Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 116 Malam Istimewa


__ADS_3

Tring


Pintu lift terbuka. Yudha melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Ia akan kembali ke unitnya setelah malam tiba. Beberapa jam berada di luar mengurusi Yudhi dan juga ganti rugi pada dokter psikiater yang bernama Indy Rahman itu membuatnya pulang kemalaman.


"Tunggu!"


Rea berteriak agar pintu lift ditahan agar ia bisa masuk juga. Yudha pun menekan sebuah tombol agar perempuan itu bisa masuk.


"Makasih mas Yudha," ucap perempuan itu dengan nafas ngos-ngosan. Yudha hanya tersenyum tipis.


Pintu pun tertutup kembali. Hingga dua orang itu berada pada tempat yang sama tanpa ada penumpang lainnya.


"Lama tak berjumpa mas. Gimana kabarnya?" tanya Rea berbasa-basi seraya menatap pria itu dengan tatapan tak biasa.


"Aku baik seperti yang kamu lihat." Yudha menjawab dengan wajah datarnya.


"Gak nyangka aku, kita bisa bertemu ditempat ini lagi mas," ucap Rea. Yudha tak menjawab.


"Mas Yudha, sepertinya Tuhan sengaja mempertemukan kita lagi di tempat ini agar hubungan kita kembali baik seperti dulu, iyyakan?"


Yudha kembali diam dan tak ingin membalas basa-basi perempuan itu. Ia berharap kotak besi ini segera sampai di unitnya sendiri agar ia tidak lagi bertemu dengan perempuan yang pernah menipunya ini.


"Mas, kamu kenapa sih? Udah punya yang lain ya?" tanya Rea merajuk seraya mengikis jarak pada pria tampan itu. Ia bahkan berani memeluk Yudha tapi pria itu langsung mendorongnya dengan kasar.


"Jaga diri kamu ya! Aku sudah menikah dan mempunyai istri yang sangat aku cintai. Jadi hubungan kita di masa lalu sudah selesai. Mengerti?!" tatap Yudha dengan tajam.


"Benarkah? Oh tega banget kamu mas. Padahal aku yang ingin kamu nikahi dulu dan unit apartemen itu pernah kamu niatkan untukku seorang. Kamu jahat mas!"


"Aku dulu sangat kasihan padamu karena kamu mengaku tak punya keluarga di ibukota. Makanya aku ingin memberikan unit ini padamu. Tapi ternyata kamu pembohong besar."


Rea tercekat.


"Jadi sudahlah. Lanjutkan hidupmu dan aku juga akan melanjutkan hidupku. Aku mengenalmu seperti aku mengenal orang lain. Dan ya, aku rasa tak ada yang istimewa yang akan aku ingat tentang dirimu."


Rea merasakan dadanya sesak. Tenyata usahanya untuk kembali tak ada gunanya. Ia menyesal dan juga malu. Ia pun bergerak ingin mendekati pria itu lagi tapi tangan Yudha terangkat menandakan ia tak ingin disentuh atau didekati oleh perempuan itu.


Tring


Pintu terbuka pas di lantai 30 dan beberapa orang pun masuk termasuk Selfina. Yudha dan istrinya saling bertatapan tapi tak ada yang saling bicara.


Tring

__ADS_1


Pintu terbuka lagi. Rea keluar bersama yang lainnya. Perempuan itu sempat menatap Selfina dengan bibir mencibir.


Tinggallah suami istri itu berdua di dalam kotak besi itu dengan pikiran masing-masing.


"Kamu dari mana sayang?" tanya Yudha seraya menghampiri sang istri yang berjarak dengannya.


Selfina memandang suaminya dengan mata berkabut. Ia tidak menjawab tetapi hanya mengangkat tangannya yang sedang memegang kresek belanjaan yang berlogo sebuah mart yang terdapat di lantai 30 itu.


Yudha langsung meraih pinggang sang istri kemudian mengecup pelipisnya tapi Selfina sama sekali tidak bereaksi. Mereka berdua terdiam sampai kotak besi itu berhenti di lantai unit apartemen mereka.


Tring


Mereka berdua keluar tanpa bicara sampai kembali masuk ke dalam unit berlogo YA itu masih dalam diam. Yudha merasa ada yang aneh dengan sang istri. Selfina tak biasanya seperti ini.


"Sel, ada apa sayang? Kamu belanja apa saja?" tanyanya untuk memancing sang istri untuk bicara tapi perempuan cantik itu sama sekali tidak menjawabnya.


Selfina hanya sibuk di dapur dan mulai mengeluarkan bahan-bahan dari lemari pendingin yang akan dimasaknya malam itu.


"Aku bantuin ya sayang," ucap Yudha seraya mengambil beberapa tomat dari hadapan istrinya itu kemudian mencucinya di bawah kran.


Selfina tidak mengucapkan kata-kata apa pun. Ia hanya menyibukkan dirinya dengan bahan yang lain.


Dapur itu berubah sepi dan juga horor. Yang terdengar hanya bunyi pisau Selfina sedang memotong sayuran di atas talenan. Yudha tersenyum ia langsung memeluk istrinya dari belakang kemudian menciumi lehernya tapi perempuan itu sama sekali tidak bereaksi.


"Sayang, ada apa sih? Kamu kok diam saja?" tanya pria itu dengan suara manja. Selfina hanya menghela nafasnya tapi tetap tak bicara.


"Kamu gak ingin aku mengganggumu ya?" tanya Yudha lagi. Istrinya hanya diam dengan airmata yang sudah tumpah dari pelupuk matanya. Ia pun tak sadar terisak.


Akhirnya Yudha melepaskan pelukannya. Ia tidak mengerti tentang kesalahannya kenapa sang istri mendiamkannya seperti itu. Ia pun meraih pisau dan mengambil tomat yang ia cuci tadi dan mulai memotong-motongnya juga.


"Aaaaargh!"


Selfina menghentikan aktivitasnya dan langsung meraih jari sang suami yang sedang terkena irisan pisau. Ia mengulumnya ke dalam mulutnya sampai darah berhenti mengalir.


Yudha menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ia tersenyum bahagia karena sang istri masih sangat perhatian padanya.


"Apa senyum-senyum!" bentak sang istri dengan wajah kesalnya. Ia pun mencuci jari pria itu dengan air kemudian berucap, "Kalo gak bisa masak gak usah ikut bantuin. Harusnya mas diam saja. Nunggu sampai makanan selesai!"


Yudha masih menunjukkan senyumnya yang sangat manis. Meskipun respon istrinya tidak seperti dalam film-film romantis yang pernah ia nonton, ia tetap senang karena perempuan cantik itu setidaknya mau bicara padanya.


"Aku 'kan ingin jadi suami yang berguna sayang," ucap Yudha merajuk. Selfina mencibir. Hatinya tambah sakit.

__ADS_1


"Kenapa gak sama si Rea saja seharian? Kamu pasti akan lebih berguna disana!"


Yudha tersentak. Ia mengangkat alisnya sebelah dengan dengan wajah mengernyit.


"Rea? Kamu kenal perempuan itu juga?" tanya Yudha tak mengerti.


"Tentu saja. Ia datang ke unit ini dan mengakui kalau apartemen ini sebenarnya adalah hadiah darimu untuknya. Semua yang ada di sini adalah kesukaannya dan juga pilihannya!"


"Hah? Berani sekali perempuan itu datang kemari. Jangan percaya apa yang dikatakannya sayang. Tak ada yang benar dari mulutnya. Dia itu pembohong!"


Selfina terkekeh kesal.


"Lalu di dalam lift tadi. Apa yang aku lihat juga bohong?!"


"Itu hanya kebetulan sayang. Aku tak sengaja bertemu dengannya. Jadi kamu jangan salah paham okey?" ucap Yudha seraya meraih tangan sang istri dan mengecupnya.


"Aku tak percaya! Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini mas! Dan kamu sengaja mengurung aku di tempat yang seharusnya kamu berikan pada perempuan itu!"


Yudha membuang nafasnya kasar. Rupanya ini masalahnya hingga sang istri jadi marah-marah seperti ini dan mendiamkannya.


Semua perempuan tak akan mudah percaya jika tidak melihat bukti yang lebih akurat dan terpercaya. Feny, sang manager marketing Scandinavian Group tempat mereka tinggal selama ini harus ia undang ke unitnya untuk memberikan penjelasan pada sang istri.


Yudha tak ingin menjelaskan banyak hal, ia ingin perempuan itu yang akan menjelaskan semuanya pada Selfina. Pria itu pun meraih handphonenya dan menghubungi mbak Feny.


"Mbak Feny. Bisa ke unit aku sekarang gak?" ucapnya saat perempuan itu mengangkat panggilannya.


"Ah iya pak. Saya akan segera kesana," jawab Feny.


"Ngapain panggil mbak Feny?!" tanya Selfina dengan tatapan tajam pada sang suami.


"Untuk aku ajak makan malam. Jadi siapkan makanannya sekarang."


"Ish!" Selfina kesal tapi tetap melanjutkan acara memasaknya. Sedangkan Yudha langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Malam ini akan menjadi malam yang istimewa untuknya dan sang istri tercinta.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2