
Shania dan Gani Sanjaya saling berpandangan. Mereka merasakan dada mereka sesak. Mereka tak menyangka kalau keluarga baru sang putri tenyata mempunyai banyak masalah.
Di depan mata mereka sendiri fakta-fakta baru mereka dapatkan. Ada banyak hubungan yang rumit yang terjadi di dalam rumah besar itu.
Dan sekarang, mereka jadi sangat khawatir tentang nasib Selfina kedepannya. Untuk itu mereka segera ingin berpamitan dan membawa Selfina ikut serta. Mereka ingin menghindarkan sang puteri dari masalah di dalam keluarga itu sampai semuanya cukup tenang. Apalagi status putrinya itu juga belum bisa dipublikasikan. Mereka takut Selfina akan lebih banyak terluka lagi.
"Sayang, kamu antar mama sama papa dulu ya ke rumah Bu Asna," ucap Shania dengan senyum diwajahnya. Ia sungguh mempunyai maksud yang lain dalam hal ini.
"Memangnya mama dan papa udah mau balik?" tanya perempuan cantik itu dengan perasaan tak rela. Ia ingin kedua orangtuanya masih berada di rumah itu untuk menemaninya.
"Kita mau istirahat aja sih di rumah Bu Ardina. Besok pagi baru kita pulang. Dan kamu bisa istirahat juga sayang. Ini udah malam lho," ucap Shania membujuk.
"Tapi, aku 'kan harus selalu sama-sama dengan suami aku ma," ucap Selfina dengan perasaan yang mulai bimbang.
"Belum ada yang tahu hubungan kalian di sini sayang. Jadi sebaiknya kita cari tempat yang lebih nyaman dulu. Tunggu sampai suamimu selesai dengan masalah di keluarganya barulah kalian bisa selalu bersama."
"Tapi ma," ucap Selfina tak rela. Ia ingin bersama dengan pria yang sangat dicintainya itu di sini, di rumah ini.
"Selfina, dengarkan mamamu. Kamu juga harus istirahat."
"Kalau menurut saya sih pak. Lebih baik Selfina di sini saja. Itu lebih baik untuknya dan untuk suaminya," sahut Ardina yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan ketiga orang itu.
Gani dan Asna saling berpandangan.
"Di saat seperti ini, Selfina harus mendampingi suaminya melalui hal yang sangat rumit ini pak Bu," ucap Ardina lagi. Ia sesungguhnya khawatir kalau ada perempuan lain yang akan memberikan waktu untuk Yudha di rumah ini.
"Hum, baiklah. Kalau begitu jaga dirimu baik-baik. Kalau ada masalah, cepat hubungi kami," ucap Shania dengan perasaan yang belum rela.
"Hahaha, memangnya masalah apa ma? Aku kok kayak sedang berada di hutan sih?" tawa Selfina dengan sangat lucu. Ia merasa kalau kedua orangtuanya terlalu mengkhawatirkannya.
"Semua orang di rumah ini sangat baik padaku. Dan juga ada mas Yudha sebagai suamiku yang akan melindungi aku," lanjutnya dengan wajah serius.
Gani dan Shania kembali saling berpandangan seraya manggut-manggut.
"Kami terlalu sayang padamu nak makanya kami mengkhawatirkan kamu," ucap Shania seraya mengelus lembut lengan sang putri.
__ADS_1
"Iya ma, aku ngerti. Tapi 'kan aku udah punya suami dan papa juga sudah menyerahkan aku padanya. Jadi aku insyaallah tidak apa-apa kok disini."
"Ah iya. Baiklah. Kalau begitu. Kami pulang ya, sampaikan salam kami pada Bu Merry dan juga suamimu."
"Iya ma."
"Kamu jaga diri dan istirahat."
"Iyaa ma. Insyaallah aku bisa jaga diri kok," ucap Selfina dengan bibir yang hampir tertawa. Orang tuanya sepertinya sangat khawatir yang berlebihan padanya.
Setelah acara pamitan yang dipenuhi oleh nasehat dan wejangan dari semua orang.
Gani Sanjaya dan rombongan pun meninggalkan rumah itu tanpa bertemu dengan Yudha yang ternyata masih sangat sibuk dengan masalah Desy di kepolisian.
Ya, Yudha tak ingin menunda lagi urusan dengan perempuan jahat itu. Semuanya harus diselesaikan agar tak menimbulkan masalah baru lagi dalam keluarganya.
"Sampai jumpa lagi dan hati-hati ya," ucap Selfina seraya mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Ia pun melepas kepergian mereka semua dengan perasaan campur aduk.
"Kamu gak ikut pulang tuh sama kedua orangtuamu?!" tanya Sendy dengan tatapan tak sukanya.
"Ini 'kan bukan rumah kamu," lanjut gadis itu dengan bibir mencibir.
"Dasar sekretaris parasit tak tahu malu!" geram Sendy dengan tangan mengepal marah.
Selfina hanya mengibaskan tangannya dan segera memasuki kamar Yundha untuk beristirahat. Ia akan menunggu suaminya di kamar itu saja karena ia belum tahu kamar sang suami.
🌹
Acara pemakaman telah selesai. Meskipun begitu rumah mewah keluarga almarhum Maher Abdullah masih tampak ramai. Masih banyak keluarga dekat yang masih duduk menghibur keluarga yang sedang berduka.
Apalagi kesehatan Merry yang tiba-tiba drop karena masalah yang dibawa oleh Desy. Anak-anaknya jadi enggan untuk meninggalkan sang mama yang harus berada di atas ranjang saja.
Yudha yang baru saja pulang dari kantor polisi langsung menuju kamar sang mama. Ia begitu khawatir akan kondisi kesehatan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Mama, maafkan Yudha karena tidak memberitahu mama tentang hal ini," ucap sang putra seraya menggenggam tangan perempuan yang nampak lemah dan pucat itu.
__ADS_1
Merry menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan. Ia menatap putranya itu dengan tatapan kosong. Ia merasa bahwa lidahnya sekarang begitu kelu dan tak bisa untuk berbicara. Hanya cairan bening yang keluar satu sudut matanya yang mewakili perasaannya saat ini.
"Aku tidak tahu apa alasanmu kak, menyembunyikan hal besar ini," ucap Yudhi dengan wajah datarnya. Nampak kalau ia tidak suka dengan keputusan sang kakak.
"Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya lupa memberitahu semua keluarga di sini. Waktu itu Desy berani melakukan hal yang tidak pantas dilakukan seorang ibu pada putranya, dan itu sangat menjijikkan."
Yudha merasakan rahangnya mengeras mengingat bagaimana tidak tahu malunya perempuan itu pada dirinya.
"Untuk itu aku memaksa papa untuk menceraikan nya," lanjutnya seraya menggenggam tangan sang mama.
"Tapi?" Yudhi berusaha untuk menantangnya.
"Diam kamu Di! Apa yang aku dan papa lakukan sudah benar. Jadi kamu tidak perlu mendebat aku." Tegas Yudha pada sang adik. Ia tahu kalau Yudhi memang lebih dekat dengan Desy dan mungkin juga menyayangi perempuan itu.
"Yud, apa menurutmu kita ini sudah berbuat adil untuk Desy? Apakah kita tidak terlalu kejam padanya?" ucap Merry dengan dada sesak. Sungguh, ia takut kalau apa yang telah dilakukan oleh suami dan anaknya itu membuatnya takut.
"Ya Allah ma. Desy itu bahkan lebih kejam dari apa yang kita pikirkan. Ia yang telah meracuni otak papa hingga membuatnya melakukan percobaan bunuh diri pada waktu itu."
"Oh!" Merry tercekat. Ia semakin takut dan khawatir dengan kelangsungan keluarganya ke depan.
"Sekarang mama istirahat saja. Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Desy pantas mendapatkannya ma," ucap Yudha seraya mencium kening sang mama kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Obatnya udah diminum 'kan ma?" tanyanya pada sang mama untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Selfina yang membantu mama meminumnya. Dia gadis yang sangat baik." Merry tersenyum. Hatinya tiba-tiba menghangat mengingat perempuan cantik itu.
"Iya ma. Mbak Selfina memang sangat baik. Ia pantas untuk menjadi menantu mama," timpal Yudhi cepat. Ia tersenyum lebar dengan wajah yang nampak berubah sangat bahagia. Yudha menatapnya dengan wajah tak suka.
"Hahaha, kamu tepat sekali Di. Dan mama cuma berharap semoga saja Selfina juga mau menjadi menantu di keluarga kita," ucap Merry seraya memandang dua putranya bergantian. Yudha tersenyum begitu pula dengan Yudhi.
"Selfina sudah menjadi menantumu ma. Aku sudah menikahinya."
"Apa!?"
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan ketik komentar dong 🤭