
"Darimana saja kamu?!" tanya Yudha saat Selfina muncul di hadapannya.
Selfina hanya tersenyum meringis seraya menghampiri pria tampan itu. Ia ingin minta maaf karena tidak memberi kabar seharian.
"Udah telat tapi masih nyantai bergibah. Bukannya langsung masuk!" Pria itu mengomel bagaikan ibu-ibu yang kekurangan uang belanja.
"Maaf pak," ucap perempuan cantik itu dengan wajah menunduk. Ia lupa kalau sekarang adalah jam kerja. Pria itu adalah presiden direktur yang sangat disiplin. Jadi seharusnya ia tahu diri. Tak ada hubungan kekeluargaan dalam pekerjaan.
Dan seharusnya ia langsung masuk dan minta maaf.
"Sekarang jam berapa? Ada banyak pekerjaan yang seharusnya kamu kerjakan tapi apa yang kamu lakukan?! Udah telat tapi gak ngerasa lagi!"
Mata Selfina berkaca-kaca. Ia sedih karena suaminya benar-benar sangat marah hanya karena ia terlambat beberapa puluh menit.
Perempuan itu pun menatap sang presiden direktur kemudian membungkukkan badannya hormat.
"Maaf pak. Saya salah. Saya sudah minta maaf, jadi kalau ada sanksi silahkan saja bapak kasih tahu saya;" ucapnya dengan suara rendah.
"Apa?! Semudah itu kamu minta sanksi? Kamu belum jawab pertanyaan aku, dari mana saja kamu mbak Selfina?! Bermalam dimana kamu semalam hah?!" Yudha berdiri dari duduknya dan menghampiri perempuan yang telah dinikahinya itu. Ia kesal karena semalaman menunggu tanpa ada kabar dari sang istri.
Selfina mengepalkan kedua tangannya. Ia juga mulai kesal diberondong pertanyaan yang sangat banyak seperti itu.
"Saya dari-" Belum juga selesai ia bicara, pria itu langsung membentaknya.
"Mana handphone kamu!" titah Yudha seraya menengadahkan tangannya didepan wajah cantik perempuan itu. Untuk sepersekian detik Selfina tampak melongo.
"Kenapa? Ayo berikan handphone kamu!" Pria itu mengulang perintahnya dengan wajah datar. Selfina tidak menolak, ia pun membuka tas yang sedang dibawanya dan memberikan benda yang diminta oleh pria itu. Matanya berkaca-kaca karena menahan emosinya.
"Kamu simpan nomor aku atas nama siapa di dalam daftar kontakmu ini?" tanya Yudha sambil menggulir-gulir layar handphone itu dan tidak menemukan namanya.
"Si Raja Gombal."
"Hah? Apa?" Wajah Yudha langsung nampak sangat kaget. Ia menatap sang istri dengan bibir berkedut. Ia sedang berusaha mati-matian menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Asal kamu ya! Memangnya sejak kapan aku menggombal mu!"
Selfina hanya mendengus.
"Lihatlah, kamu bahkan memblokir nomor aku. Mau kamu apa sebenarnya? Pekerjaan gak akan bisa lancar kalau kamu main blokir seenaknya begini."
__ADS_1
Yudha berucap setelah membuka status blokir pada namanya di dalam handphone milik istrinya itu.
"Karena bapak mengesalkan! Kembalikan handphone aku!" Kesal Selfina dan langsung meraih benda pipih itu dan segera kembali ke mejanya. Akan tetapi pinggang rampingnya langsung diraih oleh sang presiden direktur.
"Kamu sengaja bikin aku tambah kesal ya?" ucap Yudha dengan tangan semakin merapatkan tubuhnya pada sang istri.
Yudha langsung mencium pipi kiri dan kanan perempuan cantik itu kemudian berucap, "Aku juga sangat kesal padamu Sel, kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya aku semalaman sayang. Aku takut terjadi hal buruk padamu."
Selfina terisak.
"Kamu mengabaikan aku pak presdir. Pekerjaan kamu lebih penting daripada aku, hiks."
"Hey, maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tentu saja kamu bermaksud seperti itu. Aku tidak penting dan hanya prioritas yang kesekian kalinya!" balas Selfina dengan nada tinggi.
"Ya Allah Sel. Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih sayang. Bagiku kamu spesial dan nomor satu di hatiku. Kamu harusnya menegur aku Sel, aku memang seringkali lupa diri kalau sudah bekerja sayang. Tapi kamu gak harus pergi begitu saja dan tidak memberi kabar," ucap Yudha dengan tatapan lurus ke dalam mata istrinya yang penuh airmata.
"Kamu mana peduli! Kamu bekerja serius sekali! Aku kamu abaikan seperti aku tidak berada di dalam ruangan ini. Aku tak lebih seperti benda yang tidak diharapkan!" balas Selfina sengit.
"Dan tadi apa? Kamu perlakukan aku seperti apa?! Sudah! Aku hanya karyawan yang tidak tahu menghargai waktu. Sekarang aku ingin bekerja. Kita tak ada hubungan apapun kecuali hubungan karyawan dan juga pimpinan!" lanjut Perempuan itu masih dengan emosi di dadanya.
"Bapak yang selalu bikin aku kesal! Lepaskan aku! Aku mau bekerja!" balas Selfina dengan berusaha memberontak. Air matanya sudah mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Baiklah. Kalau kamu ingin bekerja. Silahkan!"
Yudha pun melepaskan rengkuhan tangannya pada sang sekertaris. Tubuh mereka berdua terpisah.
Selfina menyusut airmatanya dengan dada sesak. Ia pun pergi ke mejanya dan mulai membuka buku agenda kecilnya. Ia membacanya sekilas kemudian melanjutkan membuka laptopnya.
Huffft
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Kalau ia sedang kesal seperti ini mana bisa ia bekerja dengan baik.
Sementara itu Yudha hanya menatapnya dengan tangan terkepal. Pria itu kembali ke mejanya untuk melanjutkan memeriksa beberapa berkas yang belum ia selesaikan kemarin gara-gara istrinya itu juga.
Ruangan itu langsung berubah sepi. Tak ada suara samasekali kecuali bunyi kertas dan juga bunyi keyboard Selfina yang sedang beradu dengan jari lentiknya.
Tangan mereka sibuk bekerja tapi hati dan pikiran mereka berdua sama-sama berada pada satu titik. Mereka berdua merasakan perasaan aneh yang sangat menyiksa.
__ADS_1
Yudha meraup wajahnya kasar. Ia merasakan emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Ia lalu melemparkan beberapa map yang ada ditangannya hingga menimbulkan suara yang cukup ribut.
Brakk
Selfina mengangkat wajahnya kemudian memandang pria itu yang nampak kelihatan kesal. Selfina berusaha untuk abai dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Meskipun begitu ia tetap melirik sesekali.
"Pergilah ke tempat ini!" titah Yudha seraya meletakkan secarik kertas di atas keyboard Selfina. Perempuan itu mendongak dan melihat kalau sang presiden direktur sudah berada di hadapannya.
"Apa ini pak? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan?!" tanya Selfina seraya membaca kertas itu. Secarik kertas yang berisi sebuah alamat apartemen mewah di kawasan elite kota itu.
"Ya, pergilah kesana. Aku akan segera menyusul. Kita akan meeting di tempat itu."
"Sekarang Pak?"
"Iya, sekarang!"
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan aku yang banyak ini pak? Bukankah bapak juga tidak ada agenda di luar hari ini?" Selfina bertanya lagi dengan wajah bingung.
"Kamu banyak sekali pertanyaan. Kamu benar-benar ingin dapat surat peringatan lagi ya?!"
"Ah tidak pak. Baiklah, Aku akan segera berangkat." Selfina langsung berdiri dari duduknya dan membereskan semua barang-barangnya. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.
Yudha juga melakukan hal yang sama. Ia merapikan semua berkas yang ia kacaukan tadi dan juga meninggalkan ruangan kerjanya.
"May. Aku tidak akan kembali sampai beberapa hari ke depan. Jadi kamu simpan saja berkas di mejamu."
"Ah iya pak. Trus bagaimana dengan sekertaris bapak. Apa ia juga tidak akan masuk kerja?" tanya Maya penasaran.
"Yah. Begitulah. Ada hal penting yang harus kami kerjakan di luar."
"Baiklah pak. Semoga sukses." Yudha tersenyum kemudian segera meninggalkan tempat itu.
Pria itu harus berada di belakang mobil istrinya untuk memastikan perempuan itu tidak kesasar.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1