Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 41 Sakit Dada Dan Hati


__ADS_3

Bukan hal yang sulit bagi seorang Samuel Richard untuk menemukan di rumah sakit mana Praja Wijaya saat ini sedang dirawat.


Pria itu mempunyai jaringan yang cukup luas di berbagai tempat, termasuk di rumah sakit dan di tempat-tempat tersembunyi lainnya di negara ini.


"Kak Sam yakin kak Praja ada di rumah sakit ini?" tanya Ardina dengan perasaan was-was.


"Tentu saja. Orang-orangku sudah menyisir semua rumah sakit di kota ini. Dan disinilah suamimu berada." Samuel Richard menjawab dengan sangat yakin.


"Kamu bisa masuk ke kamar VIP Anggrek no. 1. Akan ada orang kepercayaan aku yang menunggu kamu disana. Sementara aku akan mencari minuman dingin terlebih dahulu." Samuel menjawab seraya menunjuk sebuah mart yang ada di depan rumah sakit.


"Aku ikut sayang. Haus banget," ucap Prilya dengan cepat. Ia langsung bergelayut manja pada lengan kuat sang suami.


"Kamu bisa ke kamar suamimu sendiri 'kan dek?" lanjut perempuan itu seraya memandang Ardina.


Perempuan itu mengangguk. Ia tidak masalah pergi sendiri. Rindunya pada sang suami sudah setinggi gunung.


Ia pun langsung menjawab, "Iya kak. Aku gak apa-apa kok. Silahkan minum dulu. Aku udah gak sabar nih melihat keadaan kak Praja."


"Iya dek, kami akan nyusul kok. Black dan istrinya juga sementara menuju ke tempat ini kok. Jadi kita bisa ramai-ramai," timpal Prilya tersenyum.


"Eh, kamu mau kita hubungin ibu? Supaya dia tidak khawatir sama kamu."


"Boleh deh kak. Sampaikan kalau aku baik-baik saja dan sedang bersama dengan kak Praja."


"Iya. Nanti aku kasih tahu ibu." Prilya tersenyum.


"Eh, papa dan mama mertua aku juga. Mereka mungkin belum tahu dimana kak Praja dirawat," ucap Ardina saat teringat akan kedua orang tua suaminya.


"Iya. Kami segera menghubunginya juga."


"Iya deh, aku duluan ya kak," ucap Ardina dengan senyum lebar di wajahnya. Perempuan itu pun meninggalkan dua orang itu dengan langkah ringan.


Ia seperti sedang melangkah di atas angin. Sungguh, ia tak sabar bertemu dengan sang suami tercinta.


Sementara itu, di ruangan perawatan VIP Anggrek no.1.


Kamar yang sedang dituju oleh Ardina.


"Yusta, apa yang kamu lakukan?" tanya Praja saat merasakan tangan gadis itu mulai menyentuh kakinya dengan menggerakkan jari-jarinya yang lentik dan halus.


"Hey, hentikan Yus!" seru pria itu dengan perasaan tak nyaman.


Ia merasa sangat aneh dengan sentuhan itu jika dilakukan oleh seseorang yang tidak ada hubungan dengannya.


Selama ini ia tidak pernah disentuh oleh orang lain kecuali dari tangan istrinya sendiri.


"Yus! Stop!" teriak Praja dengan wajah mengeras marah. Keningnya sampai sakit karena otot-ototnya wajahnya menegang.


"Bisa gak sih kamu diam saja? Aku 'kan hanya ingin tahu apakah kakimu ini masih sakit atau tidak." Yusta rusak peduli.


Perasaan aneh yang ia rasakan memaksa tangannya semakin bergerak lembut mengelus betis pria itu skin to skin.

__ADS_1


Celana panjang pria itu sudah dilepas oleh perawat selama ia tidak sadarkan diri. Dan sekarang tersisa sebuah alat keteter pada alat vitalnya.


Dan tangan Yusta Yusuf semakin tak bisa dihentikan.


"Yusta! Berani kamu menyentuhku? Ku patahkan tanganmu itu!" geram Praja dengan tatapan membunuh.


"Hey! Ada apa denganmu Praja Wijaya?! Aku tidak melakukan apapun." Yusta tersenyum tipis. Ia tidak perduli dengan teriakan pria itu. Ia hanya ingin menyentuh pria itu saat ia sedang tak berdaya seperti ini.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka dan langsung membuat keduanya melihat ke arah pintu.


"Ardina?"


"Kak Praja? Assalamualaikum."


Perempuan itu langsung menghambur masuk ke dalam ruangan kamar itu dan menghampiri ranjang sang suami.


"Waalaikumussalam." Yusta dan Praja menjawab bersamaan.


"Alhamdulillah, kamu tidak kenapa-napa kak. Aku sangat khawatir." ucap perempuan cantik itu seraya mencium pipi kiri dan kanan suaminya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Ia mengabaikan tatapan tak suka Yusta Yusuf.


Praja ikut bahagia. Ia bahkan menahan tengkuk istrinya dengan tangannya yang terbebas dari jarum infus kemudian mengulum bibirnya dengan sangat lembut.


Yusta Yusuf mendengus kesal. Ia tak suka melihat pemandangan mesra itu.


Ardina langsung melepaskan tautan bibirnya dengan sang suami. Ia lalu mengarahkan pandangannya pada perempuan itu.


Ia menatapnya dengan perasaan tak nyaman. Matanya bergerak ke bawah dan melihat tangan perempuan itu sedang berada di balik selimut suaminya.


"Terima kasih banyak mbak Yusta. Dan ya, tangan mu sepertinya sedang salah tempat," ucap Ardina dengan nada tegasnya.


Yusta langsung menarik tangannya keluar dari selimut Praja.


Perempuan itu bergerak tak nyaman. Ia gelisah dan merasakan pipinya menghangat karena malu. Akan tetapi ia berusaha untuk tersenyum.


"Baiklah, karena kalian sudah bertemu aku akan segera pergi dari sini,' ucap Yusta dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Terimakasih banyak Yus." ucap Praja dengan tulus.


"Sama-sama."


Dan dua orang itu hanya bisa melihat punggung perempuan itu benar-benar pergi meninggalkan ruang perawatan itu.


"Kak, Alhamdulillah. Kamu ternyata selamat. Bagaimana keadaanmu?" Ardina menatap suaminya dengan tatapan penuhi perasaan.


"Seperti yang kamu lihat sayang. Allah masih menyayangiku."


"Tapi, apa ada yang sakit sampai tangan perempuan itu berada di dalam selimutmu?" tanya Ardina seraya membuka selimut yang menutupi tubuh bagian bawah suaminya.

__ADS_1


Praja terhenyak. Ia tidak bisa menjawab.


"Katakan kak. Apa ia menyentuhmu?"


"Tidak sayang. Ia hanya bercanda."


"Maksudnya apa bercanda dengan kelewatan seperti itu!!"


Mata Ardina melotot tajam pada suaminya meminta penjelasan.


"Sayang, aku sedang sakit. Tidak bisakah kamu menciumku saja dan tidak usah menatapku seperti itu?"


Praja berusaha untuk bercanda.


"Tidak! Aku tidak mau kalau kamu disentuh oleh orang lain apalagi dengan perempuan itu!" Mata Ardina masih menatap sang suami dengan tajam.


"Sayang, jangan marah dong. Kamu gak senang apa aku baik-baik saja."


"Aku gak suka dia seperti itu padamu kak!" Ardina masih marah dan cemburu.


"Aaargh, ya Allah ini sakit sekali!" Praja langsung berteriak kesakitan. Tangannya bergerak meremas dadanya dengan penuh drama.


"Ya Allah, kak. Mana yang sakit. Aku panggilkan dokter ya," ucap Ardina panik. Ia langsung memencet tombol hijau di atas head board ranjang suaminya.


"Assalamualaikum!"


Bersamaan dengan kepanikan Ardina, Alif Wijaya dan istrinya pun memasuki kamar itu bersama dengan Samuel Richard dan Prilya.


"Waalaikumussalam!"


Ardina menjawab dengan cepat. Matanya memandang beberapa orang yang baru datang itu dengan wajah yang tampak sangat khawatir.


"Papa mama, kak Praja mengeluhkan sakit di dadanya," lapor perempuan itu seraya mencium tangan kedua mertuanya.


"Waduh!" keluh Praja dengan suara tertahan.


Semua orang langsung menghampirinya tanpa sempat berbasa-basi.


"Ada apa nak?"


"Yang mana yang sakit?"


"Dada dan hatiku Ma."


"Eh?!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2