Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 120 Aroma Asem


__ADS_3

"Wah, itu adalah tuduhan yang sangat tidak menyenangkan di telinganya aku mas Yudhi," ucap Indy dan langsung melepaskan tangannya pada lengan pria itu.


"Maaf karena aku tidak sadar. Aku adalah seorang dokter dan tentunya bukan kupu-kupu malam seperti yang ada di dalam pikiran kamu," lanjutnya dengan wajah tenang.


"Masuklah untuk tidur, angin malam seperti ini tidak terlalu baik untuk seorang pasien seperti kamu," ucap Indy lagi dengan senyum diwajahnya.


Sesungguhnya, ia sudah tersinggung dengan ucapan pria itu padanya tapi ia berusaha untuk maklum. Ia mungkin salah dalam hal ini karena berani menyentuh pria patah hati dengan sangat tak sopan. Dan sekarang ia sangat malu pada profesinya.


"Untuk apa kamu mau repot-repot menjaga aku seperti ini? Ini sudah lebih dari tanggung jawab seorang dokter ataupun perawat," ucap Yudhi dengan tatapan lurus ke dalam wajah cantik sang dokter.


Indy tersenyum kemudian membalas tatapan pria itu.


"Aku ingin menemanimu di sini dan menjadi teman atau sahabat buat mu," jawab perempuan itu.


Yudhi terkekeh. Bibirnya terangkat sinis. Ia belum pernah menemukan ada sesembahan yang mau berteman dengannya dengan tulus.


"Katakan apa lagi maksudmu selain berteman karena Aku bukan sosok yang baik untuk dijadikan teman maupun sahabat."


"Aku tak punya maksud lain. Aku hanya sedang ingin menemanimu, itu saja sih. Karena kebetulan aku juga lagi sendiri kalau pulang ke rumah. Jadi, aku rasa tidak salah jika kita berdua saling mengobrol tentang banyak hal," ucap Indy memberikan alasan.


Yudhi terdiam dan tampak berpikir. Indy pun segera mengambil kesempatan untuk membawanya ke dalam ruangan. Ia meraih tangan pria itu agar masuk kemudian mengunci pintu menuju ke balkon.


"Makanlah sedikit lalu minum obatnya mas Yudhi," ucap perempuan itu seraya mengambil sebuah wadah baperware miliknya yang berisi makanan siap saji yang sudah ia pesan beberapa jam yang lalu.


"Aku tidak lapar dan tak ingin makan," balas Yudhi seraya mendorong makanan itu menjauh. Indy lagi-lagi tersenyum.


"Kamu harus makan mas, ada obat juga yang perlu kamu minum."


"Aku bilang tidak ya tidak! Percuma saja aku hidup kalau aku akan menyimpan sakit hati pada mereka."


Indy menghela nafasnya pelan. Sungguh, ia mulai tak sabar dengan pria menyedihkan ini.


"Tarik nafas dulu mas kemudian lepaskan," ucap Indy seraya memberikan contoh pada pria itu. Yudhi tanpa sadar mengikuti apa yang dilakukan oleh dokter cantik itu sampai ia merasa dadanya lebih lapang.


"Tahu gak sih, kalau mas Yudhi itu sangat spesial?" ucap Indy dengan senyum diwajahnya.


Yudhi hanya diam dan menatap lekat-lekat perempuan cantik itu.


"Mas Yudhi udah mapan juga sukses di karir ya 'kan?" Indy menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan. Ia duduk dihadapan pria itu dengan jarak yang begitu dekat.

__ADS_1


"Aku yakin mas Yudhi sudah berusaha dengan sangat baik hingga bisa sampai pada titik itu."


Yudhi diam menyimak.


"Bukan waktu yang singkat pastinya, kamu mendapatkan hal yang sangat menakjubkan seperti itu. Iyyakan mas?"


Yudhi mengangguk.


"Dan apakah perjuangan itu harus hancur dan luluh lantak hanya karena sebuah masalah kecil?" ucap Indy dengan tatapan lurus ke dalam mata elang Yudhi.


Kembali pria itu terdiam.


"Alhamdulillah mas Yudhi masih mendapatkan kasih sayang dari yang maha kuasa hingga masih bisa hidup seperti sekarang. Bukankah itu karena mas Yudhi spesial?"


Yudhi menundukkan wajahnya. Ia membenarkan kata-kata perempuan cantik itu.


Ya, ia seharusnya bersyukur karena masih hidup saat kecelakaan itu.


"Allah sayang sama mas Yudhi. Allah tahu apa yang seharusnya mas Yudhi lakukan. Allah ingin mas Yudhi hidup dan memberikan kebahagiaan pada banyak orang disekitar."


"Mas Yudhi punya potensi untuk itu. Mas Yudhi adalah orang yang baik. Mas Yudhi pasti mempunyai hati yang lembut dan juga penyayang."


Yudhi tanpa sadar menitikkan airmatanya. Iangsung memeluk Indy dengan tangis tertahan. Ia merasa telah jadi seorang pecundang dan tak dewasa. Dan ya, tentunya jadi makhluk yang tidak bersyukur juga.


Indy tersenyum kemudian mengelus punggung pria itu pelan dan lembut sampai Yudhi merasa lebih baik.


"Apa aku nampak sangat kekanak-kanakan dokter?" tanya Yudhi setelah melepaskan pelukannya pada perempuan itu.


"Gak kok mas. Wajar lah kita merasa bersedih jika kita ada masalah. Kita 'kan manusia biasa. Kita ini juga bukan malaikat yang tak punya nafsu."


"Tapi aku memelukmu seperti tadi. Aku meminta maaf dokter. Aku pasti jadi pasien yang sangat tak sopan."


Tiba-tiba ia jadi merasa sangat malu karena untuk pertama kalinya ia menyentuh perempuan lain selain mama dan juga adiknya Yundha seperti ini.


"Ah tidak apa mas. Santai saja." Indy kembali tersenyum meskipun ia juga merasa risih mendapatkan pelukan dari seorang pria dewasa seperti ini.


Dan yang jadi masalah adalah, kenapa dadanya jadi berdebar-debar seperti ini?


"Maafkan aku dokter," lirih Yudhi dengan wajah tak nyaman. Ia meremas tengkuknya dengan ekspresi yang sangat lucu bagi seorang Indy.

__ADS_1


"Untuk apa?" perempuan itu mengangkat alisnya sebelah. Ia ingin tahu kenapa pria itu jadi sangat lucu seperti itu.


"Aku memelukmu dan..."


"Dan apa mas?"


"Kamu membuat hatiku tenang. Apakah itu karena aroma tubuhmu?"


Indy berusaha untuk tidak tertawa. Ia yakin kalau pria itu sengaja ingin membuat lelucon. Ia justru merasa berbau sangat tak sedap saat ini. Ia belum mandi sore padahal seharian lagi banyak urusan di luar.


"Ah, jangan ngomong seperti itu mas. Aku tersinggung lho. Aku ini belum pulang ke rumah untuk membersihkan diri. Jadi aroma tubuh aku pasti sangat asem saat ini." Indy akhirnya tertawa seraya mencium aroma tubuhnya sendiri.


"Eh beneran lho. Aku suka," ucap Yudhi seraya meraih tubuh Indy lagi ke dalam pelukannya.


"Eh?"


Indy merasa kaget dan langsung mendorong tubuh Yudhi dengan kasar.


"Maaf mas."


"Ah iya. Aku yang harusnya minta maaf. Sekarang mana makanannya dokter. Aku ingin makan dan minum obatnya," ucap Yudhi dengan wajah berubah semakin malu. Entah kenapa ia jadi sangat baper dan tidak sadar melakukan hal tidak sopan seperti itu.


Indy tersenyum kemudian memberikan kotak makannya. Ia sangat senang karena pria itu sudah membuka dirinya.


Yudhi memakan makanan itu dengan sangat lahap. Rasa lapar baru terasa dan membuatnya menghabiskan makanan dalam kotak makanan berwarna biru itu.


"Mana obatnya dokter," ucap pria itu setelah selesai makan.


Indy tersenyum. Ia yakin kalau pria itu akan baik-baik saja kedepannya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Tabik, mohon dukungannya untuk karya baru othor nih. Mencoba peruntungan dengan ikut lomba event anak Genius.


__ADS_1


Jangan lupa mampir ya readers tersayang 😍


__ADS_2