Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 138 Pria Mencurigakan


__ADS_3

"Permisi, ada karyawan cewek cantik dengan rambut lurus panjang gak di Cafe ini?" tanya Dewa pada seorang pelayan di Cafe itu.


"Ada mas. Tugasnya sebagai barista. Ada apa ya?" jawab sang pelayan dengan bertanya balik.


"Oh, kalau gitu aku kesana. Aku pengen minum kopi saja," ucap Dewa dengan mengulas senyum diwajahnya. Dadanya berdebar. Pantas saja ia tidak menemukan gadis itu di antara meja-meja ini, ternyata dia adalah seorang barista.


Pria itu pun berdiri dari duduknya menuju ke arah meja bar dimana sang barista cantik berada. Akan tetapi hatinya tiba-tiba mencelos karena gadis yang diinginkannya bukanlah gadis yang sedang berdiri di belakang meja bar itu.


"Mau pesan apa mas?" tanya Hilda saat Dewa sudah mendudukkan tubuhnya di depan meja bar itu.


Untuk berbasa-basi, akhirnya Dewa memesan minuman padahal ia sudah kehilangan moodnya.


"Aku pesan minuman andalan di Cafe ini mbak, tapi apa boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Dewa.


"Boleh mas silahkan."


"Ada karyawan cewek lain gak di Cafe ini yang cantik dengan mata indah trus rambutnya lurus, hitam, dan panjang sampai punggungnya?"


Hilda tampak berpikir lalu mengingat bahwa hanya Mbak Yundha yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Ia pun tersenyum kemudian menjawab," Yang ada manager Cafe ini yang punya ciri-ciri seperti itu mas."


"Oh gitu? Jadi bukan karyawan ya?' ucap Dewa tersenyum.


"Iya mas."


"Boleh tahu namanya siapa? Eh aku juga mau lihat fotonya jangan-jangan bukan itu orangnya lagi," ucap Dewa ingin memastikan kalau gadis itu adalah gadis yang ia cari.


Hilda yang sedang sibuk meracik minuman langsung memasang wajah serius. Ia menatap pria tampan di hadapannya dengan perasaan waspada.


Keluarga pemilik Cafe ini bukan orang yang suka memamerkan foto atau gambar mereka di sosial media. Mereka semua adalah orang-orang yang cukup tertutup untuk hal-hal yang berbau publikasi. Jadi ia tidak boleh sembarangan memberikan informasi tentang 3 bersaudara itu. Apalagi pria ini tampak mencurigakan dengan wajahnya yang kebarat-baratan.

__ADS_1


"Maaf mas. Kami tidak bisa sembarangan memberikan informasi tentang manager kami," ucap Hilda dengan cepat. Ia takut akan ada masalah kedepannya kalau ia sembarangan memberitahu informasi.


Dewa tersenyum kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar presiden pertama RI dan menyimpannya di atas meja.


"Aku hanya ingin tahu nama dan melihat fotonya. Apa ini tidak cukup?" ucap pria itu bermaksud memberi imbalan. Hilda tersenyum kemudian menolak uang itu.


"Maaf mas. Saya tidak berani," ucap gadis itu lagi dengan wajah tak nyaman.


"Dan ya, saya sedang bekerja, kalau mas mau minum silahkan duduk karena pelayan kami akan mengantarkannya ke meja yang telah tersedia," lanjutnya.


"Terima kasih banyak mbak atas pelayanannya yang kurang memuaskan ini!" ucap Dewa dengan sarkas. Nampak sekali kalau ia sangat kesal dan juga kecewa. Ia pun langsung pergi dari sana tanpa mau mengambil kembali uang yang telah disimpannya di meja itu.


Ia tahu kalau usahanya hari ini sepertinya sedang tidak direstui oleh alam. Seharusnya ia tidak membiarkan gadis itu pergi dan mengurungnya di apartemennya saja agar tidak mengalami kejadian seperti ini.


"Hil, siapa itu?" tanya Yudhi yang sejak tadi memperhatikan tingkah mencurigakan dari pria itu.


Hilda langsung berubah gugup karena pandangan Yudhi ada pada meja dihadapannya yang terdapat beberapa lembar uang ratusan.


"Trus uangnya? Apa itu sogokan?"


"Gak tahu pak. Disimpan begitu saja dan langsung pergi."


"Kamu bilang apa saja sama orang itu?"


"Dia tanya tentang ciri-ciri karyawan cewek yang mirip sekali dengan mbak Yundha pak. Trus saya bilang kalau yang dia maksud itu manager kami."


"Trus?"


"Dia minta nama dan fotonya."

__ADS_1


"Trus?"


"Saya curiga dan tidak memberitahunya."


"Lalu ia berani membayar kamu?"


Hilda mengangguk ragu.


"Mencurigakan!" ucap Yudhi dengan helaan nafas beratnya.


"Lanjutkan pekerjaanmu Hil!" lanjut pria itu kemudian meninggalkan meja barista itu.


"Trus uangnya pak?" tanya Hilda seraya menunjuk uang itu dengan matanya.


"Ambil saja. Itu rezeki kamu," ucap Yudhi dengan langkah tegap dan cepat ke arah pintu Cafe. Ia ingin bertemu langsung dengan pria itu.


"Oh sial!" ucapnya saat pria itu sudah melajukan mobilnya meninggalkan Cafe.


Sementara itu Dewa yang sedang berada di dalam mobilnya begitu sangat kesal tapi ia tetap berusaha untuk tenang.


"Aku pasti menemukanmu kemanapun kamu pergi," ucapnya menyeringai.


"Kamu tidak akan bisa bersembunyi dariku sayang."


Brumm


Ia melajukan mobilnya untuk pulang dan beristirahat. Ini sudah sore dan ia harus pulang karena mamanya sejak tadi menelponnya agar segera kembali.


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2