
"Mbak Sel, terimakasih banyak ya, udah bantuin saya mendapatkan semua ini," ucap Yudhi dengan tangan memperlihatkan beberapa barang yang diminta oleh Yudha sang kakak.
"Sama-sama. Ini 'kan tugas saya, jadi gak usah sungkan pak," jawab Selfina tersenyum. Kembali lesung pipi gadis itu terpampang jelas di mata Yudhi dengan sangat cantik.
"Gak usah panggil saya bapak lah. Kesannya ketuaan. Kalau sama kak Yudha sih wajarlah dia kan pimpinan tertinggi di sini," ucap Yudhi tersenyum dengan dada berdebar.
Untuk sekian lama ia merasa sudah mendapatkan seseorang yang sangat cocok untuk dirinya. Seorang gadis yang mampu membuat dadanya berdebar tak karuan seperti ini.
"Iya deh," ucap Selfina seraya mengatur kembali beberapa barang yang sudah berpindah dari tempatnya gara-gara mencari peninggalan Maher Abdullah yang dibutuhkan oleh Yudha.
"Jadi kamu bisa manggil saya mas Yudhi kalau kamu tidak keberatan," ucap Yudhi dengan tatapan tak lepas dari Selfina yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya deh mas Yudhi." Selfina mengiyakan saja apa kemauan dari pria itu.
Yudhi tersenyum. Rasanya mereka sudah jadi begitu akrab sekarang.
"Eh mbak Sel, kok saya pikir-pikir Kak Yudha itu curang banget ya," ucap Yudhi lagi dan berhasil membuat Selfina menghentikan aktivitasnya.
"Curang kenapa?" balas Selfina dengan wajah penuh tanya.
"Curang lah mbak. Masak dia gak pernah bilang kalau punyak sektretaris cantik kayak mbak Selfina," jawab Yudhi.
"Hahaha, kamu suka asal juga ya kalau ngomong," ucap Selfina seraya tertawa dan mengibaskan tangannya.
"Jangan ketawa mbak. Ini fakta lho. Mbak Selfina memang sangat cantik. Saya saja sampai gak bisa ngomong apa-apa lagi nih."
"Ya udah terimakasih banyak pujiannya. Sebenarnya bukan kamu saja sih yang puji saya seperti itu," ucap Selfina dengan hati yang masih terasa geli.
Ia tak mau termakan gombalan lagi. Keturunan Maher Abdullah sepertinya memang suka sekali menggombal perempuan.
Dan ia merasa kalau cukuplah Yudha yang suka mempermainkan perasaannya. Ia tak mau lagi oleh pria lainnya.
Eh?
__ADS_1
"Oh, jadi udah banyak ya mbak? Ya wajarlah, 'kan mbak Selfina memang sangat cantik."
"Iya mas Yudhi. Tapi kamu mau tahu gak, kalau kamu adalah orang ke seribu yang mengatakannya, hihihi." Selfina semakin berani bercanda. Ia pikir Yudhi pasti bisa jadi teman yang menyenangkan.
"Apakah termasuk kak Yudha juga?" tanya Yudhi dengan tatapan menelisik.
"Gak. Kakakmu itu menyebalkan!" ucap Selfina dengan ekspresi yang sangat lucu.
"Tapi ini rahasia kita, kamu gak usah bilang padanya," ucapnya lagi dengan suara rendah bagaikan bisikan. Seolah-olah ini adalah rahasia negara yang harus dijaga baik-baik.
"Oh pantas saja mbak gak pernah dibawa ke rumah," gumam Yudhi dengan wajah yang nampak berpikir. Ia mulai berasumsi kalau kakaknya sengaja menyembunyikan gadis cantik ini dari dirinya.
Siapa yang tidak suka dengan Selfina? Kakaknya pun pasti suka. Dia gadis cantik dan juga sangat menyenangkan.
"Lho, emangnya ngapain juga coba saya dibawa ke rumah kalian," ucap gadis itu dengan tawa renyahnya. Yudhi langsung tersentak dari lamunannya.
"Memangnya saya ini asisten pribadinya?" lanjut gadis itu dengan bibir mencebik lagi.
"Ya gak sih, supaya kak Yudha memperkenalkan mbak sama saya," ucap Yudhi dengan senyumnya.
Yudhi langsung tertawa melihat ekspresi gadis cantik itu. Ia tak menyangka kalau sang sekretaris sepertinya sangat tak suka pada kakaknya.
Ia sangat senang karena itu berarti ia bisa menggunakan kesempatan ini untuk meraihnya dan menjadikannya pacar meskipun ia yakin kalau itu pasti akan membuat Yudha tidak suka.
"Kak Yudha emang suka ngeselin sih tapi kok banyak gadis yang suka ya?" pancing Yudhi dan langsung membuat ujung bibir Selfina kembali mencebik.
"Gak usah dibahas juga kakakmu itu. Bikin mood hancur saja."
"Lho? Emangnya dia ngeselin banget ya?"
"Banget tanpa kurang dari 100%."
"Hahahaha! Bagus. Saya sebenarnya adalah hatersnya. Jadi kita bisa bergabung. Saya selalu ingin mengambil apa yang ia suka juga. Karena pastinya itu pasti terbaik dan high quality," ucap Yudhi dengan seringai diwajahnya.
__ADS_1
"Apaan sih?" Kening Selfina mengkerut. Ia tiba-tiba merasa tidak nyaman sendiri. Ia pun berucap, "Eh, kamu udah selesai belum nih. Saya mau kembali bekerja soalnya. Maaf gak bisa nemenin lagi."
"Ah iya. Saya sudah selesai. Terimakasih banyak. Kak Yudha mungkin akan kembali beberapa hari lagi. Jadi saya akan sering datang untuk membantu mengawasi pekerjaannya."
"Oh ya?" ucap Selfina tak nyaman.
"Mbak Sel memang gak tahu kalau presiden direktur itu pergi jauh? Kok bisa sih? Secara 'kan mbak Sel ini sekretaris pribadi." Yudhi kembali ingin mengukur sejauh mana kedekatan gadis ini dengan kakaknya.
"Saya sudah minta izin gak masuk kerja beberapa hari yang lalu mas Yudhi. Dan mungkin pak Presdir sudah menghubungi saya lewat handphone tapi sengaja tidak saya aktifkan supaya bisa istirahat dengan baik," jawab Selfina dengan senyum diwajahnya.
Padahal beberapa hari yang lalu saya sengaja memblokir nomornya. lanjutnya dalam hati.
"Oh gitu ya?" ucap Yudhi balas tersenyum. Ia kembali merasa sangat lega karena keduanya memang tidak begitu dekat hingga kakaknya pergi dan tidak menitip pesan pada gadis itu.
"Kalau begitu Kak Yudha pasti sedang ingin menikmati bekerja sambil liburan dong ya, sampai ngirim saya kesini untuk melihat-lihat kondisi perusahaan."
"Ah ya, mungkin saja sih mas," ucap Selfina mencoba tersenyum santai. Meskipun hatinya tiba-tiba saja mencelos karena tidak nyaman dengan perkataan pria itu.
"Baiklah mas. Saya masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di meja saya. Mas Yudhi pasti tahu dong gimana pak presdir itu. Dia bisa mengunyah saya kalau gak kerja dengan baik hehehe," kekeh gadis itu untuk menutupi rasa kesalnya pada Yudha.
"Ah ya betul juga. Kak Yudha emang orangnya kayak gitu sih, maklum dia adalah anak sulung dari banyak saudara dari banyak ibu, hehehe," kekeh Yudhi.
"Baiklah, saya permisi. Dan tunggu saya besok, kita akan menikmati kerja yang santai tanpa dirinya."
Selfina hanya tersenyum saja. Dan melihat pria itu pergi dari ruangan kerja Yudha Abdullah.
Sementara itu, Yudhi pun pergi dari sana dengan berat hati. Ia sungguh masih ingin berada di dalam ruangan kakaknya dan melihat lebih dekat sang sekretaris.
"Saya harus segera membawa barang ini pulang. Dan kembali lagi sini. Aku akan mengajak gadis itu untuk makan siang, siapa tahu aku bisa dengan cepat memilikinya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan komentarnya dong para readers tersayang.