
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 petang. Saatnya bagi semua pekerja untuk pulang dari tempat mereka bekerja kecuali bagi mereka yang mendapatkan tugas di malam hari. Begitu pun halnya dengan para karyawan di Maher Group.
Selfina sedang mengirim pesan meminta izin pada Yudha kalau ia akan pulang ke rumah mama mertuanya sore itu. Maklum, suaminya masih akan tinggal dan melakukan banyak hal di perusahaan besar itu.
[Aku pulang ke rumah mama ya mas. Gak enak kalo sendiri aja di apartemen]
Tring
Pesan itu langsung mendapatkan balasan tanpa harus lama menunggu.
[Iya sayang. Aku mungkin akan pulang agak larut. Aku masih menunggu mereka membawa bukti untuk pertanggungjawaban dana itu.]
[Iya mas]
Singkat dan jelas. Begitulah balasan yang Selfina kirim untuk sang suami tercinta.
"Udah mbak?" tanya Maya setelah melihat perempuan itu menyimpan handphonenya ke dalam tasnya.
"Udah. Kenapa?" Selfina menatap gadis itu dengan tatapan tanya. Ia nampak heran karena sedari tadi Maya selalu ada di sekitarnya.
"Ya. Aku mau numpang lagi. Mobil aku masuk bengkel hehehe," jawab Maya terkekeh.
"Hem, baiklah. Ayok," ucap Selfina dengan senyum diwajahnya. Ia cukup senang karena ia sudah bisa lebih akrab dengan gadis itu meskipun sering bentrok kecil-kecilan juga.
Maya segera meraih tasnya kemudian mengikuti langkah Selfina.
Hari sudah sore dan perusahaan pun sudah nampak sepi. Hampir semua karyawan sudah pulang kecuali hanya beberapa yang tinggal termasuk beberapa manager divisi dan juga presiden direktur.
Mereka masih sibuk mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka perbuat di depan sang pimpinan perusahaan.
🌹
Setelah melaksanakan tugasnya di poly jiwa di rumah sakit hari itu Indy Rachman segera berkunjung ke ruang perawatan Yudhi.
Perempuan cantik itu ingin mengajak pria patah hati itu untuk makan malam di sebuah tempat yang sedang ramai dikunjungi oleh orang-orang di kota itu.
Ia mematut dirinya di depan kaca besar di dalam ruangan kerjanya untuk memeriksa penampilannya.
Ia tersenyum dengan dada berdebar.
Entahlah, ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa sangat ingin bertemu dengan pria patah itu dengan penampilan yang lebih baik daripada kemarin.
"Aaah, ada apa denganku, kenapa aku jadi sangat peduli dengan penampilan kalau cuma ingin bertemu dengannya?" tanyanya dengan pipi merona merah.
Indy menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat ingat kejadian semalam saat pria itu memeluknya tiba-tiba.
__ADS_1
"Oh ya ampun. Ada apa denganku? Kenapa aku jadi sangat baper seperti ini?" tanyanya lagi dengan perasaan malu.
Aku seperti seorang remaja yang baru mendapatkan perhatian seperti itu dari seorang pria.
Oh ya Allah. Kemana saja hatiku selama ini? Apa ini pertanda kalau aku mulai menyukainya?
"Ekhem, maaf dok. Saya permisi pulang dulu ya," ucap seseorang yang langsung membuatnya bertambah malu. Devi, asistennya tersenyum padanya di depan pintu.
"Ah iya Dev, hati-hati ya," balasnya dengan balas tersenyum.
"Iya dok. Mari, assalamualaikum." Devi segera menarik gagang pintu tapi langsung berhenti karena sang dokter memanggilnya.
"Dev?"
"Iya dok?"
"Kamu gak merasa aku aneh 'kan?" tanya Indy seraya menggigit bibirnya.
Devi tersenyum kemudian menjawab, "Gak dok. Lanjutkan saja. Terkadang kita juga butuh waktu untuk hati kita sendiri dan melupakan sejenak permasalahan orang lain," jawab sang asisten maklum.
Gadis itu yakin kalau sang dokter yang selama ini tak pernah menjalin hubungan kekasih karena terlalu sibuk dengan permasalahan pasiennya kini sudah nampak sedang jatuh cinta.
"Ah Devi, kamu kok mengerti banget diriku sih," ucap Indy dengan bibir mengerucut. Ia benar-benar jadi seperti remaja labil sekarang.
"Santai aja dok. Saya sudah lama jadi asisten anda. Dan sekarang waktu baik sedang berpihak padamu, jadi nikmati ini karena ini adalah anugrah," ucap Devi seraya tersenyum lebar.
"Biasa lah dok. Terkadang kalau kita sendiri yang mengalaminya kita yang jadi butuh untuk teman berbagi, lanjutkan dok. Dan semoga sukses."
"Makasih Dev. Eh, aku udah cantik belum?" ucap Indy seraya menunjukkan penampilannya. Devi langsung mengangkat kedua jempolnya.
"Cantik banget dok," ucapnya.
Indy tersenyum malu.
"Aku pulang ya dok. Bye."
"Bye."
Pintu pun tertutup dan tersisa Indy yang berada di dalam ruangan itu. Ia pun segera bergegas keluar juga untuk menuju ke ruang perawatan Yudhistira.
Entah kenapa ia merasa gugup. Dan ini sungguh tak pernah terjadi padanya.
"Bismillah," ucapnya sebelum membuka pintu ruangan itu.
Pintu ia buka pelan kemudian langsung memasuki ruangan itu. Tampak Yudhistira sedang berdiri membelakanginya dan menghadap ke jendela.
__ADS_1
"Assalamualaikum mas," ucapnya memberi salam. Yudhi berbalik kemudian tersenyum. Indy merasakan dadanya berdebar.
"Bagaimana kabar mas Yudhi hari ini?" tanyanya seraya melangkahkan kakinya menghampiri pria
"Alhamdulillah baik dokter, aku sudah sangat ingin pulang sekarang," jawab Yudhi.
"Beneran udah sehat lahir batin nih?" tanyanya lagi untuk memastikan pria itu benar-benar baik saja.
"Hemmm, iya tentu saja."
"Baguslah. Semua keluarga pasti senang mendengarnya," ucap Indy.
"Hemmm ya. Kalo dokter seneng juga gak?"
Indy terpaku kemudian berusaha untuk santai.
"Ah iya aku juga senang. Dan kalau boleh, aku ingin ngajak kamu makan malam, mau gak?" ucap Indy dengan debaran di dadanya yang semakin meningkat.
"Baiklah, tapi aku mau ganti pakaian dulu dokter, gak enak nih masih pakaian yang kemarin."
"Ah iya mas."
"Kita ke rumah dulu ya."
Indy setuju. Ia juga sangat ingin melihat keadaan rumah dan juga keluarga pria itu. Ya, sambil menyelam minum air lah istilahnya.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke rumah kediaman Merry MA.
"Silahkan duduk dulu ya dokter, aku mau ganti pakaian. Mama nanti kesini kok," ucap Yudhi saat mereka berdua sudah tiba di dalam rumah yang sangat besar dan mewah itu.
"Iya mas makasih," balas Indy kemudian mendudukkan dirinya di atas sebuah sofa di ruang tamu rumah itu.
Yudhi pun masuk ke bagian dalam rumah itu dan tak sengaja bertemu dengan Selfina. Untuk beberapa detik mereka berdua saling bertatapan.
Selfina tersenyum tetapi Yudhi langsung menunjukkan wajah ditekuk.
"Hai mas Yudhi," ucap Selfina menyapa. Yudhi tidak menjawab tetapi malah meninggalkan perempuan itu dengan perasaan kembali kesal.
Indy yang melihat kejadian itu langsung merasakan sesuatu yang tidak beres.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊