Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 80 Apa Solusinya?


__ADS_3

Shania duduk di bibir ranjang sang putri dengan perasaan sedih. Selfina sejak tadi hanya menangis saja sejak Yudha, sang bos pergi meninggalkannya.


"Gak usah bersedih seperti itu sayang. Kalau kalian berjodoh insyaallah akan dimudahkan oleh Tuhan," ucap perempuan paruh baya itu seraya mengelus lembut punggung sang putri.


Selfina hanya menghela nafasnya kemudian menyusut airmatanya.


"Gimana bisa mudah kalau papa dan mama justru mempersulitnya," balas Selfina masih terisak. Ia bangun dan menatap sang mama dengan wajah bersimbah airmata.


"Kami tidak mempersulit sayang. Kami hanya ingin melihat kesungguhan pria itu padamu. Dan kamu lihat apa yang dikatakannya?" Shania memandang sang putri dengan penuh perhatian.


"Apa yang dikatakan pak Yudha ma? Bukankah mama sendiri yang mengatakan kalau ia berani menyatakan untuk menikahiku maka mama akan setuju, tapi mana buktinya? Mama bahkan tak berani membelanya di hadapan papa, hiks!"


"Sayang, bukan seperti itu yang kami pertimbangkan. Bosmu itu hanya ingin menikahimu di bawah tangan tanpa ingin mengumumkannya pada khalayak. Lalu apa maksudnya ia melakukan itu?"


Selfina terdiam tapi masih terisak. Hatinya masih sangat sakit dengan perlakuan orangtuanya pada Yudha. Ia sangat mencintai pria itu tapi sepertinya mereka harus berjuang lebih keras lagi.


"Kamu tahu kenapa sebuah pernikahan harus diumumkan sayang?" tanya sang mama dengan suara yang sangat lembut dan pelan. Selfina tidak menjawab. Ia masih sangat sedih dengan apa yang telah terjadi.


Bagaimana Yudha pergi dengan perasaan yang sangat kecewa. Ia sungguh sedih mengingatnya.


"Kamu tidak ingin menjawab mama? Baiklah, mama yang akan mengatakannya, Sebuah pernikahan itu harus diumumkan dengan memberitahu semua orang terkhusus keluarga dekat supaya semua orang tahu hubungan dan status mereka. Kalau si pria dan si wanita sudah sah melakukan sesuatu yang halal dan juga tidak menimbulkan fitnah dan pikiran buruk dari orang lain." Shania berucap dengan tatapan lurus pada wajah cantik sang putri.


Selfina sekali lagi hanya terdiam. Ia membenarkan perkataan sang mama. Akan tetapi ia belum juga bisa menerima keadaan. Kembali ia terisak. Ia sangat sedih dan berpikir untuk menemui Yudha saja.


"Kami khawatir nak, banyak pria di luar sana ingin menyembunyikan pernikahan mereka karena mereka tidak ingin ketahuan punya status menikah. Lalu dalam hal ini siapa yang dirugikan? Wanita sayang. Mereka mungkin akan bebas menikah lagi dan lagi dengan cara yang sama," lanjut perempuan paruh baya itu dengan tangan mengelus punggung tangan Selfina. Ia benar-benar berusaha untuk tenang dan sabar dalam menyikapi permasalahan yang terjadi pada sang putri.


"Selfina, tidak ada orang tua yang ingin melihat putra atau putrinya menderita sayang. Kami tahu kalau kamu sangat mencintai pria itu tapi kita harus melihat sejauh mana kesungguhannya padamu."


"Mama, maafkan aku, tapi aku tidak mau berpisah dengan pak Yudha. Aku sangat hiks..." Selfina tak mampu melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Iya. Mama sangat mengerti sayang. Bersabar dan berdoalah semoga kalian berjodoh dan dimudahkan oleh Tuhan," ucap Shania dengan tangan memeluk sang putri.


"Lalu bagaimana kalau ia tak pernah datang lagi ma?"


"Kalau ia serius padamu, ia akan datang sayang. Jangan khawatir." Shania mencium pucuk kepala sang putri kemudian meninggalkannya sendiri di dalam kamar itu.


Selfina kembali menyusut airmatanya. Yudha mengatakan cinta saja sudah sangat luar biasa, lalu bagaimana kalau pria itu mundur? Apa ia akan menderita sendirian di sini?


"Mandi dan sholat lah," ucap Shania saat ia sudah sampai di depan pintu kamar.


"Iya ma. Terimakasih banyak," balas gadis itu kemudian tersenyum dengan hati yang masih sangat perih. Ia pun berdiri dari duduknya dan berniat melakukan saran dari sang mama. Berendam dengan air mawar kemudian sholat meminta petunjukNya.


Shania pun meninggalkan sang putri kemudian menemui suaminya yang sedang duduk menonton berita di televisi.


"Mas," ucapnya seraya mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


"Humm," jawab sang suami tanpa mengalihkan pandangannya pada berita yang sedang tayang pada layar kaca di hadapannya.


"Maksud kamu?" Gani Sanjaya balas bertanya. Ia memandang sang istri dengan wajah serius.


"Selfina mas. Saya kasihan lihat dia seperti itu."


"Sayang, ini demi kebaikan putri kita juga. Apa yang kita lakukan itu sudah benar. Lebih baik berhati-hati sebelum jatuh ke dalam lubang penyesalan."


"Tapi kita bahkan belum mendengar penjelasan dari pak Yudha kenapa ia ingin melakukan pernikahan dengan cara seperti itu," balas Shania dengan wajah serius.


"Lho, apa lagi alasan yang akan ia katakan kecuali supaya tak ada yang tahu hubungan mereka. Like father like son! Seperti ayahnya seperti itu pula putranya!"


"Mas! Kenapa kamu bicara seperti itu. Naudzubillah min dzalik." Shania terhenyak dengan tuduhan sang suami pada sang calon menantu.

__ADS_1


"Papanya suka menikahi banyak perempuan sayang. Lalu apa kamu mau putrimu yang cuma satu-satunya itu akan dibuat seperti itu juga? Dinikahi diam-diam dan tidak di tahu oleh orang lain. Tanpa status hukum yang jelas sehingga ia bebas dicampakkan!"


"Mas!"


"Sudahlah. Kalau ia berani bertanggung jawab maka ia pasti akan datang lagi. Jadi tidak perlu kamu pikirkan!" Gani langsung mematikan layar televisi dihadapannya dan pergi dari ruangan itu.


Shania tergugu. Ia membenarkan kata-kata suaminya tapi bagaimana dengan Selfina? Apa gadis itu bisa menerima semua ini?


Huffft


Sebuah tarikan nafas berat kini ia lakukan untuk memberikan dadanya sedikit kelonggaran.


Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Rasanya ia begitu pusing dengan apa yang terjadi dengan kejadian sangat tiba-tiba seperti ini. Ia pun berdiri dari duduknya dan menuju ke dapur.


Seorang pelayan ia panggil untuk menemaninya membuat kue kesukaan putrinya. Ya, hari ini ia akan menggunakan waktu yang berkualitas untuk Selfina dan berharap kesedihan gadis itu bisa sedikit terobati.


Sementara itu Yudha masih memandang dua orang suami istri yang sedang duduk santai di hadapannya itu dengan wajah kesal.


"Mau bantu saya gak sih bapak dan ibu Wijaya?"


"Lho, jangan marah-marah kayak gitu dong," ucap Praja tersenyum dengan tangan sibuk meremas jari-jari sang istri. Ardina ikut tersenyum dan membenamkan kepalanya pada bahu sang suami.


Yudha mendengus. Bagaimana ia tidak marah dan kesal kalau dua orang itu sedari tadi menunjukkan keromantisan dan bukannya menolongnya.


"Minum dulu dong pak Yudha," ucap Ardina menawarkan kembali minuman es jeruk yang masih tersisa di atas meja di hadapan mereka.


"Saya sudah meminum tiga gelas dan bahkan sudah ke toilet sebanyak dua kali. Tapi apa solusinya?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan komentar dong 🤭 supaya othor semangat updatenya 😂


__ADS_2