan mama. Eh, aku buatkan mi instan saja ya pak, sebelum aku pulang."


David hanya bisa menghela nafasnya kemudian mengangguk. Gadis ini benar-benar tak punya urat malu sedikitpun. Sudah menghabiskan uangnya, makanan yang ia masak pun habis. Dan sekarang hanya ingin masak mie instan.


"Nah, ini dia mi instan rasa soto ayam plus telur. Silahkan dinikmati pak," ucap Revalda seraya menyajikan semangkuk mie di hadapan David.


"Ayo pak. Enak lho dimakan selagi hangat. Dan aku pamit ya pak.


"Heh! Enak saja. Kamu mau aku makan sendirian? Iyya kalau masakan kamu enak. Kalau tidak? Aku bisa menderita sendirian."


Revalda menghela nafasnya kemudian menatap penanda waktu di pergelangan tangannya. Waktu sudah sangat larut dan ia belum juga pulang. Semua orang di rumahnya pasti mencarinya.

__ADS_1


Handphonenya sejak tadi kehabisan baterai dan ia lupa menambah energinya.


"Baiklah pak. Aku temenin makan tapi bapak makannya cepetan," ucap Revalda kemudian duduk kembali di hadapan pria itu. Meja yang berada diantara mereka berdua dijadikan sebagai tumpuan untuk tangannya.


David tersenyum samar. Entah kenapa ia merasa sangat senang ada yang menemaninya makan malam itu. Ia pun memulai makannya dengan lahap meskipun hanya dengan semangkuk mi instan plus telur.


Di hadapan pria itu, Revalda terkantuk-kantuk dan akhirnya jatuh tertidur. David sungguh tak ingin membangunkannya. Pria itu dengan pelan mengangkat Revalda untuk tidur dengan nyaman di dalam kamar tamu.


"Apa dia nyaman tidur dengan memakai penutup kepala seperti itu?" ucapnya pelan seraya menatap wajah cantik berjilbab yang sedang tertidur dengan lelapnya.


"Ah biarin saja lah. Nanti kalau aku buka dikiranya pelecehan lagi," ucap pria itu lagi kemudian memasuki kamarnya sendiri. Ia ingin tidur tapi kepikiran dengan keluarga gadis itu.


Apa ia dari keluarga baik-baik?


Apakah mereka tidak akan merasa kehilangan saat anak gadisnya belum pulang pada waktu yang sudah larut seperti ini?


David jadi khawatir dan tidak bisa tidur. Meskipun ia pernah menghabiskan waktu yang cukup lama di luar negeri tapi budaya Timur masih ia pegang dengan kuat.


Pria itu pun masuk kembali ke kamar tamu untuk membangunkan Revalda dan berpikir untuk menyuruhnya pulang.


Sebuah anugrah pun ia dapatkan dengan cuma-cuma. Tanpa sadar ia melihat Revalda sudah berpenampilan lain. Mungkin karena tidak nyaman tidur dengan pakaian tertutup, gadis itu sekarang sudah membuka hijab dan pakaian luarnya.


Gadis cantik dengan kulit putih mulus berada di depan matanya dan berhasil membuat inti dirinya berkedut. Revalda tidur dengan nyenyak dengan gaya tidur yang sangat memancing hasratnya sebagai pria normal.


"Ya Allah, cantik banget," ucapnya tak sadar.


"Astaghfirullah," ucapnya lagi saat menyadari kalau ia tak boleh menatap pemandangan Uru terlalu lama. Pria itu pun menutup pintu kamar sebelum ia menodai mata dan juga pikirannya.


"Kenapa aku jadi berpikir macam-macam ya?" ucapnya dengan perasaan yang sangat gelisah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading ๐Ÿ˜Š


__ADS_2